DPRD Masih Abai Budaya Diskusi

by -

METROPOLITAN.id – Gerakan Indonesia Adil dan Demokratis (Giad) bersama Lembaga Studi Visi Nusantara Maju (LS – Vinus) menggelar diskusi bertajuk ‘Mengukur Kinerja Wakil Rakyat’ di kantor Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (9/1).

Diskusi ini merespon minimnya tingkat kepercayaan publik atas anggota legislatif, tak terkecuali DPRD, berdasarkan sejumlah hasil survei.

Sejumlah pembicara dihadirkan. Di antaranya Ray Rangkuti dari Lingkar Madani Untuk Indonesia (LIMA), Lucius Karus dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI), Donald Fariz dari Indonesian Corruption Watch (ICW), Yusfitriadi dari DEEP hingga CEO Radar Bogor Hazairin Sitepu.

Sementara dari DPR, hadir Anggota Komisi II DPR RI Zulfikar Arse Sadikin. Namun, tak ada satu pun anggota DPRD Kabupaten Bogor yang hadir dalam diskusi tersebut.

Panitia telah berkirim surat ke Ketua DPRD Kabupaten Bogor namun berhalangan hadir karena mendampingi Tim Polo Indonesia berlaga di Thailand. Disposisi diberikan ke pimpinan lainnya tapi tak ada satu pun yang hadir.

Padahal, anggota DPR RI ikut hadir dari Jakarta ke Bogor dengan menggunakan angkutan umum. Narasumber lain pun yang mayoritas dari Jakarta meluangkan waktu untuk diskusi.

Kondisi ini cukup disesalkan karena DPRD dianggap abai akan budaya diskusi.

“DPRD harus terbuka terhadap publik, baik itu kritikan, saran. Sering diskusi itu penting, menumbuhkan budaya belajar. Jangan sampai dipikiran mereka superior,” kata Direktur DEEP, Ysfitriadi.

Jika anggota DPRD tak pedulu diskusi, Yus meragukan kinerja mereka tak akan lebih baik dari yang sudah-sudah.

Berdasarkan survei Litbang Kompas saja, hanya 40 persen yang yakin anggota DPR bisa melaksanakan tugasnya mengawal aspirasi masyarakat.

“Kita semua berharap para wakil rakyat itu mau berkumpul, berdiskusi bersama rakyatnya. Rakyat butuh pencerahan, begitupun anggota dewan. Mereka harus tau aspirasi rakyatnya,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Formappi, Lucius Karus menganggap bahwa dewan saat ini, baik di tingkat daerah maupun nasional, sama-sama tak menggairahkan.

’’Sekarang ini kendali diambil pemerintah. Sekarang ini sudah hilang parlementary heavynya,” tambahnya.

Menanggapi kritikan tersebut, Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Zulfikar Arse Sadikin mengatakan, dewan memiliki gagasan yang sama dengan masyarakat sipil lainnya.

Dirinya memilih bersikap terbuka dan sama sekali tak khawatir jika ‘diserang’ lewat forum apa pun. Bahkan, Zulfikar merasa senang jika ada yang mengingatkannya.

’’Justru saya senang ada yang mengingatkan. DPR sendiri memang belum bisa kita lihat karena baru lima bulan,” pungkasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *