Begini Keseharian Mahasiswa Bogor yang Kuliah di Wuhan Saat Masa Karantina di Natuna

by -

METROPOLITAN.id – Usai terisolasi selama sekitar dua minggu di China, ratusan mahasiswa asal Indonesia dievakuasi menuju Indonesia pada awal Februari lalu.

Namun, 238 mahasiswa yang dipulangkan itu tak langsung kembali ke rumah masing-masing. Mereka terlebih dulu mengikuti karantina dan observasi di Natuna, Kepulauan Riau selama dua minggu untuk memastikan terbebas dari virus corona.

Warga Kabupaten Bogor, Yusuf Azhar, menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti karantina.

Sebelum dievakuasi ke Natuna, mahasiswa Central China Normal University ini sudah enam bulan menetap di asrama di daerah Wuhan, Provinsi Hubei.

Ia mengambil jurusan International Trading dan tengah mengikuti program bahasa.

Yusuf mengikuti karantina di Natuna selama dua minggu. Di sana, ia ditempatkan di tenda-tenda khusus. Satu tenda terdiri dari beberapa orang. Yusuf baru kembali ke rumahnya pada Sabtu (15/2) malam.

Ia menceritakan, tak banyak aktifitas yang dilakukan selama proses karantina. Pagi hari sekitar pukul 05.00, Yusuf biasanya bangun untuk menunaikan salat subuh.

Baca Juga  Warga di Bogor Timbun Puluhan Ribu Masker dan Hand Sanitizer di Tengah Merebaknya Corona

Sejam kemudian, semua yang dikarantina wajib keluar tenda untuk melakukan olahraga bersama. Usai itu, semua sarapan lalu mengikuti pengecekan suhu tubuh.

“Jadi pagi bangun salat subuh, lanjut olahraga terus sarapan. Jam 8 pagi kita dicek ksesehatannya, cek suhu tubuh dan lainnya,” kaya Yusuf saat ditemui di kediamannya di Perumahan Griya Cimangir Blok B1 RT 001 RW 003, Desa Gunungsindur, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Minggu (16/2).

Menurutnya, pengecekan dilakukan setidaknya dua kali dalam sehari. Pertama pagi dan kedua malam hari.

Selama dikarantina, ia diberi makan tiga kali sehari. Makanan yang disajikan pun penuh gizi karena selalu dicek oleh tim gizi sebelum dihidangkan.

“Makan sehari tiga kali, sebelum makan ada bagian gizi yang mengecek. Pemeriksaan kesehatan sendiri dua kali, pagi dan malam,” terangnya.

Untuk mengisi waktu luang, para mahasiswa yang dikarantina berinisiatif membuat kegiatan-kegiatan positif. Mereka membuat kelas-kelas sesuai bidang masing-masing seperti kelas Bahasa Inggris dan Mandarin.

Baca Juga  Survei Repro Indonesia: Warga Nilai Pemprov Jabar Terbaik Tangani COVID-19

“Jadi bikin kegaiatan aja di sana, yang punya kemampuan berbagi di bidangnya. Di sana jadinya bikin kelas-kelas. Ada kelas Bahasa Inggris, Mandarin dan lainnya,” ungkap Yusuf.

Beberapa hari kemudian, pemerintah memberikan sejumlah fasilitas tambahan agar para mahasiswa tidak stres di lokasi karantina. Ada alat musik yang disediakan seperti gitar, alat olahraha hingga tempat berkaraoke.

Setelah itu, beberapa hari kemudian, mereka memberi fasilitasi, seperti gitar, alat olahraga, bahkan karaoke juga ada. Jadi suasana juga cair, mesi cuci juga ada,” kenangnya.

Usai melewati masa karantina, Yusuf merasa tenang lantaran ia bersama teman-temanny dinyatakan negatif virus corona. Ia juga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga.

“Setelah dari Natuna itu kita diberi sertifikat dari Kemenkes yang menyatakan negatif corona,” sambung Yusuf.

Ia juga berharap masyarakat tidak cemas dan was-was soal kepulangan mereka dari China. Sebab, semua sudah dinyatakan bebas dari virus corona.

Baca Juga  9 Alat Masak Makanan Hidangan China

“Ibu Bupati saja tidak khawatir karena percaya saya sehat, warga juga harus yakin kalau semua yang dari sana sehat,” tandasnya.

Di tempat yang sama, sang ibu Hj. Aprilia sangat senang anaknya bisa kembali ke pelukan keluarga. Dirinya juga mengaku warga sekitar merespon kepulangan Yusuf dengan baik.

“Bahagia bisa kembali. Sempat khawatir, pasti khawatir. Tapi saya selalu ingatkan untuk pakai masker ketika di China dan berdoa sama Allah agar selalu dilindungi,” tutur sang ibu.

Dirinya juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah yang telah mengantarkan sang anak hingga ke rumah dengan selamat. Tak hanya itu, pemerintah juga tetap memantau kondisi Yusuf selama di rumah.

“Ketika sudah di rumah, ada bagian kesehatan mengecek suhu tubuh. Pihak kesehatan juga berpesan kalau ada keluhan seperti batuk bisa menghubungi dokternya, nanti mereka datang. Alhamdulillah penanganannya baik,” pungkasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *