Era 4.0, Pembangunan Harus Tahan Banting

by -

Forum Mahasiswa Komunikasi Pertanian dan Perdesaan IPB University (FORMASSI-IPB) menggelar diskusi interaktir di Kafe Botani Kopi Nusantara, kemarin. Diskusi yang mengusung tema ‘Revolusi Industri 4.0 Peluang dan Tantangan’ itu dihadiri tiga orang pembicara. Diantaranya, Dosen FEMA IPB Dr. Nurmala K. Pandjaitan, Direktur Peningkatan Sarpras PDT Agus Kuncoro dan Ketua Forum Komunikasi Pembangunan Indonesia Dr. David Rizar Nugroho.

Kegiatan Diskusi Interaktif ini sendiri bertujuan untuk membedah peluang dan ancaman pada era Revolusi Industri 4.0 dalam pembangunan SDM dan Sosial di Indonesia dari perspektif akademis, birokrat dan organisasi masyarakat. Sebagai ajang pengayaan pengetahuan era revolusi industri 4.0 kepada peserta dan masyarakat. Kemudian, hasil kajian ini dapat digunakan sebagai kontribusi pemikiran bagi akademisi, birokrasi dan organisasi serta masyarakat umum.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi ajang memupuk kekeluargaan, terbentuknya budaya diskusi dan mengaplikasikan tridharma perguruan tinggi. “Hasil kajian ini dapat menjadi rekomendasi pemikiran bagi setiap agen pembangunan dan masyarakat umum dalam membentuk SDM unggul di Indonesia,” kata Ketua FORMASSI-IPB, Mohamad Baidowi.

Sementara itu, Dr. Nurmala sebagai akademisi menjelaskan bahwa inovasi revolusi industri 4.0 membuat manusia lebih cepat dan harus siap. Sumber daya manusia adalah elemen penting di era ekonomi digital.

“Perkembangan teknologi mengharuskan kita mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang andal, meningkatkan literasi digital, tahan banting, adaptif dan kolaboratif,” kata Nurmala, “Era ini menjadikan kita harus kolaborasi dan tidak sendiri. Selain itu Indonesia juga perlu ada pendidikan karakter dan perilaku ramah lingkungan,” sambungnya.

Senada diungkapkan Agus Kuncoro sebagai birokrat dari Kementerian Desa Tertinggal. Menurutnya, meski saat ini sudah memasuki era 4.0, namun beberapa daerah masih 3.0 bahkan 2.0. Agus juga menjelaskan bahwa ada 10 strategi prioritas nasional untuk making Indonesia 4.0.

“Model pembangunan daerah tertinggal saat ini adalah kerja sama dengan 50 startup. Mengenai jaringan internet, kita lakukan koordinasi dengan Bakti Kominfo. Lalu kami bekerja sama dengan Device Halohola agar guru dapat mengajar di beberapa sekolah di daerah-daerah tertinggal. Dan kami juga lakukan e-ticketing untuk Pariwisata Daerah Tertinggal,” kata Agus. (*/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *