Remaja Cibinong Otaki Kerusuhan Demo UU Cilaka, Sambit Polisi pakai Batu dan Kaca

by -
Dery Ridwansah/ JawaPos.com

Penyelidikan kasus demo penolakan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja (UU Cilaka) yang berujung ricuh di Jakarta memasuki babak baru. Polri menangkap tujuh otak pelaku atau yang berperan mengajak dan menghasut melakukan tindakan anarkis dalam aksi tersebut. Satu di antaranya merupakan pelajar asal Bogor.

PELAJAR asal Bogor itu berinisial SN (17). Ia meru­pakan admin Instagram @panjang.umur.perlawanan. Di mana isi posting-an akun tersebut berupa ajakan dan aksi unjuk rasa.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menuturkan, SN diamankan di daerah Cibinong, Kabupa­ten Bogor. Ia berperan seba­gai provokator bagi para kelompok anarko.

”Konten medsosnya ini me­langgar UU ITE di akun IG. Dia admin di akun IG @pan­jang.umur.perlawanan akun­nya. Dia memprovokasi, men­ghasut, ujaran kebencian dan berita bohong di medsos untuk mengundang para anarko-anarko untuk mela­kukan kerusuhan. Selain tang­gal 8 Oktober dan 13 Oktober, besok (kemarin, red) dia juga mengajak lagi, sudah bikin lagi,” kata Yusri.

Bukan hanya SN, Polda Metro Jaya juga turut menang­kap dua orang lain terkait penolakan Omnibus Law yang berakhir ricuh ini. Keduanya adalah admin grup Facebook ’STM Se-Jabodetabek berini­sial MLAI (16) dan WH (16).

”Pertama mengamankan dua orang, khususnya yang (mengajak pelajar, red) STM ya. Dua orang ini karena di­temukan dalam grup Facebook bernama ’STM Se-Jabodetabek’ dengan followers-nya sekitar 20 ribu member,” ucapnya.

Yusri mengungkap peran kedua tersangka adalah ad­ministrator di grup Facebook­tersebut. Keduanya diduga memprovokasi untuk mela­kukan kericuhan saat demo. ”Kedua orang ini adalah ad­min dari grup itu,” imbuhnya.

Yusri juga menyebut ke­duanya adalah kelompok anarko. ”Yang kedua inisial­nya WH. Murid SMK juga, anarko juga. Umurnya 16 tahun juga. Tempat penang­kapannya di Cipinang, Jaktim, konten FB yang dia gunakan sama STM se-Jabodetabek, dia juga admin grup,”bebernya.

Yusri menambahkan, ke­duanya datang ke aksi demo pada Kamis dan Selasa (8- 13/10). Mereka disebut men­ghasut untuk melakukan kerusuhan. ”Inilah orang-orang yang datang tanggal 8 Oktober, tanggal 13 Oktober, diundang lagi untuk melaku­kan kerusuhan ya. Bukan (untuk demo, red), ini semua untuk melakukan kerusuhan, bukan demo, ini dihasut un­tuk kumpul melakukan ke­rusuhan,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Umum (Dir­tipidum) Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo menje­laskan total ada tujuh pelaku yang berhasil diamankan terkait penghasutan demo anarkis di Jakarta, yang ter­jadi beberapa waktu lalu. Ketujuh orang tersebut ke­dapatan mengajak melakukan tindakan anarkis dan peng­hasutan melalui WhatsApp Group (WAG).

Ferdy menyebut ketujuh tersangka itu ditangkap di tiga tempat berbeda. Ketujuh orang itu berstatus pelajar hingga pengangguran. ”Ada pelajar dan ada penganggu­ran. (Ditangkap, red) Tempat terpisah, Klender, Cipinang dan Bogor,”paparnya.

Ferdy mengatakan, penang­kapan ketujuh orang itu merupakan hasil peng­embangan dari para pelaku demo ricuh yang sudah di­tangkap terlebih dahulu. Ke­tujuhnya dikenakan pasal berlapis. ”Diterapkan pasal berlapis. Penangkapan ter­sebut atas pengembangan pelaku-pelaku yang ditangkap pada saat demo anarkis tang­gal 8 dan 13 Oktober,” ujarnya.

Terpisah, Kadiv Humas Ma­bes Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan, pelaku MLAI dan WH diamankan karena terbukti sebagai provokator bagi pelajar STM untuk ber­buat kerusuhan di demo UU Cipta Kerja. Mereka memin­ta para perusuh membawa batu-batu untuk digunakan menyerang petugas kepoli­sian.

Seruan tersebut disebarkan keduanya lewat akun Facebook STM Se-Jabodetabek yang memiliki anggota 21 ribu le­bih. Kedua tersangka itu di­ketahui bertindak sebagai admin di grup tersebut.

”Dia (polisi, red) aparat kea­manan negara, malah pakai buat lukain kita. Besok (hari ini, red) tanggal 20 (Oktober) jangan diam saja. Bawa batu yang tajam biar kerja malah mampus mereka,” kata Argo.

Namun, tambah Argo, para admin yang masih berusia remaja itu tidak menyarankan para perusuh membawa sen­jata tajam (sajam). Hal itu digunakan perusuh untuk menghindari razia para pe­tugas. Selain itu, Argo me­mastikan seruan-seruan dari grup tersebut bisa dip­astikan digunakan untuk berbuat rusuh. Sebab, para anggota di grup tersebut di­minta membawa barang-barang yang bisa digunakan untuk menyerang aparat.

”Kalau bawa sajam takut keciduk. Kita bawa batu yang tajam saja. Kaca kek, botol kek. Kalau nggak gir motor. Tapi jangan diikat, (tapi, red) lempar biar barbar,” ujar Argo membacakan bunyi se­ruan berbuat rusuh di grup Facebook STM Se-Jabodeta­bek.

Sedangkan untuk akun IG panjang.umur.perlawanan memang mayoritas isi posting-annya berupa ajakan dan aksi unjuk rasa. Di mana se­jak 5 Oktober, ketika UU Cip­taker disahkan, akun panjang. umur.perlawanan mem-pos­ting tagar Mosi Tidak Percaya. Kemudian mulai 6 Oktober, akun itu mem-posting ber­bagai aksi unjuk rasa menen­tang UU Ciptaker.

Mayoritas video yang di-posting mengandung unsur kekerasan. Tak hanya di Ja­karta, video aksi menentang UU Ciptaker dari sejumlah daerah seperti Sukabumi dan Banyuwangi pun turut di-posting.

”Sudahlah! Setop omong kosong. Suara kita diwakilkan kita sendiri lah yang berhak mewakili derita kita. Bukan diwakilkan. Sama-sama turun ke jalan menghancurkan fasis dan sistem ekonomi kapita­listik,” tulis akun panjang.umur. perlawanan dalam posting-an pada 18 Oktober 2020.

Kemudian pada 19 Oktober 2020, akun panjang.umur. perlawanan mem-posting video ajakan mobilisasi mas­sa dengan tema Pembang­kangan Sipil Berskala Besar (PSBB) pada 20 Oktober 2020. Isi video itu juga mengandung hinaan terhadap sejumlah menteri, seperti Airlangga Hartanto, Terawan dan insti­tusi negara seperti TNI, Pol­ri.

”Nasionalisme kita bukan sekadar merah putih atau lambang garuda, tapi mem­pertahankan demokrasi. Pe­merintah oligarki makan dari pajak kita. Ayo turun ke jalan,” bunyi video posting-an panjang.umur.perlawanan. (dtk/rep/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *