PSBB, Ojol di Bogor Dilarang Bawa Penumpang

by -

METROPOLITAN.id – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Bogor akan mulai diterapkan besok, Rabu (15/4). Kebijakan ini diambil untuk membatasi aktivitas warga di luar rumah untuk menekan penyebaran virus corona atau covid-19.

Salah satu yang dibatasi adalah angkutan umum, termasuk ojek online (ojol). Di Kabupaten Bogor, Bupati Bogor mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Artinya, ojek online hanya boleh mengantar barang, bukan untuk mengangkut penumpang.

“Ojol kita masih mengacu aturan Kemenkes karena kita menduplikasi ke sana,” kata Bupati Bogor Ade Yasin, Selasa (14/4).

Selama PSBB, dirinya mengaku telah menentukan 55 lokasi checkpoint atau penyekatan di jalan raya.

Baca Juga  Tahun Ini Dua Waduk Mulai Dibangun

“Checkpoint di 55 titik se-Kabupaten Bogor yang jalan-jalan besar seperti ini. Tapi kalau di desa sudah ratusan (penyekatan, red),” terangnya.

Senada, Kapolres Bogor AKBP Roland Ronaldy mengatakan, teknis pelaksanaan PSBB mengacu pada Peraturan Bupati (Perbup). Beberapa poin di antaranya yakni membatasi jumlah penumpang sebanyak 50 persen.

Sementara untuk ojek online, dirinya menegaskan tidak diperkenankan membawa penumpang. Terkait sanksi, dirinya mengaku bakal menegur terlebih dulu dengan meminta pengendara dan penumpang putar arah atau kembali lagi.

“Aturannya sudah jelas tidak diperkenankan membawa penumpang, jadi hanya membawa barang yang boleh,” ujar Roland usai sosialisasi dan simulasi PSBB di Flyover Cibinong, Selasa (14/4) sore.

Baca Juga  Sering Banjir, Ini Kata Warga Soal Perbaikan Drainase di Bojongkulur Bogor

Selama PSBB, petugas juga bakal melakukan sejumlah pengecekan seperti suhu tubuh dan menyebar imbauan tekait virus corona.

“Personel yang dikerahkan sekitar 1020 orang. Gabungan Polres, Kodim dan Pemkab Bogor,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang pengemudi ojek online, Alam, mengaku bingung dengan kebijakan tersebut. Sebab, di tengah segala keterbatasan, ia harus tetap memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

“Kita juga bingung kalau pemerintah ngelarang, karena kalau yang diangkut cuma paket, nggak nutup juga buat kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada bantuan per bulan itu belum bisa nutup, tetap harus cari di luar kekurangannya,” ungkapnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *