Asesmen Nasional Berlaku Mulai Maret 2020

by -

METROPOLITAN – Kemen­terian Pendidikan dan Ke­budayaan (Kemendikbud) memberikan penjelasan mengenai penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN) yang merupakan pengganti kelu­lusan peserta didik. Renca­nanya ini diterapkan pada Maret 2021.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Ke­mendikbud, Evy Mulyani, menuturkan, AN merupakan kebijakan pengganti Ujian Nasional (UN). Di mana para murid tidak akan die­valuasi secara individu, me­lainkan satuan pendidikan.

’’Potret layanan dan ki­nerja sekolah dari hasil Ases­men Nasional ini kemudian menjadi refleksi untuk mendorong perbaikan mu­tu pendidikan Indonesia. AN murni mengevaluasi mutu sistem pendidikan, bukan evaluasi atas pre­stasi murid sebagai individu. Hasil AN tidak memiliki konsekuensi sedikit pun pada murid yang menjadi pesertanya, berbeda dengan UN yang mengevaluasi mu­rid,’’ terangnya, Selasa (27/10).

Baca Juga  SDN Genteng Sambut Ruang Kelas Baru

Ia juga memberikan kete­rangan terkait perbedaan AN dan UN. Untuk UN yai­tu mengukur capaian hasil belajar kognitif individu peserta didik di akhir jenjang, sedangkan AN memotret input, proses dan output satuan pendidikan yang di­gunakan untuk mengeva­luasi kinerja satuan pendi­dikan.

’’AN ini dilaksanakan semua satuan pendidikan, namun tidak semua siswa. Pelaporan Asesmen Nasional diberikan kepada satuan pendidikan dan dinas pendidikan untuk perbaikan kualitas pembe­lajaran,’’ tambahnya.

Perbedaan lainnya dari sisi jenjang pendidikan yang dinilai, yakni UN hanya dila­kukan di tingkat SMP/MTs dan sederajat serta SMA/MA dan sederajat. Semen­tara AN akan dilakukan SD/MI dan sederajat, SMP/MTs dan sederajat, SMA/MA dan sederajat.

Peserta didik yang akan melaksanakan AN adalah mereka yang berada di kelas V, VIII dan XI. Di mana un­tuk UN hanya untuk tingkat terakhir. Subjek penilaian pun berbeda, di AN hanya akan diambil sampel murid untuk dinyatakan lulus, se­dangkan UN keseluruhan murid. ’’Model soal UN pi­lihan ganda dan isian sing­kat periode tes empat hari. AN pilihan ganda, isian singkat, pilihan ganda kemungkinan, menjodohkan, dan uraian dengan periode tes dua hari,’’ tambahnya.

Baca Juga  Kemendikbud Butuh Tenaga Sensor, Ini Syaratnya

Dia juga membicarakan mengenai pelaksanaan AN pada 2021 yang dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari mutu sekolah. Jadi, tidak ada konsekuensi dalam bentuk apa pun bagi sekolah dan murid.

Tujuan AN 2021 adalah agar pemerintah mendapatkan peta kualitas pendidikan yang nyata di lapangan un­tuk menjadi dasar upaya peningkatan kualitas pen­didikan yang kemudian akan diukur kembali melalui AN pada 2022.

’’Dengan begitu, sangat penting dipahami terutama oleh guru, kepala sekolah, murid dan orang tua bahwa AN untuk 2021 tidak me­merlukan persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersendiri,’’ terang Evy. (jp/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *