Tantangan Pendidik pada Arus Globalisasi

by -
Oleh: Maria Fitriah, S. Sos., M. Si Dosen Prodi Sains Komunikasi Universitas Djuanda Bogor

METROPOLITAN – Beberapa waktu lalu (25/11) kita memperingati Hari Guru Nasional yang sepatutnya menjadi motivasi sebagai pendidik. Tidak hanya kita lewati begitu saja perayaan tersebut sebatas ucapan-ucapan selamat ataupun kata-kata bijak. Namun dapat dijadikan renungan sejauh mana kita telah memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak didik kita dalam keterbukaan informasi dan komunikasi.

Pendidikan tidak hanya berupa transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga membentuk karakter anak didik sebagai generasi penerus bangsa. Artinya bukan selesai sampai di sini tugas pendidik setelah mengajar. Memang tidak mudah seolah membalikkan telapak tangan. Ini tentunya masih bagian dari tanggung jawab pendidik. Pengajaran diberikan dalam bentuk bimbingan, arahan, dan teladan yang baik. Profesi pendidik menuntut adanya keteladan yang nampak maupun tersirat untuk anak didiknya.

Era keterbukaan informasi dan komunikasi memberikan tantangan yang luar biasa dengan kerja keras semua pihak para pendidik. Faktor yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan proses pendidikan. Proses pendidikan diharapkan dapat mewujudkan siswa dan mahasiswa yang nantinya lulus menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan demikian, dapat mencetak generasi milenial yang siap bersaing di pasar global.

Berdasarkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3, disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kita berharap anak didik kita cerdas secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Tolak ukur kesuksesan pada diri anak didik bukan hanya pada angka sebuah nilai yang diraih. Kecerdasan intelektual itu belum tentu bisa sempurna tanpa kecerdasan emosional dan spiritual. Maka pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan kurikulum, agama, dan budaya. Berbekal pendidikan agama, akan melahirkan akhlak yang baik dalam mencapai pendidikan sesuai kurikulum dan budaya yang ada sehingga siap di lingkungan masyarakat. Nyatanya sungguh miris saat ini yang terjadi untuk mewujudkannya di antara keterbukaan informasi dan komunikasi.

Perubahan perilaku anak didik kita dapat dipengaruhi dari keterbukaan informasi dan komunikasi yang nampaknya perlu pendampingan komunikasi. Kebebasan berekspresi dalam penggunaan internet akan berdampak pada tingkah laku, baik dampak positif maupun negatif. Seiring perkembangan teknologi komunikasi, internet dapat memfasilitasi manusia dalam bermedia mengikuti arus informasi dan komunikasi. Kemudahan mendapatkan informasi melalui internet memang dapat mengembangkan potensi diri dan belajar.

Sayangnya hal tersebut membuat prihatin pada generasi penerus. Justru melunturnya akhlak yang nampak pada perubahan tingkah laku terhadap krisis moral. Kurangnya adab antara anak didik kepada pendidik. Berkurangnya tata krama dalam berkomunikasi, berkurangnya rasa hormat, berkurangnya rasa menghargai keberadaan pendidik, berkurangnya ucapan salam, berkurangnya antusias belajar, dan bersikap menggurui kepada pendidik merupakan gambaran kondisi sekarang. Besar kemungkinan krisis moral yang dapat menimbulkan perubahan tingkah laku ini berasal dari internet yang merupakan kecanggihan teknologi komunikasi.

Informasi yang mengandung nilai budaya-budaya asing yang tidak normatif, baik secara tulisan maupun visual, dapat merubah tingkah laku (akhlak) sehingga timbullah krisis moral. Maka dituntut komunikasi yang lebih tinggi frekuensinya antara pendidik dengan anak didik, termasuk ketika menggunakan internet pada arus globalisasi.

Status pendidik bukan hanya disandang guru, tetapi juga orangtua sebagai orang yang memberikan pendidikan pada faktor internal. Orangtua sebagai pondasi utama dalam memberikan pendidikan dalam madrasah di keluarga untuk. Sedangkan pendidik hanya sosok pendukung pada faktor eksternal. Dengan demikian, dibutuhkan sinergi peran aktif antara pendidik dengan orangtua dalam pendidikan anak. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *