Penanganan ODGJ Minim Perhatian

by -
ILUSTRASI: Pasien ODGJ saat mengikuti Pemilu 2019, belum lama ini. Tingkat pasien ODGJ di RSMM Kota Bogor setiap tahunnya meningkat dengan pasien dari berbagai daerah

METROPOLITAN – Meski jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pada 2017 hingga 2018 mengalami penurunan, hal ini bukan berarti peningkatan tidak akan terjadi pada tahun ini. Potensi peningkatan bakal terjadi, jika pemerintah tidak sigap dalam menangani persoalan ini. Terlebih pada peringatan hari kesehatan jiwa sedunia, yang jatuh pada hari ini.

Kepala Sub Bagian Hukum dan Organisasi Masyarakat Rumah Sakit dr H Marzoeki Mahdi (RSMM) Kota Bogor, Dian menjelaskan, 2017 capaian kunjungan rawat jalan mencapai 155.103 kunjungan dari 207.742 yang ditargetkan. Angka tersebut diambil dari tiga ketegori pelayanan yakni,psikiatri, napza, psikologi dan non psikiatri.

Pada 2018 silam, angka kunjungan rawat jalan berubah menjadi 109.120 dari 220.996 kunjungan yang ditargetkan. Meski mengalami penurunan dari sektor kunjungan rawat jalan, kenaikan justru terjadi pada sektor Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSMM Kota Bogor. Pada 2017, jumlah pasien yang masuk IGD RSMM mencapai18.250. Sementara 2018 menyentuh angka 18.800.

Dian mengatakan, hampir setiap tahun pihaknya kerap kali melayani sejumlah pasien yang berasal dari berbagai daerah. Namun jika mengacu kepada data yang ada, dalam satu tahun rata-rata RSMM melayani ODGJ kisaran 12500 pasien dalam setahun.

“Biasanya pertahun kita melayani diatas 10 ribu pasien, dibawah 15 ribu. Itu untuk pasien asal Kota Bogor saja yah belum pasien dari daerah lain,” kata Dian kepada Metropolitan, kemarin.

Tingginya angka ODGJ tentu perlu menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Terlebih dalam hal penanganan dan penanggulangan antisipasi meningkatnya ODGJ.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kota Bogor, Siti Nursarah, mengaku, pada tahun ini pihaknya sama sekali menerima kucuran anggaran, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Hujan. Hal tersebut tentu membuat ruang gerak dan penanganan pihaknya semakin terbatas. Padahal dalam satu bulan, pihaknya rata-rata menangani ODGJ sekitar empat hingga lima orang.

Tak hanya anggaran, pihaknya jiga mengakui sangat keterbatasan personel untuk menghentaskan persoalan ODGJ ini.

“Kendala kami pastiny dianggaran karna kami tidak menerima dana saat ini. Selain itu juga petugas kami sedikit, sekitar empat sampai enam saja,” keluh wanita yang akrab disapa Nunuy.

Tak hanya itu, Kota Bogor juga hingga kini belum memiliki panti yang dikhususkan untuk menangani ODGJ.

“Ada panti di Kota Bogor, tapi itu swasta dan kita harus bayar. Bagaimana mau bayar, duitna oweuh. Seharusnya kita memiliki anggaran berkelanjutan, untuk menangani masalah ini,” tutupnya. (ogi/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *