Bom Molotov Bogor untuk Ciptakan Rusuh

by -

METROPOLITAN – Polisi menangkap enam tersangka perancang kerusuhan di Aksi Mujahid 212 di Jakarta, salah satunya Abdul Basith yang merupakan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Polisi menyebut Abdul Basith menyiapkan bom molotov untuk merusuh dalam kegiatan tersebut. “Perannya yang bersangkutan menyimpan 28 molotov untuk mendompleng demo Mujahid 212 dengan melakukan pembakaran-pembakaran di Jakarta,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Argo mengatakan, Abdul Basith sudah merencanakan melakukan kerusuhan di tengah-tengah demo Mujahid pada Sabtu (28/9). Namun, polisi bergerak cepat dengan mengamankan Abdul Basith untuk mencegah kerusuhan tersebut. Argo menegaskan bahwa Abdul Basith ditangkap karena melakukan pemufakatan jahat dalam aksi tersebut. “Ada pemufakatan di situ,” tegas Argo.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo  mengaku segera mengumumkan status hukum keenam orang itu. “Kalau hasil pemeriksaan kemudian pengujian seluruh alat bukti nanti akan disampaikan, termasuk statusnya dari penyelidikan menjadi penyidikan, kemudian status seseorang menjadi tersangka akan disampaikan oleh Polda Metro Jaya,” katanya.

Baca Juga  Bupati Bekasi Tersangka

Dedi menyebut saat ini keenam orang itu masih dimintai keterangan. Polisi tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam kasus ini. “Ingat proses penyidikan untuk meningkatkan status dari penyidikan dari penyelidikan itu ada mekanismenya, dalam hal ini penyidik Polda Metro Jaya tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, masih didalami,” ujarnya.

Pengacara Abdul Basith, Gufroni, mempermasalahkan penahanan dosen IPB Abdul Basith oleh Polda Metro Jaya. Menurutnya, polisi sampai saat ini belum menjelaskan pasal ataupun undang-undang apa yang dilanggar kliennya. Gufroni mengaku telah diperbolehkan polisi bertemu Basith, kemarin. Namun penyidik tak menjelaskan sangkaan terhadap kliennya tersebut. “Kuasa hukum belum mengetahui sangkaan pasal dan undang-undang yang dilanggar,” kata Gufroni.

Baca Juga  PILM DKI Jakarta, Hidupkan Kembali Minat Baca Masyarakat

Selain itu, Gufroni mengatakan, kuasa hukum belum diberikan surat penahanan oleh penyidik. Termasuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan surat penangkapan. Padahal, menurutnya, surat-surat itu merupakan hak kliennya yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Penyidik, jelasnya, wajib memenuhi hak konstitusional itu. “BAP dan lain-lain sangat penting untuk melakukan pembelaan hukum secara maksimal,” katanya.

Terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen (Pol) Suhardi Alius mengatakan, aksi Abdul Basith dkk belum diketahui apakah terafiliasi dengan kelompok teroris atau tidak. “Dia itu bergerak atas nama pribadi atau atas nama institusi (kelompok, red). Nah, itu sedang dicari tahu,” ujar Suhardi.

Mengenai ada tenaga pendidik yang menjadi salah satu perancang rusuh, Suhardi menegaskan BNPT sudah sering menyosialisasikan program penanggulangan terorisme kepada mahasiswa, dosen hingga rektor. “Kan kita sudah masuk ke perguruan tinggi. Bahkan seluruh rektor perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri. Kita berikan pengenalan terkait bahaya terorisme dan sebagainya, termasuk kepada dosen,” kata Suhardi.

Baca Juga  Stadion Pakansari Dikepung PKL, Ketua Komisi I Geram Satpol PP Cuma Nongkrong

Ketika ditanya soal sisi kelemahan dari deradikalisasi di perguruan tinggi di IPB, Suhardi mengaku pihaknya akan melakukan pemeriksaan, apakah Abdul Basith digerakkan sivitas akademika atau kelompok tertentu di luar itu.

Sebelumnya, IPB membenarkan bahwa salah satu dosennya ditangkap polisi di Cipondoh, Tangerang Kota. Dosen berinisial AB yang mengajar di Fakultas Ekonomi dan Manajemen itu diduga ditangkap terkait perancang demo ricuh. “Sehubungan dengan pemberitaan yang beredar saat ini mengenai penangkapan salah satu dosen IPB, sdr Abdul Basith, kami merasa terkejut dan sangat prihatin terhadap hal tersebut,” kata Kabiro Komukasi IPB Yatri Indah Kusumastuti. (dtk/kps/tem/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.