Rumah Dibongkar, Duit Kerahiman Belum Dibayar

by -
FADLI/METROPOLITAN

Sejumlah bidang tanah dan pembayaran uang kerahiman kepada masyarakat terdampak pembangunan double track di Kecamatan Bogor Selatan hingga saat ini belum juga rampung.

CAMAT Bogor Selatan, Hidayatulloh, mengungkapkan, untuk Kelurahan Batutulis, dari 300-an penerima ban­tuan uang kerahiman, baru 151 orang yang menerima pembayaran. Sedang­kan di Kelurahan Empang dari 802 penerima bantuan baru dibayarkan 60 orang.

”Kemarin itu Batutulis baru 151 dari 300-an, lalu Empang 802 bidang dan baru 60 yang dibebaskan. Jadi, kita usulkan ini agar bisa diaksele­rasi tahun ini,” terang Hidayatulloh kepada Metropolitan, Selasa (13/10).

Selain itu, Hidayatulloh juga menyinggung soal adanya wacana perubahan trase pembangunan double track di sekitaran Istana Batu­tulis. Menurutnya, kebera­daan Istana Batutulis yang merupakan bagian dari heri­tage Kota Bogor tak boleh diganggu gugat. ”Sampai hari ini belum ada komuni­kasi dengan kami. Tapi yang jelas kita bakal monitor dan koordinasi terkait trase itu,” jelasnya.

Informasi yang beredar, pembayaran uang kerahiman dan pembebasan lahan dou­ble track Bogor-Sukabumi terpaksa harus diundur ke 2021. Hal itu lantaran adanya pergeseran anggaran dari pemerintah pusat untuk penanganan Covid-19.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan jalur ganda lintas Bogor Suka­bumi, David Sudjito, men­jelaskan, masih ada 1.169 bidang tanah yang berada di Kelurahan Empang dan Batutulis yang belum dibay­arkan. ”Untuk pembayaran tahun ini digeser dulu ke penanganan Covid-19, tapi akan dianggarkan lagi tahun depan sebanyak Rp26 mi­liar,” ujarnya.

Baca Juga  Cara Ampuh Disiplinkan ANAK

David menjelaskan, uang tersebut sebagai pengganti uang pembongkaran, sewa rumah selama setahun dan mobilisasi barang-barang. Selain itu, apabila rumahnya dijadikan tempat usaha, me­reka juga akan mendapat biaya kehilangan pendapatan apabila rumahnya dijadikan tempat usaha.

Sementara itu, bagi warga yang sudah mendapatkan kompensasi mulai mengo­songkan tempat tinggal me­reka yang berdiri di sepanjang sepadan jalur KA Bogor-Su­kabumi. Sebagian lainnya ada yang membongkar rumahnya dan membawa bahan mate­rial yang bisa terpakai untuk dijual maupun digunakan kembali di tempat baru. ”In­tinya, kami akan menyele­saikan pembayaran ini ber­tahap. Mudah-mudahan tahun depan selesai semua,” ujarnya.

Terkait wacana pergeseran Stasiun Batutulis, David me­nerangkan ada kemungkinan kalau Stasiun Batutulis akan digeser. Sebab, kalau dilihat dari posisinya yang sekarang tidak memungkinkan jika pembangunan stasiun Batu­tulis dilakukan. Selain bentuk bangunannya terlalu kecil, lokasinya juga terbilang tidak strategis. ”Kemarin dalam kunjungan Dirjen menyam­paikan, Batutulis bagaimana kalau kita geser saja. Tapi bu­tuh kajian dulu,” kata David.

Baca Juga  Wandik Geram Oknum Guru Mesum di Toilet Musala

Namun jika melihat kon­disi yang ada, kemungkinan Stasiun Batutulis akan digeser dan berada di bawah Istana Batutulis. Sedangkan untuk konsep sementara, Stasiun Batutulis yang sekarang akan dijadikan lahan parkir lanta­ran lokasinya berada di ping­gir jalan. ”Itu nanti akan jadi halte, lokasi Batutulis kan berpotongan dengan jalan raya. Itu akan jadi akses par­kir dan akses ke stasiun,” ujar­nya.

Namun, sambung David, kalau masih membutuhkan lahan yang memadai saat ini ia tengah berkoordinasi dengan pihak konstruksi agar perpin­dahan stasiun dibangun di lokasi lahan milik PT KAI. ”Kalau dari situ, sudah ber­koordinasi dengan tim pener­tiban, kita akan sesuaikan lahan yang kita punya. Jadi mereka sudah mengetahui batas-batas lahan yang kita miliki,” jelasnya.

Menanggapi wacana per­pindahan Stasiun Batutulis, Bima Arya menolak wacana tersebut. Sebab, menurut Bima, Pemerintah Kota Bogor tidak mau menghilangkan esensi dari peninggalan seja­rah yang memiliki nilai his­toris dari Stasiun Batutulis. ”Saya nggak mau lah kalau dibongkar, itu kan ada nilai heritagenya,” ujarnya.

Tak hanya itu, Bima juga merasa belum ada pembica­raan atau pembahasan menge­nai pergeseran stasiun ber­sejarah milik Kota Bogor ini. Sehingga ia masih menunggu ajakan untuk membicarakan wacana ini dari pusat. ”Belum ada rencana sama sekali. Be­lum ada pembicaraan itu. Saya nggak maulah kalau dibong­kar, orang belum ada komu­nikasi,” tegasnya.

Baca Juga  Disdagin Kabupaten Kewalahan Geber Pembangunan Pasar Cisarua, Duit Rp35 M Pembangunan Baru 60 Persen

Alasan Bima Arya menolak ini sangat berbanding terba­lik dengan fakta yang ada. Padahal dalam APBD 2020 Kota Bogor tertuang angga­ran Feasibility Study Relo­kasi Stasiun KA Batutulis dengan pagu anggaran Rp289 juta yang dianggarkan di Di­nas Perhubungan.

Namun ketika dikonfirmasi, Kepala Dishub Kota Bogor, Eko Prabowo, mengakui ang­garan tersebut tidak berhasil digunakan karena terkena refocusing anggaran Covid-19. ”Itu kena refocusing dan gak mungkin dijalankan sekarang. Tapi kalau pusat mau geser, ya tahun depan kita siapkan kajiannya,” ujar Eko.

Pria yang akrab disapa Dan­jen ini juga menerangkan kalau kajian yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor ini menjadi penting, agar bisa menjadi nilai tawar ke Pemerintah Pusat.

”Jangan kita hanya menyerah. Kalaupun itu tidak digeser mungkin akan dijadikan mu­seum bersejarah, sesuai ke­inginan pak wali,” pungkasnya.(dil/c/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *