Berbagi Pengalaman Hadapi Covid, Jangan Panik Saat Orang Terdekatmu Positif

by -
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto bersama sang istri, Eva Marthiana Susmanto

METROPOLITAN.id – Positif Covid-19 bukan aib. Begitu pesan yang selalu disampaikan Eva Marthiana Susmanto. Ia berbagi kisah soal pengalamannnnya merespon dan menangani sang suami yang merupakan ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto, saat divonis positif Covid-19.

Ketua DPRD Kabupaten Bogor menjadi salah satu pejabat publik yang terpapar virus corona. Ia dinyatakan positif setelah hasil tes usap atau swab test keluar pada Jumat (25/10).

Secara terbuka, Rudy juga mengumumkan status positifnya lewat berbagai media sosial sesaat setelah dinyatakan positif.

Kabar tersebut memang cukup mengejutkan. Sebab saat itu, agenda DPRD Kabupaten Bogor sedang padat-padatnya membahas APBD Perubahan. Ketua DPRD selalu hadir dalam rapat-rapat yang dihadiri berbagai unsur di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor itu.

Demi kebaikan bersama, mengumumkan status positifnya secara cepat adalah langkah bijak untuk mengantisipasi penyebaran lebih luas.

Sang Istri, Eva Marthiana Susmanto, bercerita soal bagaimana hari-hari Ketua DPRD sebelum dinyatakan positif corona. Seminggu sebelumnya, sang suami sempat merasakan sakit badan dan pegal-pegal. Namun ia mengira hal itu terjadi karena telat jadwal bekam.

“Saya paksa buat bekam, tapi beliau menolak karena memang pada waktu itu sedang banyak kegiatan,” kata Eva saat menceritakan pengalamannya, belum lama ini.

Namun rupanya, demam menyusul usai sakit badan dan pegal-pegal. Saat itu, Selasa (22/9), sang suami memberi kabar kepada Eva tentang kondisi tubuhnya yang panas. Karena masih berada di luar rumah, sang suami hanya minum obat flu karena berpikir hanya flu dan batuk.

Akan tetapi, setibanya di rumah, sang suami meminta agar tidak tidur bersama anak-anak terlebih dulu. Ia memilih tidur di luar kamar.

“Pulang ke rumah suami saya sudah bilang jangan tidur sama anak-anak dulu. Jadi beliau tidur di luar kamar dan gelar kasur. Diukur suhu tubuhnya 37 derajat,” tuturnya.

Tak ingin menduga-duga, keesokan harinya sang suami langsung melakukan swab test. Usai swab, kondisi sang suami makin tak karuan. Lambungnya sakit seperti maag, disusul mual dan buang-buang air hingga sakit kepala.

“Sampai malam Kamis akhirnya minta perawat datang buat cek darah khawatir typus atau demam berdarah. Oh ya, dalam kondisi tak enak badan, ada baiknya dipaksa makan, walaupun tidak berselera. Lima suap cukup, yang penting makan,” sambungnya.

Malam itu juga, perawat mengambil sampel darah sang suami. Dua jam berselang, hasil pemeriksaan tak menunjukan adanya typus maupun demam berdarah. Trombositnya pun bagus dan angka oksigen dalam darahnya juga bagus.

“Cuma di situ saya sudah feeling kalau suami sepertinya positif covid. Suami pun sudah merasa juga,” ungkapnya.

Perasaan Eva tepat adanya. Jumat (25/10) siang, hasil swab keluar. Sang suami terkonfirmasi positif corona. Perempuan yang juga ketua Ikatan Kekeluargaan Istri dan Ibu Anggota Dewan (IKIAD) DPRD Kabupaten Bogor ini tak kaget.

Ia malah berucap kepada sang suami bahwa kondisi ini merupakan isyarat dari Allah agar beristirahat sejenak dari berbagai aktivitasnya.

“Saya nggak kaget waktu itu. Saya malah bilang ke suami nggak apa-apa ayah. Allah suruh ayah istirahat dari pekerjaan dulu. Isolasi mandiri. Ya mau gimana, ngadepin masalah apapun itu jangan panik dan heboh. Just relax,” ujar Eva.

Eva pun bergegas menyiapkan baju-baju untuk suami tercinta menjalani isolasi mandiri. Sebelum berangkat isolasi, ia masih sempat menyiapkan makan sore untuk sang suami.

Urusan anak-anak, Eva mencoba memberi pengertian. Syukurnya, anak-anaknya pengertian dengan kondisi sang ayah yang positif covid.

“Ayah kena covid ya bun? Iya nak. Nggak apa-apa insyaallah ayah bakalan sehat,” kata Eva menirukan percakapan dengan anak-anaknya.

Usai sang suami berangkat ke tempat isolasi, rumah Eva disemprot disinfektan, termasuk kamar mandi. Bekas alat mandi suami dibuang seperti sikat gigi dan sabun. Bajunya pun langsung dipisahkan saat mencuci, termasuk mengganti sprei dan perlengkapan tidur yang biasa digunakan khawatir virus bersarang.

Meski terbilang tegar, situasi seperti ini nyatanya berat dijalani Eva. Hari pertama sang suami isolasi, ia kerap menitikan air mata saat malam hari. Namun, ia tak pernah menceritakan hal itu sekalipun ke suaminya. Ia tak ingin menunjukan kesedihan sedikit pun.

“Hari pertama itu berat. Jujur saya sering nangis malam sendiri. Cuma saya nggak pernah tunjukan kesedihan saya di depan suami. Bahkan saya bohong ke beliau kalau anak-anak nggak kangen, mau ayah cepet sehat aja. Saya juga nggak pernah bilang kangen. Karena kalau saya jawab gitu pasti bakalan kepikiran suami saya. Selalu dijaga moodnya,” jelas Eva.

Eva juga menceritakan bagaimana sang suami menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Dalam sehari, suaminya bercerita jika ia harus mengonsumsi belasan butir obat. Jumlah itu belum termasuk probiotik, obat semprot hidung dan obat sakit tenggorokan.

Tak kalah penting, Eva membeberkan kunci jika ingin cepat sehat, yakni makan. Selama isolasi, sang suami harus banyak makan makanan bergizi secara rutin. Sang suami juga rutin berjemur saat pagi hari minimal 10 menit.

Eva juga tak pernah bosan menghibur sang suami saat isolasi. Bahkan dalam sehari, ia bisa lebih dari delapan kali melakukan panggilan video. Hal ini dilakukan untuk menghibur sang suami selama isolasi dan memastikan kondisinya berkembang dengan baik.

“Saya selalu hibur beliau. Kunci kamu bisa cepat sembuh itu jangan over, jangan pikirin yang nggak perlu dipikirin. Capek kalau begitu. Pokoknya dibikin happy aja. Pikiran mempengaruhi kesehatan itu betul banget. Ditambah istirahat yang teratur, tensi beliau bahkan jadi normal,” pesan Eva.

Selain obat, Eva membekali suami dengan barang-barang pribadi, alat tensi hingga oxymeter. Menurutnya, oxymeter menjadi salah satu barang penting di masa pandemi ini agar kita bisa mengetahui kadar oksigen dalam darah.

“Sampai pada akhirnya suami dinyatakan negatif dan pada saat kami sekeluarga di swab, rekan kerja juga alhamdulillah negatif semua. Suami lega banget. terus teman-teman yang waktu itu berkomunikasi dengan suami juga negatif. Alhamdulillah lega. sampai dua minggu berlalu saya nggak pernah putus komunikasi dengan dokternya,” tambahnya.

Menurut Eva, pengalamannya mungkin tak seberapa dibanding mereka yang juga berjuang melawan Covid-19 dengan lebih keras. Yang jelas, hal terpenting yang harus sama-sama dipahami adalah bahwa positif covid bukanlah aib. Jangan pernah menyembunyikan perihal covid demi kebaikan bersama.

Tak hanya itu, di tengah pandemi ini, ‘mendengarkan’ tubuh menjadi bagian penting. Tubuh akan memberi isyarat jika memang perlu istirahat.

Jika memang sakit lebih dari tiga hari, sebaiknya memeriksakan diri dan jika perlu langsung melakukan swab test. Karena jika dibiarkan, khawatir menjadi fatal akibatnya.

“Satu hal yang penting, covid bukan aib. Jangan kamu sembunyikan demi kebaikan kita bersama. Sampai saat ini, setiap teman yang OTG, suami selalu memberi support, saling menguatkan. Jangan malu untuk bertanya, jangan takut untuk swab, jangan takut jujur. Kita bisa lawan virus ini kalau kita mau saling support. Jangan lupa pake masker, jangan lupa jaga jarak, jangan lupa cuci tangan dan jangan lupa banyak dzikir,” imbuh Eva.

Pada akhirnya, Eva mengucap terima kasih kepaada Allah yang telah memberikan keluarganya kekuatan. Tentunya, ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam bentuk doa, perhatian, kiriman makanan dan lainnya.

“Terima kasih, semoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat. Jangan berhenti berjuang. We can fight this together,” tandas Eva. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *