Pemugaran Prasasti Batu Tulis, Bima Arya Mau Pindahkan Makam Bung Karno?

by -

METROPOLITAN.ID – Belakangan ini, publik diramaikan dengan informasi dan pemberitaan seputar kerajan lampau bangsa ini. Mulai dari Keraton Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo, hingga Sunda Empire, menjadi trending pembicaraan di tengah masyarakat.

Beda dengan Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, Pemerintah Kota Bogor justru tengah fokus menggali dan mencari sejarah Kota Hujan, lewat sejumlah prasati dan peninggalan kerajaan sunda terdahulu. Seperti sejumlah prasasti yang ada di kawasan Batu Tulis.

Sejak pekan lalu, Pemkot Bogor, yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, kerap kali melakukan kajian, tentang sejumlah situs bersejarah yang ada di Kota Hujan. Tak tanggung-tanggung, Bima juga turut mengundang sejumlah sejarawan, budayan dan akademisi untuk memastikan secara ilmiah jejak sejarah bangsa ini.

Bahkan pada Sabtu (01/02) kemarin, Bima bersama Tim Bogor Historia, mendatangi sembilan prasasti bersejarah, yang tersebar di sejumlah wilayah di Batu Tulis. Seperti Prasasti Batu Dakon, Situs Rangga Pati, Batu Congkrang, Batu di Rumah Warga depan Puskesmas, Batu Lingga di Rumah Warga (Enci), Purwakalih, Situs Rangga Gading, Situs Batu Macan, hingga Situs Kuta Dani Lawang Gintung.

Baca Juga  Harusnya Chelsea Menang 3-1

Bima mengatakan, gerakan yang dilakukan pihaknya ini tak lain untuk mengatahui sejarah Kota Bogor terdahulu. Juga sebagai bentuk komitmen dirinya, yang ingin menjadikan Kota Hujan sebagai Heritage City (Kota Warisan Budaya,red).

Bima menegaskan, penataan kawasan Prasasti Batu Tulis yang dilakukan pihaknya, tidak ada kaitannya dengan permintaan mendiang mantan presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno. Meski dahulu Soekarno pernah meminta dimakamkan di Istana Batu Tulis, namun hal tersebut bukan menjadi alasan digalakannya revitalisasi Prasasti Batu Tulis ini. “Tidak sampai kesana,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Bogor Historia Yudi Irawan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pemkot Bogor menjadi langkah awal yang baik, dalam melakukan penataan kawasan heritage Batutulis. Selain melibatkan akademisi, kehadiran komunitas atau volunteer yang konsen dan peduli terhadap peninggalan sejarah juga perlu dilakukan.

Baca Juga  PLN APJ Bogor Tebar Bibit Ikan di Telaga Saat

Menurutnya, di setiap kota maupun kabupaten perlu adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang didalamnya itu terdiri dari para ahli di bidang arkeologi, antropologi, sejarah, hukum, arsitektur, filologi dan museologi dan komunitas itu ada di binaan mereka.

“Ini perlu ditindaklanjuti, dengan melibatkan sejumlah pihak termasuk dengan para ahli yang berkompeten di bidang yang berkaitan dengan kepurbakalaan, dan segera melakukan koordinasi dengan Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya,” tandasnya.

Sekedar di ketahui, pada 21 Juni 1970 mantan presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno wafat. Konon sang proklamator berwasiat, jika dirinya meninggal kelak ia ingin di makamkan di Istana Batu Tulis, Kota Bogor bukan ditempat lain.

Baca Juga  Wisatawan Bandel Saat Libur Nataru Bisa Bikin Izin Tempat Wisata di Bogor Dicabut

Namun permintaan tersebut ditolak pemerintah, hingga munculnya Keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1970, tentang penyelenggaraan upaca pemakaman kenegaraan sebagai penghormatan negara kepada Soekarno, sebagai bapak proklamator kemerdekaan.

Dalam Kepres Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1970, pemerintah menolak wasiat mendiang Soekarno yang ingin dikebumikan di Istana Batu Tulis Kota Bogor. Pada Pasal Kedua, pemerintah menetapkan Blitar sebagai lokasi pemakaman bagi sang proklamator kemerdekaan.(ogi/b/suf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *