22 Positif 30 Orang Dipantau, Klaster Semplak Terbanyak

by -
Perawat medis berada di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong Kabupaten Bogor, Selasa (3/3/2020). RSUD Cibinong menyiapkan ruang isolasi khusus untuk pasien yang terjaring virus corona. Sandika Fadilah/Metropolitan

Klaster keluarga yang terinfeksi corona kembali mendominasi penambahan kasus baru di Kota Bogor. Teranyar, satu keluarga di Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat, terinfeksi virus asal Wuhan tersebut. Di klaster Semplak sebanyak 22 orang pun dinyatakan positif. 

DARI 22 orang yang terin­feksi itu 16 orang di antaranya merupakan warga Kota Bogor dan enam warga Kabupaten Bogor. Penyebarannya ter­jadi di salah satu keluarga usai menggelar tahlilan pada Sa­btu hingga Jumat (8-14/7).

Ketua Gugus Tugas Perce­patan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Bogor, Dedie Rachim, menyebut lahirnya klaster keluarga Semplak itu dikarenakan adanya aktivitas keagamaan di salah satu rumah warga. ”Ada acara keagamaan awalnya sekitar beberapa minggu lalu. Keluarga kumpul. Setelah itu ada beberapa yang menunjukkan gejala dan di-swab hasilnya positif,” kata Dedie, Selasa (4/8).

Salah seorang warga yang diduga menjadi carrier Co­vid-19 pun ternyata sudah berkontak dengan banyak orang, terhitung sejak Rabu hingga Minggu (8-26/7), di mana orang terduga carrier itu melakukan swab.

Dari catatan tracing Tim GTPP Covid-19 Kota Bogor, terduga carrier itu sempat bekerja di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan bermain bola, sehingga menghasilkan kontak dengan lebih 30 orang. ”Dia juga merupakan warga Kabupaten Bogor yang mengik­uti acara di Kota Bogor. Jadi ini salah satu imported case terbesar,” ucapnya.

Secara garis besar, imported cases atau kasus penularan positif Covid-19 yang berasal dari luar Kota Bogor menjadi penyumbang terbesar di Kota Hujan. Tak heran jika Pemerin­tah Kota (Pemkot) Bogor men­jadikan hal tersebut sebagai catatan. “Ini komposisi paling besar dan penyumbang kasus positif tertinggi atau terba­nyak di kita,” jelasnya.

Sebab, berdasarkan data dari Gugus Tugas Covid-19 Kota Bogor, jumlah total pasien positif Covid-19 di Kota Bogor per Selasa (4/8) mencapai 306 kasus. Dengan rincian 202 orang dinyatakan sembuh, 21 orang meninggal dan 83 orang lainnya masih dalam penga­wasan dan penanganan.

Untuk itu, Dedie meminta masyarakat yang hendak dan setelah pergi dari Kota Bogor agar melaporkan diri kepada RW Siaga Covid-19 setempat agar bisa dipantau dan dia­wasi demi meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan bersama.

Sementara itu, dari 22 orang yang dinyatakan positif Co­vid-19, 13 orang di antaranya harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor. Sisanya melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir, membenarkan hal tersebut. Mereka sebelumnya dijemput pihak RSUD menggunakan ambulans. ”Iya 13 orang ter­konfirmasi positif dan dirawat di RSUD Kota Bogor,” katanya kepada Metropolitan.id, ke­marin.

Menurutnya, sejauh ini su­dah ada 34 orang terkonfir­masi positif yang dirawat di RSUD Kota Bogor. Selain itu, sebanyak 56 Pasien Dalam Pemantauan (PDP) juga tengah menjalani masa isolasi di RSUD Kota Bogor. ”Jadi memang dalam dua pekan terakhir ini ada lonjakan positif yang cu­kup besar ya, terutama dari klaster keluarga. Nah, yang di Semplak ini salah satunya,” ujar Ilham. Terpisah, Lurah Semplak Denny mengatakan, penjemputan warga yang ter­konfirmasi positif Covid-19 itu terjadi pada Senin (3/8). Di mana ada delapan orang yang masih satu keluarga di­bawa ke RSUD Kota Bogor. “Benar, tapi delapan orang (warga Semplak, red) yang dijemputnya,” katanya.

Menurutnya, kedelapan orang yang dijemput itu ter­lihat sehat tanpa menunjuk­kan gejala Covid-19. Bahkan, sebelum dilakukan penjem­putan, mereka masih tetap produktif di lingkungan seki­tar. “Seperti biasa saja, nggak ada gejala,” ujarnya.

Karena itu, sambung Denny, warga sekitar berinisiatif menutup akses ke beberapa wilayah. Di antaranya menu­ju Kampung Pilar, Swadaya dan Pangbat. Hal itu untuk meminimalisasi penyebaran virus corona.

”Lockdown itu inisiatif war­ga, hasil musyawarah. Hanya bambu saja yang dipasang agar nggak ada warga yang masuk,” imbuhnya seraya memastikan pihaknya tidak menginstruksikan penjagaan wilayah. “Kami juga sudah memerintahkan RT/RW se­tempat untuk mendeteksi siapa saja yang berkontak dengan delapan pasien ter­sebut,” sambung Denny.

Di sisi lain, tambah Denny, sejauh ini di wilayah tersebut sudah ada 16 kasus yang terin­feksi virus corona. Di mana dua orang di antaranya sem­buh, lima orang masih mela­kukan isolasi mandiri dan sembilan orang sedang dii­solasi di rumah sakit kota. ”Setahu saya ada 16, soalnya belum dapat info lagi,” ujarnya.

Di lain hal, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kem­bali memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pra-Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Kota Bogor selama satu bulan ke depan, terhitung mulai Selasa hingga Kamis (4/8-3/9).

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, perpanjangan PSBB di masa pra-AKB dila­kukan lantaran hingga kini jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Bogor terus bertambah. ”Situasi ini masih jauh dari kata aman. Jauh dari kata se­lesai. Sebab kasus positif Co­vid-19 terus bertambah,” kata Bima.

Bima mengaku khawatir terus terjadi penambahan kasus positif. Untuk itu, ia meminta masyarakat menya­dari pentingnya menjaga imunitas dan menerapkan protokol kesehatan. ”Saya membaca situasi saat ini sangat mengkhawatirkan. Kasus Covid naik akibat kesa­daran menurun, disiplin menurun. Ini sangat berba­haya,” ucapnya.

Berdasarkan laporan yang ia terima, tren penambahan ka­sus positif belakangan ini ada tiga kategori. Dari klaster kelu­arga, klaster perjalanan ke luar kota, penyebaran di ka­wasan perkantoran dan pusat perbelanjaan. ”Ini semua rata-rata terjadi karena ketidakpe­dulian mereka terhadap pro­tokol kesehatan,” imbuhnya.

Namun, untuk memutus rantai penyebaran dan penu­laran Covid-19 di Kota Bogor, pihaknya akan terus melaku­kan rapid dan swab test mas­sal di semua sektor dan fasili­tas publik. Mulai dari tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, terminal, stasiun, permukiman hingga sektor lainnya yang dinilai rentan menjadi lokasi penyebaran Covid-19.

Tak hanya itu, pihaknya juga konsisten memperketat pro­tokol kesehatan di ruang ling­kup pemerintah daerah guna mencegah penyebaran virus pada Aparatur Sipil Negara (ASN). ”Saya sudah memerin­tahkan tak usah ada rapat. Kalau mendesak dan diperlu­kan tatap muka, pertemuan diadakan maksimal 30 menit dan jumlahnya tidak boleh banyak-banyak,” tegasnya.

Bima juga mengaku akan memperketat dan memba­tasi ASN melakukan perjala­nan maupun kunjungan dinas ke luar kota pada masa PSBB pra-AKB tahap dua ini. Te­tapi apabila yang pulang dinas dari wilayah zona merah maka harus dilakukan peme­riksaan swab. ”Kita akan ter­bitkan petunjuk teknisnya. Siapa saja yang keluar kota harus lapor. Tidak ada perja­lanan dinas, semua akan kita batasi dan perketat,” tandas­nya. (cr1/dil/d/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *