Garap MA Salmun, PUPR Minta Duit Pemprov Rp60 Miliar

by -
FADLI/METROPOLITAN

METROPOLITAN – Pemerin­tah Kota (Pemkot) Bogor sudah mengajukan permohonan pembangunan revitalisasi je­mbatan MA Salmun ke pe­merintah pusat dan Pemerin­tah Provinsi Jawa Barat (Pem­prov Jabar).

Kabid Perencanaan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Bogor, Sultony Makmur, mengungkapkan besaran ang­garan yang diajukan Pemkot Bogor sebesar Rp60 miliar.

”Ini perkiraan sementara dari kami berdasarkan kajian dan hasil evaluasi lapangan yang kemarin sudah kami la­kukan. Jadi sekitar Rp60 mi­liar untuk perbaikan total konstruksi jembatan yang rusak,” kata Tony, sapaan akrab­nya, saat ditemui di kantor PUPR Kota Bogor, Kamis (24/9).

Sambil menunggu jawaban dari provinsi, Tony menerang­kan PUPR Kota Bogor akan menggunakan dana Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp950 juta. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk perbai­kan sementara.

”Kita juga sudah menyiapkan perbaikan sementara, angga­ran kita menggunakan BTT hampir Rp950 juta. Kita meng­gunakan anggaran ini, ber­hitung melalui bentangan jembatan 60 meter, lebar 10 meter,” jelas Tony.

Pengamat konstruksi dari UIKA, Purwanto, menilai rusaknya Jembatan MA Salmun dikarenakan adanya amoniak yang muncul dari sampah yang mengalir di bawah jembatan. Sehingga selimut beton yang ada di bagian bawah jembatan tergerus. ”Jadi amoniak ini muncul dari sampah dan lim­bah yang mengalir di sungai yang ada di MA Salmun,” kata Purwanto.

Kondisi Jembatan MA Salmun, menurut Purwanto, mirip ke­jadian di Waduk Jatiluhur. Di mana penyebab utama beton rusak diakibatkan adanya lim­bah yang mengandung amo­niak dan asam yang tinggi. Selain itu, struktur jembatan yang dibangun di era Suharto ini juga tidak sesuai kontur wilayah.

”Jadi yang rusak itu kan tiang-tiang yang ada di bawahnya. Nah, ini rusak akibat adanya tekanan dari bawah tanah yang bergerak. Karena pemilihan bentuk jembatan yang salah, maka tiang jembatan itu tidak mampu menahan tekanan, makanya retaklah semuanya,” jelas Purwanto.

Purwanto sendiri menilai dengan salahnya pemilihan bentuk jembatan maka umur jembatan yang seharusnya bisa bertahan hingga 50 tahun, maka hanya bertahan 35 tahun saja.

”Nah, yang menarik, bangu­nan jembatan saat dibangun Belanda pada 1928 malah masih awet. Saya pikir ini perlu kajian yang lebih men­dalam untuk bisa memper­baiki ini,” ungkapnya. (dil/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *