Kekasihku Menjadi Suami Orang Lain (1)

by -

METROPOLITAN – Aku mencintai dia, dia mencintai aku. Tapi hubungan ini sulit dipersatukan. Seka­rang dia sudah menjadi suami orang lain tapi kami tetap saling berhubungan dan mencintai. Aku tak tahu harus bagaimana, sampai kapan begini dan harus apa?

Aku, menja­lin cinta yang tidak akan pernah bisa kulupa­kan dengan kekasihku, Bara. Kami bertemu di tempat kerja yang sama. Perkenalannya hanya sebentar tapi cinta begitu saja.

Aku sering ke kost-nya sepulang kerja. hubungan kami jadi terlampau jauh. Aku pun semakin mencintainya. Dia pun semakin sering menjaga dan memperhatikanku. Setiap hari kami selalu bersama entah hanya sekedar makan, atau mengantarku pulang. Be­gitu indah rasanya ber­sama dengannya.

Suatu hari seorang teman dari Be­landa datang kembali ke Jakarta dan ingin sekali menemuiku. Aku cerita­kan pada Bara tentang pertemanan kami dan permasalahan yang pernah hadir di antara aku dan dia.

Bara, meyakini dirinya bahwa aku pernah mencintainya. Maksudku untuk jujur dan terbuka berujung pada pertengkaran hebat yang tidak bisa kuterima. Aku dengan penda­patku, bahwa berteman bisa dengan siapa saja dan tidak mungkin bagiku tiba-tiba menjauh dari teman lama­ku ini. Sementara dia tidak bisa me­nerima pendapatku.

Dan kami juga memiliki perbedaan agama dan suku tidak mungkin kami bisa menikah, sehingga semakin men­guatkanku untuk meninggalkan dia. Sungguh saat itu sedih sekali.

Tidak kusangka ia pun sedih sekali. Menangis ia di depanku. Hatiku sung­guh berat, aku membatalkan janjiku dengan teman Belandaku. Aku men­ghubungi Bara untuk meminta maaf dan mengatakan tidak jadi menemui temanku itu.

Dalam beberapa hari, temanku kem­bali menghubungiku, memintaku untuk menemuinya walau hanya se­bentar. Aku sungguh bingung saat itu. Karna tidak tega. Lalu, aku membi­carakannya dengan Bara. Aku me­mintanya untuk pergi bersamaku menemaniku bertemu dengannya sebentar saja. Tak kusangka, Bara mengiyakan.

Lalu, kami bertemu di salah satu mall dekat kantor kami. Saat itu aku sudah bisa melihat temanku dari ke­jauhan, dan Bara sepertinya menge­tahuinya. Bara mencoba mencium pipiku entah apa maksudnya.

Namun kuelakan, karna malu apa­bila diketahui temanku tersebut kalau aku sudah punya kekasih. Mereka ber­kenalan. Lalu, Bara izin untuk Sholat. Aku dan temanku pergi mencari resto­ran untuk kami makan malam.

Setelah kami memesan makanan kucoba hubungi Bara. HP nya tidak aktif aku panik tapi berusaha tenang. Kucoba hubungi terus beberapa kali. Tanpa sepengetahuan temanku.(Ber­sambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *