Satpol PP nggak Kapok Terapkan Sanksi Konyol

by -
SANDIKA/METROPOLITAN

METROPOLITAN – Langkah Satpol PP Kabupa­ten Bogor yang menerapkan sanksi bagi pelanggar masker kembali disoal. Kali ini, anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Asep Wahyuwijaya, menyayang­kan penerapan sanksi borgol yang dilakukan Sat­pol PP di jalur Puncak, akhir pekan lalu.

Aksi memborgol pengendara yang tidak mengena­kan masker ini pun viral dan menjadi sorotan. Sanksi tersebut dianggap konyol dan berlebihan. ”Weleh, apalagi ini? Setelah masukin orang ke keranda, tendangin yang demo, sekarang memborgol yang tak bermasker? Jangan-jangan besok lusa yang dilakukannya adalah nyumpelin serbet ke mulut warga yg tak bermasker? Tak mesti begitulah membangun efek jera itu, sama sekali tak substantif dan tak menyelesaikan persoalan,” ungkapnya kepada Metropolitan, kemarin.­

Menurutnya, masih banyak cara lain yang lebih persuasif dan mendidik untuk menya­darkan warga tentang penting­nya mengenakan masker di tengah pandemi Covid-19. Misalnya dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman agar warga mengenakan mas­ker sambil membagikan mas­ker. ”Petugas juga bisa sambil memberi peringatan bahwa warga yang keluar rumah tanpa mengenakan masker bisa disanksi dan memba­hayakan orang lain. Cara be­gitu lebih elegan kan?” papar­nya.

Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPRD Jabar ini melanjutkan, dalam waktu dekat pihaknya bakal menggodok Raperda yang merevisi Perda sebelum­nya terkait ketertiban umum. Dalam Perda tersebut nantinya akan ada klausul sanksi pi­dana dan denda bagi yang tak bermasker di muka umum.

”Jadi soal borgol-memborgol oleh Satpol PP itu sabar dulu saja, Bapemperda DPRD Jabar baru kemarin berdiskusi dengan Biro Hukum. Nanti kita lihat apakah perda produk Pemprov Jabar ini akan menjadi payung hukum bagi kabupaten dan kota atau kita serahkan saja ke kota dan kabupaten untuk membuatnya sendiri. Meng­ingat otonomi daerah itu ada di Pemkab dan Pemkot. Dis­kursusnya masih berjalan,” terang pria yang akrab disapa AW itu. Sementara itu, Sekre­taris Satpol PP Kabupaten Bogor, Imam Budiana, men­jelaskan, sanksi borgol yang terjadi merupakan aksi spon­tanitas dan tak pernah diren­canakan sebelumnya. Ia pun meminta maaf atas nama lembaga jika ada keberatan. ”Itu tidak direncanakan. Hanya spontanitas anggota kami. Saya prihatin dan meminta maaf ada anggota yang melakukan itu,” kata Iman, Rabu (23/9).

Menurutnya, pelanggar mas­ker yang diborgol kenal dengan salah anggota Satpol PP yang kemudian menantang petugas untuk memborgolnya. Sebab, ia diberhentikan petugas ka­rena tidak memakai masker. ”Awalnya bercanda. Tapi di­tanggapi serius oleh anggota yang langsung meminjam borgol kepada aparat kepoli­sian yang ikut dalam operasi itu,” jelasnya.

Imam mengklaim sanksi borgol bisa dikategorikan se­bagai sanksi mendidik. ”Di Perbup itu ada sanksi teguran, sanksi sosial, sanksi yang ber­sifat mendidik dan sanksi ad­ministratif Rp100 ribu. Nah yang borgol itu masuk ke sanksi lainnya yang bersikap mendidik,” tandasnya.

Sebelumnya, seorang pengen­dara roda dua yang melintas di Jalan Raya Puncak, Kabupa­ten Bogor, meradang karena tidak terima tangannya dibor­gol saat razia masker, Sabtu (19/9). Ia melontarkan kekesa­lannya dan direkam kemudian viral. ”Nih yang korupsi gua diborgol, jangan yang gak pa­kai masker diborgol. Nih suruh sama bapak-bapak ini, ko­rupsi bisa dadah-dadah,” kata pria yang diketahui bernama Andi Albar tersebut. Tak hanya Andi, ada satu pelanggar lain­nya yang ikut diborgol. Dalam video yang beredar, pelanggar tersebut nampak pasrah saat disanksi demikian. (fin/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *