Proyek Dimulai, Jamaah Masjid Agung Diungsikan

by -

METROPOLITAN – Kelanjutan pembangunan Masjid Agung sudah dimulai sejak awal Oktober. Untuk memperlancar proses pembangunan, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung mengeluarkan maklu­mat. Dalam Maklumat Nomor 18.B/ DKM-MA/S-C/X/2020 ini berisikan tiga poin.

Di antaranya berdasarkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) yang diterima kontraktor PT Alvarini Ge­milang, proyek dilakukan sejak 8 Oktober sampai 22 Desember atau 75 hari kerja. Lalu, pada Kamis (15/10) area masjid diminta dikosongkan mulai dari areal parkir untuk memperlancar pembangunan. ”Untuk kegiatan salat Rawatib dan salat Jumat dialihkan sementara mulai Senin (19/10) ke masjid di sekitar Jalan Dewi Sartika,” katanya.­

Begitulah bunyi Maklumat DKM Masjid Agung yang di­tandatangani dan dicap pen­gurus DKM Masjid Agung. Kasi Tata Bangunan dan Was­dal Bangunan pada PUPR Kota Bogor, Fitka Anggalarang, menjelaskan, pekerjaan ini hanya melakukan penguatan struktur bangunan. Sehingga anggaran yang digunakan untuk pembangunan rumah Tuhan ini hanya Rp8 miliar. ”Jadi, ini penguatan daya ge­ser (gempa) di side wall dan lantai dasar agar bisa diguna­kan untuk salat sementara dan parkir,” ujarnya.

Fitka menerangkan, untuk pekerjaan tahun depan baru bisa meliputi pembangunan bagian atap. Di mana sesuai rekomendasi PUPR Pusat ha­rus ada pembangunan kon­struksi baru di bagian atap. ”Kalau atapnya itu nanti ada struktur sendiri dan tidak di­topang bangunan yang ada. Tapi kita melihat anggaran juga ya, jadi belum bisa me­mastikan kapan ini selesai 100 persen. Yang pasti kita mau merapikan bagian bawah dulu,” katanya.

Terpisah, Pengamat Tata Kelola Kota dan Pembangunan dari Universitas Pakuan, Budi Arief, mengingatkan Pemkot Bogor agar memantau secara seksama pekerjaan rumah Tuhan ini. Jika berka­ca pada 2018, di mana terjadi kegagalan konstruksi, dise­babkan minimnya pengawa­san dan ditengarai ada kesa­lahan membaca siteplan dan DED, baik oleh pengembang atau pihak PUPR Kota Bogor. ”Kata kuncinya para pihak seperti perencana, kontraktor, pengawas dan pemda (PPK) harus mengawal betul. Me­reka harus mengawal kegia­tan pembangunan Masjid Agung ini,” ungkapnya.

Budi pun menyoroti terkait pemenang tender yang sama. Jika ada kesalahan dalam proses pekerjaan ini, maka diduga ada ”main-main” an­tara Pemkot Bogor dan pe­menang tender. ”Bila keliru maka ini perencanaannya yang tidak betul. Tapi ini masih perlu penyelidikan, bisa saja keliru juga kontraktor dalam membaca gambar pada pelaks­anaannya,” tandasnya.(dil/b/mam/py

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *