Bima Larang Rapat, Perketat Perjalanan Dinas

by -

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor secara resmi memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa Pra Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) satu bulan ke depan. Wali Kota Bogor, Bima Arya, mengatakan, perpanjangan PSBB di masa Pra-AKB tersebut dilakukan lantaran hingga saat ini kasus pertumbuhan positif Covid-19 di Kota Bogor terus terjadi.

”SITUASI ini jauh dari kata aman, jauh dari kata selesai. Bahkan, kasus positif Covid-19 terus merayap naik,” katanya. Bima mengaku khawatir dengan kondisi saat ini. Sebab, jumlah kasus positif Covid-19 terus bertambah, sementara kesadaran masyara­kat terus menurun. ”Saya membaca situasi saat ini sangat mengkhawatirkan. Covidnya naik, tapi kekhawatiran dan kesadaran menurun, disiplin menurun, ini sangat berbahaya,” ungkapnya.­

Berdasarkan laporan yang diterimanya, Bima mengaku jika tren penambahan kasus positif belakangan ini terjadi pada tiga kategori. Mulai dari klaster keluarga, klaster perjalanan ke luar kota hing­ga penyebaran di kawasan perkantoran dan pusat per­belanjaan. ”Ini semua rata-rata terjadi karena ketidak­pedulian,” tegasnya.

Atas hal ini, pihaknya menga­ku akan terus menggencarkan Rapid dan Swab Tes secara masif di semua sektor. Mulai dari tenaga kesehatan, fasili­tas kesehatan, terminal, sta­siun, pemukiman hingga sektor lain yang dinilai rentan menjadi lokasi penyebaran Covid-19.

Selain itu, Bima juga menga­ku akan memperketat proto­kol kesehatan di lingkungan pemerintah daerah. ”Saya memerintahkan pemkot tak usah rapat kalau tidak perlu. Sebisa mungkin hindari. Ka­laupun tatap muka maksimal 30 menit. Massa rapat juga jangan banyak-banyak,” te­rangnya.

Orang nomor wahid di Ko­ta Hujan ini juga mengaku akan memperketat perjalanan dan kunjungan dinas pada masa PSBB Pra-AKB tahap dua. ”Kita akan terbitkan pe­tunjuk teknisnya. Siapa saja yang keluar kota harus lapor. Siapa yang pulang dari zona merah harus Swab Tes. Tidak ada perjalanan dinas. Semua akan kita batasi dan perketat,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kota Bogor, Dedie A Rachim, mengatakan, secara garis besar Imported Cases atau kasus penularan positif Covid-19 dari luar Kota Bogor menjadi penyumbang terbesar di Kota Hujan.

Tak heran jika pemkot men­jadikan ini sebagai catatan. Berdasarkan data Gugus Tu­gas Covid-19 Kota Bogor, jumlah total pasien positif Covid-19 di Kota Bogor pada Senin (3/8) mencapai 301 kasus positif. Dengan rincian 202 sembuh, 21 meninggal dan 48 lainnya masih dalam pengawasan dan penanganan.

Setelah evaluasi bersama GTPP Covid-19 Kota Bogor, dari 301 kasus positif di Kota Bogor, sekitar seratus lebih di antaranya berasal dari Impor­ted Cases. ”Kota Bogor ini sebagian besar penularannya dari Imported Case. Jadi orang-orang yang bertugas, bekerja dan beraktivitas di luar Kota Bogor. Ini komposisi paling besar dan penyumbang kasus positif tertinggi di kita,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga me­minta masyarakat yang hendak dan setelah pergi dari Kota Bogor agar melaporkan diri kepada RW Siaga Covid-19 supaya bisa dipantau dan diawasi demi meminimali­sasi hal yang tak diinginkan. (ogi/c/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *