Open Bidding Sekda Masih Sepi Peminat, PNS Bogor ogah Jadi Sekda

by -

Sejak pendaftaran lelang jabatan atau open bidding untuk kursi sekretaris daerah (sekda) dibuka akhir Juli, hingga kini belum ada satu orang pun Pegawai Negeri Sipil (PNS Bogor) yang mendaftar.

DIKETAHUI, Sekda Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat, bakal memasuki masa purna bakti pada Ok­tober 2020. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor pun berharap sudah punya penggantinya. ”Pendaf­taran sampai 21 Agustus. Sampai sekarang belum yang daftar,” terang Kabid Formasi Data dan Kepangkatan pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), Elyis Sontikasyah, Selasa (11/8).

Jika melihat data kepegawaian di BKPSDM, ada sebelas PNS yang memenuhi criteria administrasi untuk mengikuti open bidding Sekda Kota Bo­gor. Meski hingga saat ini belum ada yang mendaftar, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, berharap ASN se­nior bisa unjuk gigi dan se­gera mendaftarkan diri. ”Ka­lau menurut saya semua layak. Yang senior-senior, kepala dinas, asisten, kepala badan silakan mendaftar,” kata Dedie.

Dedie menjelaskan, posisi sekda merupakan pendamping kepala daerah, sehingga di­butuhkan ASN senior yang memahami administrasi, bi­rokrasi dan bisa melakukan konsolidasi, baik internal maupun eksternal.

Dedie juga menyerahkan proses pemilihan sepenuhnya kepada tim panitia seleksi. ”Kita serahkan ke tim pansel. Jadi, tim pansel itu nantinya akan menyerahkan tiga besar pada kita kemudian akan di­pilih kepala daerah,” jelasnya.

Terpisah, Sekda Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat, menilai jika jabatan sekda tak jauh beda dengan jabatan kepala dinas. Sehingga ia berharap ASN senior yang ada mau sesegera mungkin mendaf­tarkan dirinya. ”Mampu nggak mampu ya sama. Berbeda sedikit sama kepala dinas, yang pasti melaksanakan dan koordinasi kebijakan mem­bantu kepala daerah,” katanya.

Meski begitu, ia menekankan kepada mereka yang punya peluang harus lepas dari li­bido politik karena akan me­mecah pola pikir. Ade Sarip ingin mereka yang berpeluang melepas hal itu karena beda tipis antara kepala dinas dengan sekda. ”Jangan ada libido politik, karena pola pikir, sikap akan beda. Birokrat tulen akan beda dengan orang politik. Tenaga dan pikiran akan terbagi. Tidak ada libido politik, ” tegasnya.

Ditanya soal peluang alum­ni IPDN atau non IPDN yang idealnya jadi sekda, ia meni­lai hal itu tidak terlalu ber­beda karena semua punya hak dan kewajiban yang sama saat bekerja hingga saat ini. ”Sama saja bagi saya. Semua punya hak peran yang sama. Yang jelas orang yang bisa merawat kebersamaan juga. Nggak ada cerita sendiri-sendiri, harus menyeluruh. Jadi panutan,” papar Ade Sarip.

Ke depan, sambung dia, ma­sih ada Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan sekda baru nanti. Salah satunya tu­juan yang tertuang dalam Ren­cana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) hingga 2025 yakni mewujudkan masyarakat Kota Bogor yang madani, pemerintahan yang amanah hingga Kota Jasa yang nyaman. Termasuk implemen­tasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). ”Penguatan infra­struktur juga. Masih banyak PR-nya. Jadi kalau nyaman, cita-cita itu, jangka panjang, nggak perlu bicara yang lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur De­mocracy and Electoral Em­powerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi, menilai, sepinya peminat jabatan Sekda di Kota Bogor lantaran beberapa hal. Di antaranya mereka memiliki rasa khawa­tir yang tinggi untuk mengik­uti ritme kerja Bima Arya, terlebih Bima mempunyai banyak program yang cukup atraktif bagi dirinya. “PNS mana saat ini yang tidak ing­in jadi sekda, apalagi mereka sudah memenuhi syarat ad­ministrasif,” kata Yus.

Calon sekda di Kota Bogor ini harus bisa menerjemahkan apa yang diinginkan wali kota dan wakilnya, sekaligus menjadi jembatan antara Pemkot Bogor dengan DPRD. Selain itu, Yus menilai jika tidak ada satu pun pejabat yang mendaftarkan diri, Bima Arya harus segera berdiskusi dengan pejabat yang telah memenuhi persyaratan men­jadi sekda. “Idealnya sebelum memilih sekda, Bima Arya harus berkomunikasi terlebih dulu agar para peminat untuk menjadi sekda ini banyak,” pungkasnya. (dil/b/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *