Yati, Enam Tahun Tinggal di Gubuk Reyot

by -

Warga Kampung Situlamping, RT 003/004, Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Yati (48), hanya pasrah tinggal di Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang mirip gubuk reyot.

ENAM tahun sudah, ia ber­tahan dengan kehidupannya yang serbaterbatas. ”Iya, ibu sama saya sudah tinggal di saung ini kurang lebih 6 tahun,” ujar anak Yati yang tidak ingin disebutkan namanya.

Keluarga Yati yang sehari-hari bekerja sebagai buruh di ladang ini hanya mendapat­kan upah Rp700.000 per bulan. ”Itu pun kadang dibayarnya nggak tentu dan terkadang dua kali bayar,” terangnya.

Ia mengaku lahan yang di­tinggalinya berstatus hak milik. Namun karena keter­batasan ekonomi, bangunan rumah dibuat seadanya. ”Me­mang kalau orang bilang ini bukan rumah, tapi gubuk,” ujarnya.

Hal ini terlihat dari fisik bangunan yang terbuat dari bambu, bilik dan terpal plas­tik. Ukurannya sendiri hanya 6×4 meter. Di bangunannya, keluarga Yati menambahkan panggung untuk tidur maupun duduk santai. Tidak ada kesan layak apalagi mewah. Bahkan, rumah Yati masuk kategori tidak layak.

Namun setelah rumah Yati ramai jadi perbincangan, kini bantuan terus mengalir. Bahkan, kepala desa (kades) Sukaresmi langsung menem­patkan Yati di rumah kontra­kan sementara waktu sambil nunggu saungnya dibangun. ”Alhamdulillah sekarang saya sama ibu dan suami tinggal di rumah kontrakan, setelah pak kades meninjau ke sini,” bebernya.

Meski demikian, untuk pembangunan seperti dikatakan orang desa masih ter­kendala anggaran. ”Iya, kita masih menunggu anggaran tambahan buat melaksanakan pembangunan kata orang desa,” ungkap anak pertama, Yati, saat diwawancara war­tawan.

Putri pertama Yati mengaku sempat dimarahi orang desa karena memberitahukan kon­disi rumahnya tersebut ke orang lain, apalagi sampai ke media.

”Tapi abdi alim ah pak bilih nyeselan kepala desa, desa tadi oge ku anu damel di desa aya dongkap deui ka­dieu rada di ceramahan saa­lit abdi teh. (Tapi, saya nggak mau pak, takut menyusahkan kepala desa. Tadi orang desa datang ke sini, sambil dice­ramahin sedikit saya teh, red),” tuturnya. (nto/c/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *