84 Ribu Pelanggan PDAM Jadi Korban Rel Ganda

by -

METROPOLITAN – Rencana proyek strategis nasional pembangunan rel ganda atau double track kereta api Bogor-Sukabumi terus ‘menelan korban’. Kali ini giliran pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan. Ada sekitar 84.000 pelanggan yang bakal merasa terganggu lantaran aliran PDAM tak lancar.

Untuk mengecek jalur pipa PDAM Tirta Pakuan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dijadwalkan bakal melalukan survei bersama dengan Pemerintah Pusat dan Balai Perkeretaapian Jawa Barat, Kamis (31/10). Sebab, setelah ada pertemuan beberapa waktu lalu di Bandung, ada ketidaksesuaian antara desain proyek milik Balai Perkeretaapian Jabar dengan peta jaringan milik Pemkot Bogor melalui PDAM Tirta Pakuan.

“Kami baru meminta supaya pemerintah pusat memperhatikan dampak-dampak dari proyek rel ganda Bogor-Sukabumi. Ada langkah-langkah yang akan mereka lakukan, sebab proyek ini proyek strategis nasional. Jadi nggak bisa karena ada dampak, ‘oh proyeknya nggak jadi’. Ya nggak bisa begitu juga, ” kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Mantan petinggi KPK itu melanjutkan, persoalan pemindahan atau pergeseran aliran pipa PDAM Tirta Pakuan saat ini masih didiskusikan dengan Pemerintah Pusat, Ditjen Cipta Karya serta Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Secara teknis, kata dia, dampak-dampak baru dihitung dan akan melalui proses penelitian lebih lanjut.

Dedie berharap persoalan tersebut segera bisa menemui titik terang, sebab sangat krusial dan menentukan pelayanan aliran air terhadap pelanggan PDAM Tirta Pakuan se-Kota Bogor. Sehingga harus ada langkah-langkah teknis lebih lanjut dan cepat.

“Secara teknis baru dihitung, dalam proses lebih lanjut. Itu masalah pelayanan kan, harus segera ada solusi, ” ungkap Dedie.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Deni Surya Senjaya sudah mendatangi tim Balai Perkeretaapian di Bandung, beberapa waktu lalu. Pihaknya pun sudah mendapatkan gambar desain dan potongan-potongan wilayah yang akan terkena dampak pembangunan, termasuk pipa sepanjang kurang lebih 920-an meter milik PDAM Tirta Pakuan.

Ada perbedaan antara peta milik PDAM Tirta Pakuan dengan rencana desain rel ganda, sehingga kepastian bakal ditentukan pada survei bersama pada Kamis (31/10) pekan depan.

Kami sadar itu proyek strategis nasional yang harus terealisasi. Makanya kepastian mana yang terkena akan kami lakukan survei bareng. Misalnya mana yang harus diperkuat, mana yang harus digeser, ” ungkapnya saat ditemui pewarta diruangannya, kemarin.

Apalagi, pihaknya tidak melakukan penganggaran untuk relokasi sarana prasarana pengaliran air. Sehingga harus ada kompensasi yang harus dibayar untuk melakukan relokasi pipa besar tersebut. Dalam hitungannya, pemindahan aliran air membutuhkan biaya sampai Rp90 miliar. Jumlah yang fantastis, lantaran pipa yang ada saat ini berupa pipa besar yang mengaliri lebih dari 70 persen pelanggan.

Paling besar dampaknya ke zona 3 dan 4 termasuk Istana Bogor. Artinya kalau pembangunan ini berdampak langsung dan harus ada relokasi pipa, pelanggan yang terganggu bakal mencapai 70 persen dari total pelanggan se-Kota Bogor. Intinya Deni mendukung program ini, namun tidak ada kesiapan anggaran.

Makanya nilai dan bentuk bantuan nanti mungkin ada kepastian setelah survei bersama. Yang jelas jangan sampai menganggu pelayanan dan nilainya harus sesuai. Juga dengan metode yang kami sarankan, yakni buat koneksi bersamaan terlebih dahulu, buat titik stasiun-nya. Jadi dampaknya bisa ditekan. Baru pemotongan pipa eksisting. Proses itu saja bisa sampai lima-enam bulan ya, ” tutup pria yang juga Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Bogor itu. (ryn/c/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *