Mengajar Hingga Akhir Ajal. Menutupi Kekurangan Dalam Beramal

by -
MENGABDI: Nenek Hasanah masih semangat mengajar di YPI Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Misbahul Aulad, Kabupaten Sukabumi.

METROPOLITAN – Usia bukan halangan bagi seseorang untuk berbuat lebih. Ini seperti yang dijalani Neneh Hasanah (84). Di usianya yang tidak muda lagi, Nenek Hasanah masih semangat untuk mengajar di sekolahan miliknya, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Misbahul Aulad, Kabupaten Sukabumi.

Sejak tahun 1953 tepatnya 66 tahun lalu, Nenek Hasanah mendirikan sekolahan yang berlokasi di Kampung Ciseupan Hilir, Desa Seuseupan, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi. Ia bersama anak dan kerabatnya mengajar di beberapa kelas yang berbeda.

Total ada sebanyak 90 siswa yang belajar di madrasah tersebut, 25 di antaranya langsung mendapat pelajaran dari Neneh Hasanah.

“Mengajar sudah sejak tahun 1953. Kalau mata pelajaran yang saya ajarkan banyak di antaranya pendidikan islam, sejarah sampai bahasa arab,” kata Nenek Hasanah.

Baca Juga  Aayo Garuda Juara Lagi!

Neneh Hasanah mengajar di kelas 5 dan 6. Meski sudah sepuh suaranya masih terdengar lantang di ruang kelas. Ajaibnya, mata Nenek Hasanah masih tajam dan mampu membaca tulisan pada buku pelajaran yang dibawanya dengan baik.

“Alhamdulillah, saya memang suka mengajar dari dulu. Alasan mengapa saya mengajar adalah untuk menutupi semua kesalahan saya di saat salat saya tidak khusyuk dan infaq saya tidak besar. Dan tentunya, saya pun ingin mengamalkan apa yang saya tahu,” ucapnya.

Nenek Hasanah berjalan kaki berangkat dari rumahnya menuju madrasah yang berjarak sekitar 100 meter. Setiap pukul 13:00 WIB, ia memulai aktivitas di madrasah miliknya itu. Ia sendiri menjabat sebagai kepala sekolah.

Baca Juga  Tower Selular di Wates Bikin Warga Bantar Karet Galau

“Semua guru anggota keluarga termasuk anak saya semuanya ada empat orang yang mengajar bergantian di beberapa kelas. Kalau gaji ya seadanya karena ada yang bayar bulanan Rp15 ribu, ada juga yang enggak tapi tidak apa-apa,” imbuh dia.

Perempuan kelahiran 12 April 1935 tersebut saat ini tinggal bersama anak sulungnya yang bernama Dadang (50), yang juga salah satu guru di madrasah. Suaminya Neneh yang bernama Oim telah meninggal dunia sejak 5 Mei 2005 silam.

“Saya itu punya anak sembilan, tapi meninggal lima. Jadi tinggal empat anak. Sekarang anak saya ada juga yang di Flores. Alhamdulillah kondisi saya sejauh ini sehat. Paling ada gangguan dalam pendengaran saja. Saya Insy Aallah berniat akan mengajar hingga ajal menjemput saya. Saya tidak menjadi PNS dan rezeki itu selalu ada,” tutupnya.(dtk/su/rez)

Baca Juga  Luna Maya Bekukan Sel Telur demi Punya Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *