Semua demi Trem

by -

METROPOLITAN – Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor demi mewujudkan Trem sebagai salah satu moda transportasi utama di pusat kota.

Kajian dengan sejumlah pihak sambil menggandeng perusahaan tertentu berbasis transportasi rel dalam kota hingga melakukan kunjungan ke Belanda, merupakan sejumlah langkah yang diambil pemkot.

Belanda, 14-22 September 2019. Kunjungan ke Negeri Kincir Angin itu dilakukan demi studi kelaikan Trem yang bakal diterapkan di Kota Hujan.

Bahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Utrecht menawarkan kerja sama pemanfaatan 24 unit Trem, dengan harapan bisa membantu menyelesaikan permasalahan transportasi di Kota Bogor.

”Kunjungan ini untuk melihat secara langsung bagaimana dan seperti apa jika Trem berada di pusat kota. Jadi, kita ingin mempelajarinya,” terang Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, belum lama ini.

Selain sebagai moda transportasi penunjang LRT, Trem digadang-gadang bakal menjadi salah satu solusi transportasi, khususnya dalam jangka waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang.

”Trem ini nantinya akan dimanfaatkan untuk moda transportasi massal alternatif, berbasis rel dan bertenaga listrik di Kota Bogor,” tegasnya.

Sekadar diketahui, kunjungan Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, ke Provinsi Utrecht, Belanda, didampingi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Edi Nursalam serta Atase Perhubungan Kedubes RI untuk Belanda Mokhammad Khusnu.

Bukan hanya kunjungan ke Provinsi Utrecht, Belanda, Pemkot Bogor juga tengah melakukan sejmlah kajian terkait kelaikan Trem mengaspal di pusat kota.

Bahkan, pemkot menggandeng sejumlah pihak ketiga, seperti Managing Director Asia Pasifik Colas Rail Jerome Bellemin, Chief Executive Officer (CEO) Iroda Mitra Mirza Whibowo Soenarto hingga PT INKA di Jalan Yos Sudarso 71, Madiun, Jawa Timur.

Dewan Utamakan Program yang Ada Anggota DPRD Kota Bogor, Zaenul Muttaqien, angkat bicara mengenai hal ini. Menurut dia, Kota Bogor sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang Transportasi

Di antaranya amanat perda yang menjelaskan soal konversi angkutan umum dan rerouting yang hingga kini masih mandek. TransPakuan yang seharusnya menjadi salah satu moda transportasi andalan Kota Hujan idak ada kejelasan hingga kini dan tidak mampu melayani kebutuhan masyarakat dari segi transportasi.

Pria yang merupakan salah satu dewan senior ini menilai, Kota Bogor merupakan kota kecil yang sangat padat, baik oleh kendaraan pribadi, angkutan umum yakni angkot, transportasi online dan pengguna jalan lainnya.

Dengan adanya Trem, yang berbasis rel di jalanan, tentu ini akan menambah kesemrawutan kota. Ditambah luas jalan yang masih minim.

Penerapan Trem di Kota Hujan dinilai dapat menimbulkan sejumlah persoalan baru. Penempatan posisi rel Trem, halte pemberhentian, tempat penyimpanan dan lain sebagainya tentu harus dipikirkan.

“Lalu sekarang muncul lagi wacana Trem di Kota Bogor. Saya belum begitu paham pemikiran Pemerintah Kota Bogor yang mau wacanakan adanya ini. Kota Bogor itu jalannya segitu-gitu saja. Sudah diambil untuk pedestrian, sekarang mau diambil rel Trem di jalanan, nanti bagaimana jadinya,” bebernya.

Ia menjelaskan, berbanding terbalik dengan LRT yang sudah memiliki jalan sendiri di pinggir tol jadi tidak masalah dan tidak mengganggu transportasi lain.

“Kalau Trem butuh infrastruktur yang menunjang, karena itu semua tidak mudah. Pertama relnya, haltenya, lalu mau ngambil jalan yang mana, sementara jalannya segitu aja,” ujar pria yang akrab disapa ZM itu.

Ia menilai alangkah lebih baik pemkot bisa sedikit bijak dalam mengambil keputusan dan kebijakan.

Angkutan bus berukuran 3/4 sebagai salah satu moda transportasi paling cocok dan tepat digunakan di Kota Bogor. Terlepas dengan adanya sejumlah bantuan dari berbagai pihak.

“Kalau saran saya wujudkan dulu saja LRT, baru kita berbicara masalah transportasi di Kota Bogor. Sekarang permasalahan konversi angkutan saja tidak berjalan, Pemkot Bogor tidak sanggup menjalankan amanah perda sampai sekarang realisasinya mana, tidak ada. Jangan samakan Kota Bogor dengan di luar negeri,” terangnya.

Politisi Partai PPP itu menilai, sebelum Trem menjadi masalah atau menambah masalah lalu lintas dan transportasi, alangkah lebih baik konsep tersebut dimatangkan dulu.

Jangan terlalu ambisius dalam menerapkan kebijakan ini. Pemerintah harus memikirkan nasib masyarakat yang akan menjadi dampak dari kebijakan ini, khususnya mereka yang bekerja sebagai sopir angkutan umum.

“Lebih baik fokus menghidupkan TransPakuan yang sudah ada. Nanti sopir angkot mau dikemanakan. Dengan kota yang sangat kecil ini, saya rasa akan sulit dengan adanya Trem, akan tumpang tindih pasti di jalan raya. Apalagi jalan raya di Kota Bogor segini-gini saja. Masalah TransPakuan saja belum selesai, ini mau nambah masalah lewat Trem. Belum saatnya Trem ada di Kota Bogor,” pesannya.

Sementara itu, Pengamat Transportasi, Budi Arif, mengungkapkan, ada konsekuensi khusus jika Trem diberlakukan di Kota Bogor.

Terlebih, masalah kapasitas jalan yang relatif kecil dan sempit akan mempengaruhi kondisi lalu lintas jika hadir perlintasan Trem di tengah maupun pinggir jalan.

“Akan ada miss trafick (gangguan lalu lintas, red) nantinya. Soalnya Trem itu berada di tengah atau pinggir jalan raya, bukan di atas seperti monorel atau kereta gantung,” bebernya.

Budi juga mempertanyakan kondisi masyarakat nantinya jika akhirnya Trem akan beroperasi di pusat kota.

“Kalau Trem ada di Kota Bogor, masyarakat kita pasti tidak disiplin dalam berlalu lintas dengan kondisi seperti itu. Nanti Tremnya ditabrak motor lagi atau sebaliknya. Atau terjadi saling salip di jalan antara trem dengan kendaraan lain. Ini tentu harus dipikirkan dan dirumuskan bersama,” terangnya.

Untuk itu, ia berpesan kepada pemerintah agar mengkaji secara matang penggunaan Trem sebagai moda transportasi anyar Kota Hujan.

“Ketika Trem dipilih menjadi solusi transportasi penunjang LRT atau penerapan Trem sebagai moda transportasi pusat kota, ini harus berdasarkan kajian matang dari semua aspek. Plus dan minus semuanya harus dibahas. Hingga segala kemungkinan yang bakal terjadi nanti, mulai dari potensi terkecil dan lain sebagainya. Harus menyeluruh,” pesannya. (ogi/c/yok/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *