Dikepung Longsor, Ibu Hamil Kontraksi di Atas Awan

by -
EVAKUASI: Sejumlah petugas memboyong Heni beserta keluarganya ke helikopter untuk dibawa ke rumah sakit lantaran hendak melahirkan.

METROPOLITAN – Kabar bahagia menyelimuti keluarga Irwan. Ditengah duka akibat bencana alam yang menjerang keluarganya, sang istri, Heni berhasil melahirkan buah cinta pertamanya. Pasutri ini merupakan warga Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya yang terisolir akibat bencana alam yang terjadi sejak Rabu (1/1).

Heni sendiri berhasil melahirkan anak pertamanya di RSAU Dr M Hassan Toto Lanud Ats, kemarin. Ia mendapat bantuan dari petugas bencana dengan dibawa menggunakan pesawat helikopter Super Puma H-3211, milik Skadron Udara 6 Landasan Udara (Lanud) Atang Sendjaja (Ats).

Sebelum melahirkan, proses evakuasi berlangsung cukup dramatis. Irwan sempat kalang kabut ketika sang istri mengalami kontraksi. Bukan tanpa alasan, wilayah tempat tinggal mereka terisolir lantaran bencana alam yang terjadi sejak Rabu (1/1).

Beruntung, Irwan bertemu dengan salah seorang petugas yang bersedia menolongnya.

“Sempat pusing juga karena lokasi kita jauh dari tempat pengungsian. Ditambah lagi lokasi kami terisolir. Untung saja saya bertemu dengan petugas dan akhirnya istri saya bisa dibawa ke rumah sakit dengan helikopter,” kata Irwan.

Setelah 18 menit terbang menggunakan helikopter, pasutri ini tiba di landasan pacu Lanud Ats. Rombongan Heni dan Irwan disambut langsung oleh Komandan Lanud Atang Sendjaja, Marsma TNI Eding Sungkana bersama Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 3 D.I Lanud Ats Ny. Mira Eding Sungkana serta para pejabat Lanud Ats lainnya. Selanjutnya mereka dibawa menggunakan mobil ambulance menuju RSAU Dr M Hassan Toto Lanud Ats.

Tepat pukul 04:33 WIB Rabu (8/1), kabar gembira itupun datang. Heni dikabarkan berhasil melahirkan bayi laki-laki sehat, dengan bobot bayi seberat 2,8 kilogram dan panjang 50 sentimeter. Proses persalinan ditangani bidan Desi dan Herlina serta dibantu perawat Arny di ruang bersalin RSAU Dr M Hassan Toto Lanud Ats.

Kepala RSAU Dr M Hassan Toto Lanud Ats, Mayor Kes Dr Ary Eko Arjunanto mengatakan, proses persalinan berjalan normal. Dengan kondisi pasien dalam keadaan sehat.

“Kondisi kehamilannya sudah sembilan bulan lewat. Saat dibawa ke ruang Vk (bersalin,red), kondisi Heni sudah masuk pembukaan empat. Alhamdulilah semua berjalan lancar,” katanya.

Sementara itu Heni, tiada henti mengucapkan terima kasih kepada Lanud Ats dan berharap anaknya kelak menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua serta dapat berguna bagi bangsa dan negara serta agama.

“Saya ucapkan terimakasih banyak kepada semuanya yang sudah membantu saya. Entah apa yang akan terjadi kalau semuanya tak ada,” singkat Heni sambil meneteskan air mata.

Sebagai bentuk rasa terimakasih pasutri ini, keduanya sepakat memberikan nama untuk putra pertamanya ‘Yuda Aurian Sanjaya’. Di mana nama tersebut mengandung makna yang cukup dalam.

“Yuda diambil dari ayahnya. Aurian ditunjukan untuk Lanud Ats. Sementara Sanjaya, pemberian dari Danlanud Ats,” tambah Heni sambil tersenyum bahagia.

Tak ketinggalan, Danlanud Ats, Marsma TNI Eding Sungkana mengucapkan selamat kepada pasutri tersebut atas lahirnya sang buah hati. Dirinya juga merasa terharu, saat diperbolehkan memberikan nama bagi buah hati mereka.

“Tentu kami sangat bahagia. Puas rasanya bisa menolong seperti ini. Apalagi kami diperkenankan memberikan nama bagi bayi ini, ada kepuasan sendiri yang tidak bisa kami gambarkan,” ungkapnya

Sebelumnya, Euis (35), warga Kampung Babakanciberani, harus digotong warga dan suaminya agar bisa keluar dari desa dan mendapat perawatan intensif. Sebab setelah tiga hari di posko pengungsian tanpa adanya bantuan yang datang, kandungan Euis yang baru berumur tiga bulan itu mengalami pendarahan.

Puskesmas terdekat dari Desa Pasirmadang yakni berlokasi di Desa Sukajaya yang jaraknya kurang lebih 20 kilometer. Bermodalkan kayu dan sarung, Euis digotong warga untuk mendapat penanganan medis.

Titik-titik longsor yang menutup akses jalan, tanpa ragu dilewatinya. Dengan kaki terkulai, Euis hanya bisa duduk dalam sehelai sarung yang diselendangkan ke sebatang kayu sambil memegang tangan suaminya yang sudah kotor oleh tanah merah.

Selain titik-titik longsor, jalan setapak di tengah hutan yang dibuat warga juga menjadi rintangan tersendiri untuk mengantarkan Euis. Tanah yang licin karena habis diguyur hujan membuat beberapa kali rombongan itu hampir terpeleset saat menuruni bukit.

Selama dua jam, sang suami, Rozak (35), hanya bisa berdoa agar nyawa istrinya selamat. Sesampainya di Desa Jayaraharja, Euis pun langsung diangkut menggunakan ambulans ke Puskesmas Sukajaya yang terpakir tidak jauh dari titik keluarnya rombongan dari hutan.

“Tadi sempat panik karena mengalami pendarahan dan kayaknya sih kelelahan. Memang kita dari pertama di posko, makannya sedikit-sedikit untuk menjaga stok makan. Nah, badannya dia nggak kuat,” jelasnya. (ogi/c/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *