Wabup Tegaskan Penyebab Bencana Masih Dikaji

by -

METROPOLITAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor hingga saat ini masih fokus melakukan penangan pascabencana. Terkait penyebabnya, Pemkab masih menunggu hasil kajian para ahli.

Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan mengatakan, belum ada kesimpulan ke arah penyebab bencana. Sebab, keimpulan tersebut harus melalui kajian dan penelitian para ahli yang saat ini masih berlangsung.

“Pemkab masih fokus ke penanganan bencana. Belum ada kesimpulan ke arah penyebab bencana. Karena itu harus melalui kajian dan penelitian para ahli. Seperti ahli geologi dan berbagai disiplin ilmu,” tegas Iwan.

Pernyataan tersebut merespon berita-berita yang beredar mengenai penyebab bencana, khususnya di wilayah Barat Kabupaten Bogor.

Iwan meminta masyarakat tetap tenang sambil menunggu pernyataan resmi dari para ahli yang tengah melakukan penelitian.

“Ada pemberitaan yang menyebut bahwa wakil bupati bilang penyebab bencana karena penambangan emas, itu hoaks. Saya nggak pernah memberi keterangan soal itu, karena memang butuh kajian dulu. Kita tidak ada kewenangan untuk mengeluarkan statement seperti itu tanpa kajian para ahli,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Wilayah Barat pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sumaryono menyebut penyebab bencana di Kabupaten Bogor, khususnya di wilayah Barat terjadi karena wilayahnya memang rawan longsor. Kondisi ini diperparah dengan curah hujan ekstrim saat pergantian tahun.

“Kecamatan Sukajaya ini memang secara geologi daerahnya rawan longsor. Diperparah kondisi curah hujan yang sangat ekstrim,” kata Sumaryono saat ditemui di Posko Utama Bencana Sukajaya, belum lama ini.

Hasil rapat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan di wilayah Sukajaya dan sekitarnya saat pergantian tahun mencapai 301,6 milimeter. Padahal, curah hujan tersebut merupakan curah hujan dalam waktu satu bulan.

“Saat bencana itu curah hujan di Sukajaya 301,6 milimeter dalam satu hari. Padahal itu curah hujan dalam satu bulan. Artinya curah hujan satu bulan diturunkan dalam satu hari itu,” terangnya.

Menurutnya, curah hujan tersebut tergolong sangat ekstrim. Akibatnya, longsor terjadi bukan hanya di wilayah yang bukan hutan, di perhutanan juga terjadi longsor.

“Kalau kita lihat yang bukan hutan dan hutan sekalipun juga longsor, berarti ada cuaca eksrim. Di Bogor sendiri ini yang terbesar,” ungkap Sumaryono.

Selain itu, pihaknya melakukan pendataan dan penelitian lintas instansi untuk memetakan dan menyimpulkan penyebab bencana. Tim yang dikerahkan terdiri dari Badan Geologi, BIG, Lapan dan instansi terkait lainnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *