Peran Penting Milenial Bogor Dalam Demokrasi

by -

METROPOLITAN.id – Pemilih pemula atau milenial pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilihan Umum (Pemilu) tahun lalu di Kabupaten Bogor, disebut mencapai 43 persen. Sehingga partisipasi milenial sangat penting dalam pemilu, mulai dari presiden, kepala daerah hingga anggota legislatif.

Hal itu terungkap dalam diskusi daring bertajuk ‘Demokrasi dan Milenial’, yang disiarkan langsung melalui akun Instagram @salsa_sfaaj, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada, Salsabila Fatimah Azzahra dan @ummi1182 Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor, Ummi Wahyuni.

Salsa, sapaan karibnya, merupakan Alumni program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (Kl-YES) Amerika Serikat, yang mulai mengkampanyekan pentingngnya peran milenial dalam pemilu.

“Indonesia saat ini butuh peran milenial dalam berdemokrasi. Anak muda yang sadar bahwa hari ini masanya kolaborasi. Zaman selalu bergerak dan rodanya saat ini ada dipundak milenial. Dengan begitu, pemuda dan pemudi yang kini dapat menentukan arah bangsa Indonesia kedepan,” katanya, Minggu (18/10).

Menurutnya, tanpa partisipasi dan kepedulian milenial akan sangat berbahaya. Pada masa perjuangan saja, pemuda pemudi turut berperan. Untuk masa sekarang, peran itu bisa dilakukan dengan melek demokrasi. Apalagi pemilih milenial di Indonesia jumlahnya cukup banyak.

“Kita tengah menjemput era dimana anak muda yang akan memimpin dan dipimpin. Anak muda itu sendiri yang tahu Indonesia seperti apa yang ingin kita perjuangkan,” ujarnya

Pada diskusi daring itu, Salsa juga menceritakan pengalaman saat pelaksanaan demokrasi di Amerika Serikat, sewaktu dirinya mengikuti program KI-YES yang bertepatan dengan Pemilu di negeri Paman Sam itu.

“Kebetulan saat ikut program Kl-YES, ada pemilihan mayor, governor, representatives, dan senates,” kata dia.

Secara umum Pemilu di USA konsep pemilihannya hampir sama dengan di Indonesia, yaitu secara langsung dipilih warga yang memiliki hak suara. Hanya saja, bedanya di Amerika pemilih tidak harus pergi ke TPS untuk meyampaikan hak suaranya, namun surat pilihnya dikirim melalui pos dan diantarkan ke rumah.

“Di Amerika kalau ingin berkirim surat tidak perlu ke kantor pos, cukup memasukkan suratnya ke mailbox yang ada di rumah masing-masing,” paparnya.

Pemilu di Indonesia hingga kini menggunakan konsep pemilihan secara langsung, baik tingkat wali kota/bupati, gubernur, legislatif hingga presiden. Sedangkan di Amerika, yang membedakan adalah pemilihan presiden.

“Dimana presiden dipilih secara tidak langsung melalui electoral college, yang pemilihnya disebut electors,” katanya.

Untuk pemilihan presiden ada dua jenis vote, popular vote yakni voting dari masyarakat secara langsung dan electoral college vote, yakni voting dari para electors.

Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Bogor. Ummi Wahyuni menuturkan bahwa pemilih millenial memiliki potensi yang besar dalam hal demokrasi di Indonesia. Pada Pemilu tahun 2019 saja, jumlah pemilih milenial yang masuk dalam DPT sebanyak 43 persen.

Maka, sambung dia, sangat penting untuk terus mengingatkan dan mengkampanyekan generasi milenial agar turut berpartisipasi dan menggunakan hak suaranya.

“Sebenarnya ini obrolan santai untuk teman-teman millennial, kita ambil tema demokrasi dan milenial. Kita bahas sejauh mana millenial memandang demokrasi,” tukasnya.

Meski tak ada kegiatan Pemilu di Kabupaten Bogor, KPU punya kewajiban untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat termasuk generasi milenial.
“Minggu depan kita mulai KPU goes to campus dalam bentuk webinar karena Covid-19,” pungkasnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *