Puluhan Tahun Tinggal di Rutilahu, Sulastri Akrab dengan Banjir

by -

METROPOLITAN.id – Setiap hari Sulastri (28) dan keluarganya dihantui rasa was-was. Atap rumah tempat mereka berteduh nyaris ambruk. Bagian kerangka atapnya sudah mulai keropos dan langit-langit banyak yang bolong.

Sulastri bersama anak dan suami tinggal di rumah orangtuanya yang berada di Kampung Balong, Desa Bojonggede, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor. Rumah tersebut sebetulnya sudah tak layak huni.

Di sana ia juga harus berbagi tempat dengan keluarga kakaknya dan juga sang ibu.

“Jadi yang tinggal di sini ada 7 orang. Ini rumah orangtua saya, udah 30 tahunan lebih, sebelum saya lahir sudah ada,” kata Sulastri saat ditemui Metropolitan, Kamis (24/9).

Menurut Sulastri, rumah yang berada di pinggir sungai ini belum pernah diperbaiki.

Karena berada di pinggir sungai, otomatis rumahnya menjadi langganan banjir saat hujan deras tiba. Kadang rumahnya tergenang air hingga sebetis orang dewasa.

“Rumahnya bocor parah, tapi cuma ditambel-tambel aja. Mau betulin ke atas takut soalnya udah pada keropos. Temboknya juga udah miring karena keseringan banjir,” tuturnya.

Kondisi dapur dan kamar mandinya pun memprihatinkan. Kamar mandinya tak berpintu dan hanya menggunakan kain untuk penutupnya.

Selama ini, Sulastri hanya mengandalkan gaji dari suaminya, Muhammad Zaenal (30) yang bekerja sebagai buruh lepas di bengkel las. Penghasilan rata-rata per bulannya tak lebih dari Rp2 juta.

Terlebih, saat pandemi Covid-19 ini otomatis penghasilannya berkurang.

“Ngaruh banget. Beberapa bulan kemarin sempat dirumahin, gajinya paling cuma Rp 1 juta sebulan. Untungnya suami saya sambil nyupir juga,” tutur Sulastri.

Kini, ia mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk bisa merenovasi rumahnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Bojonggede, Marbawi mengatakan pihaknya memang sudah mendata rumah Sulastri untuk direnovasi.

Ia menjelaskan, ada 7 rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Desa Bojonggede yang akan direnovasi tahun ini.

“Untuk rumah Sulastri ini kita fokusnya yang di bagian atas, karena kerangka atapnya sudah keropos. Rencana akan kia pakai baja ringan,” tutur Marbawi.

Adapun anggaran yang diberikan untuk satu rumah sebesar Rp15 juta. Hingga saat ini, baru 4 unit rumah sudah dalam tahap pengerjaan renovasi.

Penentuan Rutilahu yang mendapat bantuan ini berasal dari usulan ketua RW setempat lalu dilakukan survei. “Yang masuk banyak tapi kita pilih sesuai skala prioritas,” tukas Marbawi. (Cr3/c/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *