Warga Karangasem Barat Langganan Jadi Korban Banjir

by -
foto-yosan

METROPOLITAN – Empat tahun sudah Usman (41) dan warga lainnya di Kelurahan Karangasem Barat, Kecama­tan Citeureup, Kabupaten Bogor, menjadi korban banjir setiap musim hujan tiba. In­formasi yang dihimpun Met­ropolitan, terdapat tiga versi akibat banjir di wilayah itu. Seperti tak tersedianya lahan serapan air yang mengakibat­kan air meluap di saluran Kali Cibeber.

Banjir yang meluap hingga setinggi pinggang orang de­wasa itu juga diduga karena pendangkalan Kali Cibeber yang tersambung ke Kali Ci­kuda di Kelurahan Puspane­gara. Tak hanya itu, dugaan lainnya akibat berdirinya bangunan pabrik pengelo­laan limbah plastik.

Menurut Usman, kejadian itu sudah berlangsung lama. Ia sudah bertahun-tahun menjadi korban akibat ben­cana banjir itu. ”Setiap hujan, rumah yang saya tempati selalu banjir. Bahkan harus mengevakuasi barang elek­tronik. Karena kejadian ini sudah terjadi lebih dari tiga kali,” keluh Usman, kemarin.

Ia menyebut sebelum pabrik plastik melakukan pembangu­nan perluasan, masih ada rawa di wilayah sekitar untuk resapan air. Namun setelah perluasan pabrik, tidak ada lagi resapan air. Sebab, rawa di belakang pabrik itu sudah dibangun untuk perluasan pabrik.

Sebagai warga setempat, Usman mengaku sudah me­layangkan keluhan ke pihak pabrik, termasuk pemerintah setempat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor namun tidak digubris. ”Saya berharap adanya tindakan tegas. Karena kami ini korban, dan setiap tahun selalu men­jadi korban banjir,” terangnya.

Tak hanya itu, ia menduga pihak pabrik plastik tersebut membuang limbah plastik ke saluran air. ”Bau kalau malam hari. Airnya juga pekat hitam. Ini kan limbah. Tapi nggak ada respons dari pemerintah,” cetusnya.

Menyikapi hal itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Ke­siapsiagaan Badan Penang­gulangan Bencana Daerah (Kabid PK BPBD) Kabupaten Bogor, Dede Armansyah, men­jelaskan berdasarkan UU 24 Tahun 2007 tentang Penang­gulangan Bencana, hal terse­but menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah.

”Barusan saya koordinasi dengan Ketua Katana Karan­gasem Barat. Terkait infor­masi dari berdirinya pabrik itu salah. Bahwa terjadinya banjir benar, tapi penyebab­nya sama sekali bukan kera­na perusahaan plastik. Penye­babnya adalah Kali Cibeber yang tersambung ke Saluran Cikuda di Puspanegara men­galami pendangkalan dan sampah,” terangnya kepada Metropolitan.

Dede juga mengatakan, ber­hubung banjir ini sudah rutin terjadi, maka BPBD akan be­kerja sama dengan DPUPR untuk segera menangani pe­rihal masalah ini. ”BPBD dan DPUPR akan menangani masalah ini secepatnya,” je­lasnya.

Menyikapi adanya limbah yang dibuang ke aliran sung­ai, Kepala Seksi Penegakan Perundang-undangan Dinas Lingkungan Kabupaten Bogor, Dian Heru menyampaikan sesuai SOP harus ada penga­duan dari masyarakat atau pihak yang dirugikan di ling­kungan sekitar, termasuk disertai dokumentasi sebagai dasar untuk melakukan tinda­kan. ”Jika terbukti, akan ada sanksi secara bertahap sam­pai pencabutan izin lingkungan (UPL/UKL/AMDAL). Adapun pengaduan bisa disampaikan tertulis atau ngisi formulir pengaduan di seksi penga­duan,” pungkasnya. (yos/c/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *