Kak Seto Minta Anak Diberi Jaminan Naik Kelas

by -

METROPOLITAN – Niat pemerintah membuka kembali sekolah di zona nonhijau mendapat sorotan. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Kak Seto Mulyadi, meminta seluruh masyarakat bersabar dan bertahan di rumah. Di masa belajar dari rumah ini, banyak aduan yang masuk. Ada orang tua yang kebingungan hingga menimbulkan tekanan-tekanan. ”Amat sangat dipahami. Reaksi wajar ketika kondisi darurat dan ini bukan lokal, melainkan global,” ungkapnya.

Kendati demikian, pria yang akrab disapa Kak Seto itu meminta semua pihak memikirkan hak-hak anak. Saat ini hak paling mendasar adalah hak hidup, hak mendapat perlindungan, hak tumbuh kembang dan hak berpartisipasi. ”Kalau buka sekolah, jelas melanggar keras hak hidup,” tegasnya.

Selain itu, Kemendikbud juga dituntut segera mengeluarkan kurikulum darurat untuk menyi­kapi proses pembelajaran saat ini. Termasuk pengawasan atas implementasi Surat Edaran Mendikbud 4/2020. Isinya tentang siswa yang tidak boleh dibebani menuntaskan seluruh capaian kurikulum di masa pandemi.

Dia juga meminta ada jaminan anak naik kelas selama masa pandemi, sehingga tidak ada beban. ”Jangan sampai ada kasus anak diancam tidak naik kelas karena tidak mau tatap muka atau capaian kurikulum tadi,” tuturnya. Pendidikan saat ini, lanjut dia, sebaiknya lebih mengajarkan soal kecakapan hidup. Salah satunya bagaimana menghadapi Covid-19.

Sementara itu, Ketua Umum IDAI dr Aman Pulungan SpA (K) menyampaikan, ada sejumlah alasan mengapa anak harus tetap belajar dari rumah. Salah satunya kematian anak Indonesia akibat Covid-19 saat ini paling tinggi jika diban­dingkan negara di Asia Pasifik.

Merujuk pada data IDAI, jumlah anak terpapar Covid-19 mencapai angka ribuan. Sementara yang meninggal akibat Covid-19 sekitar 60 anak. Jumlah meninggal sudah tak sebanyak sebelumnya, tetapi kasus positif terus bertambah.

”Ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini bukan hoaks, karena kami yang merawat,” tuturnya dalam diskusi Perlindungan Anak di Masa Pandemi secara daring kemarin.

Dia menegaskan, rasa bosan di rumah tidak sebanding dengan kesehatan anak. ”Bagi orang tua yang mau anak sekolah hari ini, coba dipikir­kan kalau anak sakit, siapa yang periksa PCR, di mana mau dirawat? Apa sekolah yang merujuknya?” papar alumnus Universitas Indone­sia (UI) tersebut. (jp/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *