Menristekdikti Minta Kampus Jangan Sampai Teracuni

by -
GEDUNG BARU: Menristekdikti, Mohamad Nasir, bersama para rektor saat meresmikan gedung Collaborative Research Center (CRC) dan launching Sains Teknologi (STP) Institute Pertanian Bogor (IPB) University, kemarin

METROPOLITAN – Pasca penangkapan salah satu Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith. Oleh jajaran Jatanras Polda Metro Jaya, bersama 88 Antiteror Polri, pada Sabtu (28/09) silam sekitar pukul 01:00 WIB, di Jalan Maulana Hasanudin, Kecamatan Cipondoh, Tangerang Kota, membuat Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, angkat bicara mengenai kasus ini.

 Nasir juga meminta IPB harus mengambil sikap, atas kejadian ini. Minimal pihak kampus mengambil langkah sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 11 Tahun 2017, tentang Manajemen Pegawai Negri Sipil (PNS). “Harus diberhentikan sementara sebagai PNS. Kita tunggu saja hasil peradilannya nanti. Kalau putusan pidanya lebih dari dua tahun harus diberhentikan total,” tegasnya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Ia menghimbau kepada seluruh jajaran civitas akademik kampus yang ada di Indonesia, agar kasus serupa tidak terjadi juga di sejumlah kampus lainnya. Bahkan, Nasir juga meminta kepada para rektor, untuk melakukan profileling dan mapping, kepada sejumlah dosen dan pegawai. “Saya mengingatkan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia, jangan sampai ada yang terpapar radikalisme, intoleransi, pembuatan bom dan kasus lain,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor IPB Arif Satria secara tegas memberhentikan sementara Abdul Basith sebagai tenaga pengajar di IPB. Hal tersebut dilakukannya, sebagai salah satu bentuk implementasi dari peraturan pemerintah Nomor 11 Tahun 2017, tentang Manajemen Pegawai Negri Sipil (PNS). Ia juga menghargai, semua proses hukum yang saat ini tengah berlangsung.

“Berdasarkan aturan perundang-undangan Nomor 11 Tahun 2017, tentang Manajemen Pegawai Negri Sipil (PNS) Pasal 276 menyatakan, setiap PNS yang terlibat kasus tindak pidana makan akan diberhentikan sementara statusnya sebagai PNS, sambil menunggu keputusan pengadilan yang bersifat mengikat,” katanya.

Guna mencegah kejadian serupa kembali terjadi, pihaknya akan meningkatkan kembali perhatian serta senantiasa berkomunukasi dengan setiap tenaga pengajar. Bahkan akan mencari informasi lebih lanjut, kegiatan setiap dosen saat beraktifitas di luar kampus. “Tapi yang jelas kami akan menekan para dosen, agar tetap fokus akan tugas utamannya mengurusi hal akademik,” tegasnya.

Disinggung soal keikut sertaan Abdul Basith dalam salah satu organisasi dan perkumpulan tertentu, Arif mengaku tak ingin banyak komentar mengenai hal ini. “Yang saya tahu, organisasi atau perkumpulan yang diikuti Abdul Basit, bukan organisasi yang berafiliasi keagamaan. Intinya bukan keagamaan. Itu saja,” tandasnya.

Sekedar diketahui, Abdul Basith sendiri ditangkap bersamaan dengan lima rekannya di lokasi terpisah. Pria kelahiran Kendal 9 Juli 1975 ditangkap petugas, lantaran keterlibatannya dalam rencana kasus pembuatan chaos aksi demosntrasi di Jakarta beberapa waktu silam. Ia berperan sebagai pemberi instruksi pembuatan bahan peledak jenis bom molotov.

Tak hanya itu, pria yang dikenal sebagai salah satu motivator tersebut, juga bertugas untuk menyimpan bom tersebut di kediamannya, di kawasan Pakuan Regency, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Dari tangan Abdul Basith, pihak berwenang berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa 29 buah bahan bom molotov siap ledak, satu buah handphone Xioami S3, dompet dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik pelaku. (ogi/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *