Aku Berdosa Mencintai Kakak Ipar (3)

by -

Aku Berdosa Mencintai Kakak Ipar (3)

PEKERJAANKU bisa dikatakan mudah sebab aku sudah terbiasa di rumahku yang dulu, sejak kecil sampai dewasa aku me­mang dididik untuk disiplin bekerja.

Menjaga anak kecil usia dua tahun paling cuma menyiapkan susu dan makanan, atau kalau menangis cukup digendong atau di ayun. Yang paling berat adalah menyiapkan makanan untuk kak Dewi dan suaminya.

Aku tahu mereka pasti lapar sepulang kerja, jadi sebisa mungkin segala tetek bengek makanan sudah harus selesai se­jak maghrib.

Aku juga diberi uang bulanan yang cukup, bukan hanya oleh kak Dewi tapi juga kak Dody, mereka memang pasangan yang sangat baik. Jumlahnya lumayan untuk beli baju dan kosmetik.

Mereka bahkan bilang kalau aku boleh tetap tinggal di rumah mereka meskipun nanti aku sudah menikah. Rumah kak Dewi memang sangat luas dan sangat bisa ditinggali oleh dua keluarga.

Bencana menimpaku saat aku mema­suki bulan ke sepuluh di rumah kak Dewi. Saat itu suami kak Dewi kecelakaan, pem­baca yang di Jakarta pasti tahu kecelakaan yang dialami kak Dody karena beritanya sangat luas waktu itu.

Luka kak Dody termasuk parah karena kakinya patah sehingga dia harus istirahat total di rumah selama tiga bulan. Karena kak Dewi bekerja, maka akulah yang me­layani kak Dody di siang hari.

Semua kebutuhan kak Dody aku siapkan mulai dari makan, minum sampai mengan­tarnya ke toilet untuk buang air kecil. Kak Dewi memang wanita karir, ia baru tiba di rumah setelah malam tiba, bahkan terka­dang sampai pagi.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *