Lauching Usaha ZChicken Bagi Mustahik, LPEM BAZNAS Gandeng D’Colonel 

by -

METROPOLITAN.ID— Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) menginisiasi program Mustahik Pengusaha meluncurkan jenis usaha fried chicken berlabel “ZChiken”, di Bogor Jumat (10/1). Dibina pelatihannya oleh D’Colonel, sebanyak 20 mustahik dari kelompok usaha Amanah Sejahtera mendapatkan bantuan sebesar Rp. 244.000.000.

Dengan rincian untuk modal usaha bersama Rp. 60.000.000, modal kerja perorangan dengan total Rp. 120.000.000, serta bantuan gerobak Rp. 64.000.000.

Model pemberdayaan ekonomi ini adalah dengan membangun unit usaha Waralaba “ZChicken” yang bertujuan untuk menyasar ke pangsa pasar yang lebih luas. Nantinya BAZNAS akan membentuk kelompok pengelola usaha sebagai distributor bahan baku “ZChicken”, dalam hal ini kelompok usahanya yang dimiliki oleh kelompok mustahik.

Selanjutnya mustahik lainnya dalam usaha “ZChicken” juga akan berperan sebagai penjual langsung kepada konsumen. Selain modal usaha, gerobak, dan distribusi bahan baku, para penerima manfaat ini juga menerima pelatihan, sistem manajemen penjualan, dan pendampingan intensif.

Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS RI, Irfan Syauqi Beik mengatakan Program Mustahik Pengusaha merupakan program pemberdayaan ekonomi untuk mustahik produktif yang akan menjalankan usaha atau sudah menjalankan usaha dari berbagai jenis usaha.

“BAZNAS melalui Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) akan terus berupaya meningkatkan usaha mustahik tidak hanya memberikan bantuan modal usaha, tetapi juga pendampingan yang intensif dalam pengembangan usaha, pencatatan keuangan, membangun kepercayaan diri dan mendorong penguatan mental spiritual,” ujarnya.

Irfan menambahkan kegiatan pendampingan menjadi salah satu faktor keberhasilan program untuk menjaga semangat mustahik dan memastikan usaha berjalan sesuai dengan rencana.

“Kegiatan pendampingan ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahapan perintisan yang terdiri dari inisiasi kelompok, tahap kedua penguatan kelompok yang berfungsi untuk menumbuhkan aktivitas usaha kelompok penerima manfaat dan kemudian tahap kemandirian,” katanya.

Jika sudah mampu mandiri, kedepannya mustahik pengusaha akan dilepaskan dengan membuat kelembagaan lokal (paguyuban/koperasi) yang di kelola oleh pengurus serta anggota kelompok. Untuk mengawal pelaksanaan kegiatan pendampingan, BAZNAS akan menempatkan seorang pendamping program.

Pendampingan usaha ini diharapkan mustahik dapat memperoleh pendapatan dari pelaksanaan kegiatan usaha ini, yakni rata-rata sebesar Rp. 3.110.000,-/bulan.

Pelaksanaan program ini akan berdampak pada peningkatan ekonomi atau taraf hidup tidak hanya kepada anggota di dalam kelompok tetapi juga masyarakat sekitar tempat usaha. Selanjutnya untuk melakukan percepatan program ini, BAZNAS akan bersinergi dengan berbagai pihak, baik Pemerintah Daerah, BAZNAS Provinsi/Kabupaten/Kota, maupun pihak swasta.

Dalam pelatihan ini, Owner D’Colonel, drh Cecep Muhammad Wahyudin, mengatakan, usahannya sejalan dengan Baznas sebagai aktifis bidang Bisnis syariah dan keumatan.

“Yang disampaikan putaran dari umat untuk umat jangan sampai ke perusahaan asing, D’colonel, asli produk indonesia. Pola pengembangan kita ingin menaikan standarisasi dari UMKM, kita memiliki standar bintang lima yang nanti kita akan bantu dari umkm ini untuk dinaikan berstandar ini,” katanya.

Ceceo mengaku tidak merasa rugi dalam persaingan bisnis. Sebaliknya, kata dia,

UMKM menjadi tangan pengembangan bisnis keumatan. Sebab, D’Colonel tidak berjalan sendiri dan tidak mengambil untung dari UMKM frenchise.

“Kami bukan stand alone bisnis restoran tetapi kami produsen punya budidaya sendiri, punya pabrik sendiri, resep sendiri, prosesnya adalah industrialisasikan UMKM supaya terstandarisasikan kwalitasnnya kehalalannya, sekarang kan jelas siapa produsennya,” kata Dokter lulusan IPB itu.

Lanjut Cecep, D’colonel tanpa frenchise melainkam menggali kemauan bersama mengembangkan bisnis. Ia berharap UMKM punya potensi besar dalam pengembangan bisnis dan menjadi target market. Namun sisi lain tidak melepas standar yang tinggi.

“Saya sebagai dokter hewan bertanggung jawab, berat dalam hal ini memberikan produk asal hewan yang berkualitas berstandar.

Melatih bagaimana menggoreng, karena produk makanan ini harus memiliki penanganan khusus, bagaimana menggorengnya menjagannya, kita latih semuannya. UMKM Ini satu-satunya jalan. Apa lagi menyambut perang ekonomi menjungkirkan bisnis dunia adalah UMKM. Saya melepaskan bisnis besar multinasional, kami kembali ke UMKM,” kata Cecep. (don/suf))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *