Pengusaha Ingin Sistem Kanalisasi 2-1 Diberlakukan Lagi

by -

METROPOLITAN – CISARUA Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dan kepolisian untuk mengurai kemacetan di jalur Puncak, Kabupaten Bogor, khususnya saat akhir pekan. Mulai dari one way (sistem satu arah) hingga yang terbaru kanalisasi 2-1.

Namun kedua rekayasa lalu lintas tersebut belum membuahkan hasil maksimal. Dalam praktiknya, sistem one way yang sudah berjalan hampir 32 tahun dan kanalisasi yang baru diuji coba sama-sama menimbulkan dampak negatif dan positif khususnya bagi para pengguna jalan baik wisatawan maupun warga sekitar.

Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan PHRI Kabupaten Bogor Sofyan Ginting mengatakan, perlu ada percepatan mengatasi permasalahan kemacetan di kawasan Puncak. Menurut dia, sistem kanalisasi merupakan bagian dari aspirasi masyarakat agar one way dihapus.

Baca Juga  Hadiri Peresmian Kantor Kejari Cibinong, Ade Yasin Minta Pelayanan Masyarakat Dimaksimalkan

Maka dari itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mencetuskan sistem kanalisasi sebagai pengganti one way di jalur Puncak.

“Bahkan kita telah merekrut puluhan polisi lingkungan warga (polingga) untuk membantu kelancaran menghapus one way. Kami para pengusaha hotel restoran dan wisata selain memberikan dukungan berupa perlengkapan seragam dan lainnya juga serta insentif setiap bulannya sebesar Rp1,5 juta/orang,” katanya.

Direktur Taman Safari Indonesia (TSI) Jansen Manangsang mendukung penuh upaya yang dilakukan pemerintah dalam menghapus one way. Bahkan pihaknya telah merekrut polingga untuk membantu mengatasi kemacetan di Simpang Safari.

“Saya kira cukup tepat dan efektif mengurai kemacetan, itu sudah kita rasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Baca Juga  Bupati Bogor Butuh 1,6 Triliun Bangun Jalan Bojonggede - Kemang

Dia yakin jika semua pengusaha restoran, hotel maupun tempat wisata bersatu mengatasi kemacetan di jalur Puncak, perlahan-lahan masalah kemacetan bisa diatasi. “Ini juga untuk membantu perekonomian masyarakat,” jelasnya.

Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan hal yang utama dihapusnya sistem one way digantikan dengan kanalisasi adalah terpenuhinya hak aksesibilitas warga sekitar Puncak.  Sehingga tak ada lagi jam naik dan jam turun yang dikeluhkan warga terkait sistem one way.

Dia menegaskan jika nanti dalam evaluasi uji coba kedua kanalisasi pada awal Desember mendatang berjalan sukses maka tidak menutup kemungkinan akan dipermanenkan.

“Kita lihat hasilnya nanti. Jika kanalisasi berjalan efektif akan diterapkan permanen,” ungkapnya.

Baca Juga  Gegara Ini Kades Tugujaya Ingin Ade Yasin Jadi Bupati Lagi

Sikap berbeda diungkapkan pihak kepolisian terhadap penghapusan one way. Kapolres Bogor AKBP M Joni mengungkapkan tidak siapnya infrastruktur dan sarana prasarana pendukung lainnya saat uji coba kanalisasi 27 Oktober lalu membuat pihaknya mengusulkan untuk membatalkan sistem kanalisasi.

Alasannya, kondisi badan jalan belum siap. Kanalisasi kata dia harus membutuhkan tiga lajur sementara masih banyak beberapa titik badan jalan yang masih ada dua lajur. Sehingga tambah dia, pada saat dua menuju ke satu ini semuanya mengalami antrean.

Contohnya pada saat uji coba arus yang turun belum terlalu banyak karena sebagian besar kendaraan menyerbu kawasan Puncak. (sin/els/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *