Pengadaan Batik ASN Pakai Duit Pribadi

by -

METROPOLITAN – Kepala Dinas Perindustrian dan Per­dagangan (Disperindag) Kota Bogor, Ganjar Gunawan, me­negaskan pembelian batik ASN tidak ada satu rupiah pun meng­gunakan dana APBD. Sebab, OPD tidak diperbolehkan menganggarkan pengadaan baju batik.

“Jadi tidak ada satu rupiah pun dana APBD di pembelian batik ASN. Karena aturannya tidak boleh OPD menganggar­kan untuk pengadaan baju Batik. Sehingga pembelian kain batik ASN ini murni mengguna­kan dana pribadi masing-ma­sing ASN di masing-masing OPD, dan sifatnya juga tidak bisa memaksa,” katanya, Rabu (12/8).

Untuk para perajin batik ter­sebut, jelas Ganjar, adalah pe­rajin binaan Dekranasda. De­kranasda Kota Bogor hanya sebagai koordinator saja untuk pemesanan kain batik ASN dari setiap OPD. Hal itu untuk memudahkan proses pemes­anan ke perajin.

“Karena kemampuan pro­duksi masing-masing perajin batik itu tidak sama per harinya. Sehingga kuotanya diatur ber­dasarkan kesepakatan bersama para perajin batik. Dan tidak ada satu rupiah pun dana dari belanja ke perajin yang diperun­tukkan untuk Dekranasda Kota Bogor,” tegasnya.

Mengenai harga batik, tutur­nya, merupakan hasil musya­warah dan kesepakatan ber­sama para perajin batik dengan Dekranasda dan harga tersebut sudah jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan.

“Batik ini adalah batik cap dan tulis. Dibuat handmade oleh para perajin batik Bogor, dengan tujuan memberdayakan dan menyejahterakan para perajin batik Bogor. Kalau bukan kita, siapa lagi?” kata Ganjar.

Motif batik ASN adalah hasil sayembara batik yang sebelum­nya. Sekitar 2015 pernah dia­dakan di mal Botani Square kerja sama dengan Dekranas­da Kota Bogor. Kemudian para pemenang motif batik tersebut dilaporkan hasilnya kepada wali kota.

“Setelah melalui pertimbangan yang matang, maka dipilihlah motif batik ASN yang sekarang diproduksi,” sebutnya.

Ketua Harian Dekranasda Kota Bogor itu menambahkan, ukuran kain batik ASN yang diproduksi para perajin ada dua ukuran, yakni 2,5 meter dengan harga Rp275 ribu dan 2,25 me­ter Rp225 ribu.

“Hal ini disepakati karena ukuran badan masing-masing ASN itu tidak sama alias ber­beda-beda,” jelasnya.

Untuk pembuatan batik ASN, sambungnya, turut melibatkan lima perajin binaan di Kota Bogor melalui Disperindag dan Dekranasda, yakni Batik Tra­disiku, Batik Handayani Geulis, Batik Pancawati, Batik Paniisan dan IRD Batik.

Sementara itu, pemilik Batik Pancawati, Sri Hartati yang merupakan salah satu perajin batik ASN menyatakan sejak 2019 pihaknya telah mempro­duksi kurang lebih 300 kain batik ASN. Mengenai pemesa­nannya ia diminta Dekranasda Kota Bogor. “Tapi semenjak pandemi belum produksi lagi dan di rumah kurang lebih ada 70 potong lagi,” katanya. (*/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *