HUT RSUD Kota Bogor Perkenalkan Lab PCR

by -

METROPOLITAN – Rumah Sakit Umum Daerah RSUD Kota Bogor tepat berusia enam tahun pada Jumat lalu. Dalam acara yang digelar di halaman RSUD Kota Bogor ini, turut hadir Wali Kota Bogor Bima Arya dan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim.

Acara dimulai dengan kegiatan bagi-bagi masker dan hand sanitizer kepada pengendara yang melintas di Jalan dr Semeru. Tujuannya untuk mengingatkan masyarakat agar disiplin pada protokol kesehatan.

Direktur Utama RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir, mengaku perlu ada pengingat di masyarakat agar pandemi ini tidak berkepanjangan. ”Kita tampil sebagai pengingat bagi masyarakat,” katanya.

Dalam rangkaian acara HUT ke-4 ini, RSUD Kota Bogor memperkenalkan laborato­rium baru khusus mendiag­nosa pasien Covid-19, yakni laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR). Lab ini dibuat agar Kota Bogor bisa dengan cepat mendiag­nosa pasien covid-19 yang selama ini harus ke Jakarta atau Bandung. ”Dengan lab ini kita bisa mendiagnosa pasien lebih cepat, bisa satu hari,” katanya.

Laboratorium ini memiliki alat bernama Roche Z 480 yang didatangkan dari Dinas Kese­hatan (Dinkes). Alat ini me­miliki kapasitas sekali running untuk menguji 96 sample.

Ditemui secara eksklusif, Kepala Laboratorium RSUD Kota Bogor, Eko Bagus, men­jelaskan, alat Roche Z 480 ini sekali menguji sample yang berjumlah 96 dengan waktu 90 menit. ”Alat ini bagus, jadi kita bisa mendi­agnoasa pasien lebih cepat,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya, mengaku senang dan bangga dengan hadirnya lab ini. Dengan be­gitu, lab ini bisa membantu target pemkot untuk menga­dakan 11.000 swab tes sesuai anjuran WHO yaitu 1% dari jumlah penduduk. ”Sekarang kita baru 8.400 tes swab, ma­sih kurang,” katanya.

Bima Arya juga berharap RSUD Kota Bogor baiknya memiliki nama yang diambil dari tokoh dokter di Kota Bogor. ”Silakan nanti usulan ini dibicarakan dirut dan teman-teman lain,” ujarnya.

Bahkan, Bima Arya juga menitip pesan kepada jajaran di RSUD Kota Bogor terkait protokol kesehatan. ”Kita ha­rus lindungi tenaga kesehatan, karena rumah sakit adalah tempat berisiko,” pungkasnya. (cr1/b/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *