DPESDM Uji Coba Lima Komoditi IKM Gunakan KPS

by -

SUKABUMI – Kepala Bidang Industri Agro, Dinas Perindustrian dan Energi Sumber Daya Mineral (DPESDM) Kabupaten Sukabumi, Yana Chefiana mengungkapkan, tantangan Industri Kecil Menengah (IKM), di Kabupaten Sukabumi sangatlah kompleks.

Menurutnya, kendala juga kerap menghantui industri kecil dan menengah yang memproduksi enye, rengginang, renggining, opak dan herbal.

“Salah satu kendala yang menghantui sektor tersebut yakni pada proses pengeringan, terutama ketika musim hujan datang, ” katanya.  

Meski pun saat ini beberapa IKM pernah mencoba mesin pengering di saat musim hujan, namun penggunaan bahan bakar gas yang tinggi dan boros. Selain itu, kata Yana adanya keterbatasan penggunaan gas untuk industri, tentu akan berimbas pada harga jual produk yang tidak dapat bersaing dengan produk dari kabupaten lain. 

Untuk membantu memecahkan masalah tersebut, DPESDM Kabupaten Sukabumi bekerja sama dengan Pusat pengembangan Teknologi tepat Guna LIPI dengan melibatkan para IKM, telah mengujicobakan 5 komoditi IKM (rengginang, opak, enye, renggining dan herbal-herbalan) dengan metode pengeringan alternatif ketika memasuki musim penghujan. 

Metode uji coba menggunakan teknologi yang dirancang oleh P2TTG LIPI yaitu Kamar Pengering Surya (KPS) dan mesin pengering Infra red. KPS merupakan metode pengeringan menggunakan ruangan, yang diisolasi oleh lapisan plastik UV, di mana KPS tersebut memanfaatkan paparan sinar matahari dan secara prinsip panas yang diterima kemudian dipertahankan dalam suatu ruangan untuk mengeringkan produk uji coba. 

“Suhu dalam ruangan dapat mencapai 37-42oC. Adapun keunggulan metode ini adalah tidak menggunakan bahan bakar gas sehingga mampu menurunkan biaya operasional pengeringan, ” jelasnya.  

Selain itu, produk yang dikeringkan menjadi steril dari debu, dan kualitas hasil pengeringannya lebih berkualitas dibandingkan dengan produk yang dikeringkan secara alami. Namun kelemahannya adalah lama pengeringan sekitar 80 persen dari lama pengeringan alami dan murni mengandalkan sinar matahari, sehingga untuk musim penghujan belum dapat menjawab kesulitan pengeringan di IKM.

“Mesin pengering infra red itu merupakan metode pengering menggunakan mesin di mana proses pengeringannya menggunakan bara api dan kemudian didistribusikan secara merata dalam suatu ruangan yang diisi 16 tray wadah produk, ” paparnya.   

Selanjutnya suhu ruangan dikontrol melalui termometer dan dijaga rata-rata 55-63oC, sambung Yana dari hasil uji coba terdapat efisiensi waktu yang sangat signifikan, untuk pengeringan alami rengginang, renggining, opak, enye dan daun herbal di standar IKM bisa sampai 2 hari menggunakan mesin ini dapat kering hanya dalam waktu 1-3 jam saja dengan utilitas gas berkisar 0,2-0,6 Kg untuk kapasitas 16 Kg produk. 

Sedangkan untuk potongan rimpang seperti jahe dan kunyit di standar IKM pengeringan alami selama 5 hari dengan menggunakan mesin ini kering hanya selama 7-8 jam dengan utilitas gas sebanyak 0,7- 1 Kg gas untuk kapasitas 20-25 Kg produk. 

“Hasil dari pengujian infra red ini menghasilkan produk yang jauh berkualitas daripada pengeringan alami dimana warna produk lebih terjaga, aroma lebih kuat dan rasanya lebih gurih, ” ungkapnya.

Dengan adanya uji coba ini, Yana berharap para IKM dapat melanjutkan produksi makanan, yang sangat terkendala oleh cuaca. Metode yang diujicobakan tentu saja dapat direplikasi oleh para IKM untuk meningkatkan produksinya. 

“Jadi nanti ketika musim hujan tentu saja kita akan selalu menjumpai rengginang, enye dan opak sebagai makanan khas Kabupaten Sukabumi, ” pungkasnya.  (suc/suf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *