Blok A Pasar Kebonkembang Nyaris Ditinggal Pedagang

by -
SIDAK: Wakil Wali Kota, Dedie A Rachim, saat meninjau ke Pasar Kebonkembang. Tepatnya ke salah satu kios yang melanggar dengan berjualan di pintu masuk pasar.

METROPOLITAN – Sebagai salah satu pasar sentra tekstil terbesar di Kota Bogor, rupanya keberadaan Pasar Kebonkembang, Kecamatan Bogor Tengah, masih belum maksimal. Baik secara pendapatan melalui Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) maupun omset pedagang yang belakangan menurun lantaran kalah saing dengan Pedagang Kaki Lima (PKL). Hal itu terungkap saat Wakil Wali Kota Bogor, Dedi A Rachim bersama jajaran direksi PD PPJ meninjau pasar Blok A Pasar Kebonkembang.

Kondisi pasar Blok A memang terlihat ramai di muka gedung, baik dari depan Jalan Dewi Sartika maupun Jalan Nyi Raja Permas. Sayangnya, ketika masuk agak kedalam, terdapat banyak sekali kios-kios yang kosong atau sekedar jadi gudang.

“Saya datang kesini ini, karena ada keluhan dari pedagang, mereka tadinya ingin pindah lantaran pendapatannya turun. Nah makanya kita ingin ada upaya supaya ramai lagi,” kata Dedie kepada Metropolitan usai inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Kebonkembang, kemarin.

Baca Juga  Viral Video Warga Bogor Positif Corona, Ini Penjelasannya

Salah satu caranya, dengan membuka akses di tengah-tengah gedung yang saat ini tertutup oleh pagar besi, yang menutup akses antar muka. Perbedaan pengelolaan ditengarai jadi penyebabnya. Diketahui, muka depan Jalan Nyi Raja Permas dikerjasamakan dengan PT Propindo yang mengelola Pusat Grosir Sepatu (PGS), sedangkan muka depan Jalan Dewi Sartika dikerjasamakan dengan PT Javana.

“Kalau itu terkoneksi, kan semua bisa masuk dari mana saja. Nah kita sedang nego dengan pengelola, supaya ini bisa ditembuskan. Kalau ingin ramai ya dibantu pedagang, sekarang mereka saingan dengan PKL. Padahal mereka kontribusi langsung ke PAD, kalau PKL kan nggak bisa kita tarik. Coba akses ini dibuka, yang tengah-tengah ini bisa jadi kios, nggak kosong atau cuma jadi gudang seperti sekarang,” ujarnya.

Baca Juga  Warga Bubulak Kompak Bangun Jalan

Jika sudah terkoneksi, kios-kios yang kosong itu juga diproyeksikan untuk relokasi PKL yang kini masih menempati trotoar Jalan Dewi Sartika sepanjang Taman Topi. Sehingga PKL bisa ‘naik kelas’ dengan punya kios dan tertata, serta membantu pendapatan Kota Hujan. “Itu juga kan jadi permintaan PKL. Mereka mau pindah asal itu akses dibuka, jadi dari mana saja bisa masuk ke tengah,” paparnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PD PPJ Muzakkir mengakui saat ini ada sekitar 300 kios di Blok A Pasar Kebonkembang yang kosong dan tidak maksimal lantaran sepi. Membuka akses dua pengelolaan pasar ini, diyakini bisa merangsang ‘keramaian’ di Blok A. “Ini kita sedang negokan dengan pengelola supaya bisa dibuka. Selama ini, di siteplan-nya PGS, memang tidak ada akses, sementara punya Javana ada akses. Perbedaan konsep ini harusnya dilebur demi kepentingan pasar secara umum,” tandasnya.

Baca Juga  Bandel! Langgar Aturan PPKM di Bogor, Dua Kafe Disegel Petugas

Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Bogor itu menjelaskan, dengan terbukanya akses ditengah gedung, bakal membawa potensi keramaian yang diharapkan PKL Taman Topi, yang akan segera direlokasi, tapi meminta agar akses Blok A terbuka dari segala sudut.

“Bisa dilihat tadi, sepi sekali didalam. Harus dihidupkan semua. Ini nego dari para PKL ya. Nah pimpinan kan sudah lihat tadi kondisinya seperti apa. Ia juga setuju ini akses harus dibuka. Secara surat menyurat mah, kami sudah meminta PGS untuk mau buka akses. Kami tunggu itu dulu, supaya satu gedung, meskipun beda pengelola, tapi saling terkoneksi,” pungkas Muzakkir. (ryn/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *