Pendarahan, Ibu Hamil Terobos Lumpur

by -
DRAMATIS: Seorang korban bencana tanah longsor dan banjir di Kecamatan Sukajaya saat dievakuasi petugas gabungan

METROPOLITAN – Cahaya matahari yang menyinari Desa Pasirmadang pada sore hari itu jadi sebuah harapan bagi keluarga kecil asal Kampung Babakanciberani. Sebab setelah diguyur hujan selama kurang lebih dua jam sejak siang hari, longsoran tanah yang menutup akses jalan dari dan menuju Desa Pasirmadang kembali basah.

Euis (35), warga Kampung Babakanciberani, harus digotong warga dan suaminya agar bisa keluar dari desa dan mendapat perawatan intensif. Sebab setelah tiga hari di posko pengungsian tanpa adanya bantuan yang datang, kandungan Euis yang baru berumur tiga bulan itu mengalami pendarahan.

Puskesmas terdekat dari Desa Pasirmadang yakni berlokasi di Desa Sukajaya yang jaraknya kurang lebih 20 kilometer. Bermodalkan kayu dan sarung, Euis digotong warga untuk mendapat penanganan medis.

Titik-titik longsor yang menutup akses jalan, tanpa ragu dilewatinya. Dengan kaki terkulai, Euis hanya bisa duduk dalam sehelai sarung yang diselendangkan ke sebatang kayu sambil memegang tangan suaminya yang sudah kotor oleh tanah merah.

Selain titik-titik longsor, jalan setapak di tengah hutan yang dibuat warga juga menjadi rintangan tersendiri untuk mengantarkan Euis. Tanah yang licin karena habis diguyur hujan membuat beberapa kali rombongan itu hampir terpeleset saat menuruni bukit.

Selama dua jam, sang suami, Rozak (35), hanya bisa berdoa agar nyawa istrinya selamat. Sesampainya di Desa Jayaraharja, Euis pun langsung diangkut menggunakan ambulans ke Puskesmas Sukajaya yang terpakir tidak jauh dari titik keluarnya rombongan dari hutan.

“Tadi sempat panik karena mengalami pendarahan dan kayaknya sih kelelahan. Memang kita dari pertama di posko, makannya sedikit-sedikit untuk menjaga stok makan, nah badannya dia gak kuat,” jelasnya.

Sementara itu, tak kurang dari lima desa di dua kecamatan, yakni Kecamatan Sukajaya dan Nanggung, yang masih terisolasi. Yakni Desa Pasirmadang, Desa Cileuksa, Desa Urug, Desa Kiarapandak dan Desa Cisarua.

Sebelumnya ada Desa Harkatjaya, Kecamatan Sukajaya yang sempat terisolasi beberapa hari, namun sejak kemarin (3/1) sudah bisa dibuka oleh petugas gabungan, sehingga kini sudah bisa diakses untuk berbagai bantuan dan evakuasi.

“Secara umum total kejadian yang kami catat ada 56 titik kejadian, di beberapa kecamatan di barat Kabupaten Bogor. Dominasi karena tanah longsor dan banjir pada 1-2 Januari lalu itu. Akses juga tertutup di Sukajaya, sehingga disana kita distribusikan logistik pake heli. Sukajaya saja, yang lain sudah bisa lewat darat semua,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Yani Hasan, kemarin.

Hingga saat ini, sambung dia, tercatat ada 11 korban jiwa meninggal dunia karena terbawa hanyut dan terkena material longsoran tanah.

“Yang tiga orang meninggal kebawa banjir, sisanya karena tanah longsor,” imbuh mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bogor itu.

Yani menambahkan, ada pula laporan dari warga soal lima orang yang belum ditemukan karena hanyut atau terbawa longsoran. Untungnya, empat orang sudah dinyatakan selamat dalam keadaan hidup, sedangkan satu orang lagi masih hilang.

Intensitas bencana dan korban meninggal yang terhitung banyak, diakui menimbulkan trauma tersendiri bagi warga di Jasinga atau di Sukajaya. Sayangnya, BPBD Kabupaten Bogor belum menyiapkan treatment psikologis khusus terhadap penanganan trauma korban terdampak bencana.

“Kita belum ada pengalaman itu. Tapi kalau diminta, nanti kita koordinas dengan Dinas Kesehatan (Dinkes),” singkatnya.

Sementara itu, Bupati Bogor Ade Yasin menuturkan, secara umum tak kurang dari lima desa yang tak bisa diakses karena terkena bencana banjir dan longsor.

Sebab, jika dihitung perwilayah, kecamatan yang terkena bencana di wilayah barat Kabupaten Bogor itu yakni Kecamatan Jasinga, Cigudeg, Nanggung dan Sukajaya. Sembari menunggu proses pembukaan jalan wilayah yang terisolasi, pihaknya menyalurkan bantuan melalui jalur udara.

“Jika belum bisa dibuka, ya kita lewa udara dulu sampai bisa terbuka kembali jalur darat. Sampai sore ini (kemarin, red) saja beko masih jalan,” tukasnya

AY, sapaan karibnya menambahkan, korban jiwa 11 orang merupakan data dari daerah yang bisa diakses oleh petugas bantuan. Ia mengakui jumlah itu bisa saja bertambah setelah ada laporan dari lima desa yang masih belum mendapatkan akses jalan darat karena tertutup longsoran dan banjir.

“Yang tercatat 11 orang korban jiwa. Nah yang lima wilayah terisolir itu total kita belum tahu. Berapa korban jiwa,total,” paparnya.

Pemkab Bogor pun berusaha penuh agar akses jalan dari wilayah yang terosolasi bisa segera terbuka. Agar bantuan bisa lebih mudah disalurkan. Sampai saat ini, sambung dia, pihaknya belum menghitung berapa kerugian akibat bencana ini, berikut anggaran yang dibutuhkna untuk perbaikan infrastruktur yang banyak terputus terbawa banjir dan tanah longsor.

“Belum dihitung itu mah,” pungkasnya. (ryn/dil/d/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *