1.000 Tes Swab di Pasar se-Kota Bogor, Baru Satu Pedagang Terpapar Covid-19

by -

METROPOLITAN.id – Meskipun jumlah kasus Covid-19 di Kota Bogor terus meningkat, rupanya kasus yang bersumber dari klaster pasar tradisional, terbilang sangat minim dan menjadi yang terendah dibanding yanglain. Hanya berkisar 1,5 persen.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, kasus positif tertinggi dari kasus Rumah Tangga dengan 31,9 persen, Luar Kota sebanyak 25,4 persen dan kasus Non-Klaster Ada 16,6 persen.

Diikuti kasus dari Fasilitas Kesehatan dengan 11,3 persen, kasus dari Perkantoran 5,3 persen, kasus dari Kegiatan Keagamaan sebanyak 4,3 persen, kemudian kasus dari Pusat Perbelanjaan dan Pertokoan sebanyak 2,78 persen dan terakhir Pasar Tradisional ada 1,5 persen.

Direktur Utama (Dirut) Perumda Pasar Pakuan Jaya, Muzakir mengatakan, minimnya kasus Covid-19 dari pasar tradisional bukan karena sedikitnya tes massal yang dilakukan. Tapi karena berbagai upaya yang dinilai efektif menekan angka kasus Covid-19 dari pasar tradisional.

Sebab, sambung dia, sejauh ini pihaknya sudah melakukan tes rapid di 12 pasar se-Kota Bogor, sebanyak 6.000 tes.

“Selain itu, sejauh ini sampai minggu kemarin, mungkin sudah 1.000 tes swab kami lakukan di 12 pasar di Kota Bogor. Selain pedagang, juga pengunjung dan mereka yang aktifitas di pasar,” katanya kepada Metropolitan.id.

Dari berbagai tes itu, kata dia, pedagang yang ditemukan positif Covid-19 hanya satu orang. Ketika itu pun langsung dilakukan penelusuran dan penyemprotan dengan disinfektan, pada blok yang dihuni pedagang yang terpapar. Pasien pun diharuskan isolasi.

“Waktu itu satu blok itu ya kita tutup total selama tiga hari. Lalu kita lakukan treatment sesuai prosedur. Setelah itu konsisten kita rapid dan swab lagi, hasilnya ya nggak ada,” ujarnya.

Ia mengakui, salah satu kesulitan dalam penerapan protokol kesehatan di dalam pasar yakni masih banyak pedagang yang kedapatan tidak memakai masker. Namun, bukan berarti pedagang tidak memiliki masker, tapi lebih kepada disiplin yang masih harus diingatkan.

“Makanya tiap dua jam kita turun, woro-woro ke pedagang. Pedagang sebetulnya bukan nggak punya masker, tapi kadang nggak dipakai dengan alasan pengap lah, itu yang dikeluhkan,” ujar Muzakir.

Selain itu, kata dia, minimnya kasus positif menimpa pedagang di pasar tradisional ditengarai karena kebijakan Pemkot Bogor yang justru ‘bersebrangan’ dengan kebijakan gubernur Jawa Barat.

“Waktu itu kan instruksinya pasar harus dibatasi. Nah kami Kota Bogor memandang itu beda, karena pasar harus dibuka seluas-luasnya. Misal di Pasar Bogor, akses yang biasanya ditutup, kita buka, supaya ada sirkulasi udara juga selain warga bisa banyak akses,” paparnya.

Sehingga, ia lebih menerapkan kebijakan pengetatan terhadap protokol kesehatan di pasar. Selalu turun untuk edukasi masyarakat dan pedagang di pasar. Hal itu juga, kata dia, mendapat dukungan dari pimpinan Pemkot Bogor. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *