Berawal dari Garasi Rumah, Kini Hadir di Setiap Mal

by -
SUKSES: Dea Valencia menunjukkan batik produksinya yang eksis di mal-mal Jakarta.

METROPOLITAN – Menjadi pengusaha muda dan sukses memang mimipi semua orang. Namun semua itu memerlukan perjuangan cukup panjang dan berat.

Seperti Dea Valencia yang sukses membangun bisnis batiknya, Batik Kultur, dari yang awalnya hanya dengan satu penjahit di sudut garasi rumah orang tuanya hingga kini memiliki 120 karyawan dan bermitra dengan lebih dari 200 perajin.

Dea menjadi sosok yang menginspirasi karena merintis bisnis batiknya dengan melibatkan penyandang disabilitas seperti tunarungu, tunawicara dan tunadaksa. Dea mengaku tidak pernah secara khusus mencari atau merekrut penyandang disabilitas tersebut.

“Berjalan natural saja. Begitu ada yang melamar kerja dari disabilitas, saya rekrut. Lalu yang tadinya ada 15-20%, sekarang malah bertambah sebanyak 50%, dari total karyawan saya adalah para penyandang disabilitas,” ungkap wanita 25 tahun itu.

Pemilik nama lengkap Dea Valencia Budiarto itu mulai berbisnis batik sejak usia 17 tahun. Saat itu, Dea yang mengikuti program akselerasi sejak SD sudah duduk di bangku kuliah semester empat Universitas Multi Media Nusantara.

“Awal mulanya aku berbisnis batik dengan menjual koleksi kain batik punya ibu aku. Dari hasil penjualan tersebut digunakan untuk modal bisnis aku sendiri,” katanya.

Penyandang gelar Sarjana Komputer itu mendirikan brand Batik Kultur dengan memproduksi kain batik lawas yang dimodifikasi menjadi busana untuk sehari-hari. Dengan konsep sederhana itu, Dea meraih kesuksesan.

Kain-kain yang digunakan untuk baju batiknya diproduksi secara handmade. Untuk motif batik, yang digunakannya adalah motif asli Pekalongan, Solo dan Cirebon.

Dea mengaku awalnya sama sekali tidak pernah terpikir untuk berbisnis seperti yang sekarang dijalankannya. Tuntutan ekonomilah yang membuatnya harus berpikir kreatif untuk mencari tambahan uang.

Saat menjual koleksi batik orang tuanya, ia mulai belajar bagaimana caranya berbisnis dan memperdalam pengetahuan mengenai filosofi batik.

“The more I understand about the history, values and the intricate process of Batik making, aku mulai jatuh cinta pada batik dan muncul ide untuk berjualan baju dari batik ‘lawasan’ yang tidak sempurna,” tuturnya. (wl/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *