Waduh! Pemain Timnas Indonesia Positif Corona?

by -

METROPOLITAN – Kemen­terian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) meminta PSSI untuk transparan kepada pu­blik jika ada pemain Timnas Indonesia yang positif terpa­par virus corona (Covid-19). Hal itu diungkapkan menyusul molornya agenda latihan anak asuh Shin Tae-yong tersebut.

Sesmenpora, Gatot S Dewa Broto, sejatinya menghor­mati keputusan PSSI untuk menunda pemusatan latihan (TC) sampai memastikan kondisi kesehatan para pe­main.

”PSSI mungkin harus belajar dari tataran pemerintah. Pre­siden saja mengumumkan waktu itu Pak Pratikno men­gatakan tanggal 13 Maret, Menteri Perhubungan positif (Covid-19, red). Baru saja Gubernur Kepri (Kepulauan Riau, red) terkena juga tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata Gatot.

”Di kami (Kemenpora, red) tempo hari, ada yang kena juga kami sama kami sam­paikan. Belajar dari lingkungan itu, bahwa jika ada yang ter­papar Covid-19 itu bukan aib,” sambungnya.

Gatot tidak ingin nanti ada prasangka satu sama lain ter­kait orang yang terpapar virus corona. Namun, Gatot me­nyebut adalah hak PSSI untuk tidak memberikan laporan ke Kemenpora terkait pemain Timnas Indonesia yang ter­kena Covid-19.

Meski demikian, Kemen­pora mengapresiasi sikap PSSI yang memilih untuk menunda pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia jika alasannya karena ada pemain yang terpapar Covid-19. Hal itu menandakan bahwa PSSI tidak abai dalam menjalankan protokol Covid-19.

Menurut Gatot, tidak ada gunanya Timnas Indonesia latihan kalau kondisi fisiknya terganggu. Atau memilih menunda latihan seandainya ada satu atau dua pemain yang terkena virus corona.

Sebelumnya, PSSI menjad­walkan TC Timnas Indonesia dimulai pada Sabtu (25/7). Kemudian ditunda dengan alasan permintaan dari pela­tih Shin Tae Yong sambil menunggu hasil tes swab sampai Sabtu (1/8).

Namun sampai pada (1/8) latihan juga belum digelar. Kali ini PSSI tidak memberi­kan alasan kembali tertunda­nya TC Timnas Indonesia U-19 dalam persiapan menuju Piala Dunia U-20 2021 men­datang.

”Latihan tertunda itu urusan mereka. Kalau ada alasan kenapa tertunda, pasti ada anggaran yang berkurang per harinya. Dan itu harus dila­porkan. Kalau enggak, nanti jadi temuan. Poinnya kalau sudah swab segera dimulai pelatnas karena MOU (Me­morandum of Understanding) kan sudah. Kalau mundur-mundur kasihan Kemenpora dan PSSI, kan auditor melihat juga nanti. Kalau seandainya mundur jangan terlalu lama,” tutur Gatot.

Di sisi lain, Gatot menya­dari jika sepak bola merupa­kan cabang olahraga (cabor) yang memiliki tingkat body contact tinggi. Penundaan TC sekaligus menandakan sepak bola sebagai cabor yang konsisten melakukan tes swab dan PCR sebagai persyaratan utama sebelum memulai pelatnas. ”Seandainya ada yang terindikasi (positif Co­vid-19, red), meskipun hara­pannya tidak, mohon untuk segera diisolasi, jangan di­campurkan jadi satu. Kalau ada yang terindikasi ya tidak apa-apa. Wong mereka yang terkena (Covid-19, red) bukan orang yang nista, tapi orang yang perlu kita kasihani. Se­hingga disampaikan saja,” imbuhnya.

”Kita kan tidak tahu ini yang kena sesungguhnya siapa, ternyata karena tidak ada ke­terbukaan dan cabor dengan kontak badan tinggi bisa jadi klaster baru kan enggak lucu. Ini adalah wabah, jangan jadi aib, tapi harus kita kasi­hani bersama,” pungkas Gatot. (cnn/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *