Ketahanan Pangan di Masa Pandemi dengan Urban Farming

by -

Oleh: Tjondroargo Tandio

Lahan pertanian di Kota Bo­gor semakin sempit dengan adanya pembangunan. Pada­hal produksi pangan dari sek­tor pertanian tergolong sangat dibutuhkan. Apalagi Indonesia sejak dulu terkenal sebagai negara agraris.

Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak bagi kese­hatan, tetapi juga berdampak pada hampir semua sektor dalam tatanan kehidupan ma­syarakat.

Salah satu sektor strategis yang terlihat sangat terdampak ada­lah ketahanan pangan yang berperan penting bagi kehidu­pan masyarakat. World Food Summit pada 1996 mendefi­nisikan ketahanan pangan sebagai kondisi saat semua orang memiliki akses fisik dan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi ma­kanan yang aman dan bergizi, serta dengan jumlah yang cu­kup demi menjalani hidup sehat dan aktif.

Masalah yang sering terjadi dalam ketahanan pangan ada­lah masalah rantai pasok pangan. Masyarakat kehilangan akses pangan yang tentunya mengancam kehidupan me­reka dan bahkan lebih jauh dapat menyebabkan krisis pangan baru.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah mengembangkan pertanian perkotaan atau bia­sa disebut urban farming, un­tuk membantu kebutuhan pangan Kota Bogor.

Program ini dikembangkan dengan beberapa pertimbangan, di antaranya memanfaatkan lahan marginal di sekitar rumah atau lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Sementara per­timbangan lainnya juga dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari seperti sayuran, buah dan peternakan.

Urban farming marak dila­kukan di kota-kota, dengan lahan pertanian yang sudah tidak memungkinkan lagi. Hal itu disadari warga, khususnya di masa pandemi saat mereka bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Berbagai pupuk instan pun mulai ba­nyak dijual secara online mau­pun offline. Hasilnya pun ada yang menjanjikan secara instan.

Baca Juga  Pemilihan RW Rasa Pemilu di Kampung Pabuaran Patut Ditiru

Di Kota Bogor maupun di Indonesia, generasi muda sudah jarang atau bahkan sedikit yang berminat mengembangkan pertanian. Saat masyarakat mengalami penurunan penghasilan di masa pandemi, banyak war­ga dan bahkan anak muda sudah mulai tertarik melaku­kan pertanian kecil-kecilan di rumah mereka.

Tentu saja ada yang melaku­kannya dengan serius, tetapi ada juga yang hanya sebagai hobi iseng tapi cukup mengha­silkan. Urban farming memang rata-rata tidak bertujuan luas untuk dijual karena awalnya hanya sebagai bentuk ketaha­nan pangan untuk kebutuhan rumah saja. Namun tidak jarang yang sudah berhasil bahkan sampai menjual secara luas.

Salah satu program pertanian di lahan sempit adalah hidro­ponik. Sistem pertanian ini pun awalnya bertujuan melatih masyarakat untuk memiliki minat terhadap pertanian yang dapat dilakukan di rumah. Namun saat ini banyak pengu­saha- pengusaha pertanian hidroponik di Kota Bogor yang cukup berhasil mengembang­kan usahanya.

Sejak pandemi Covid-19, urban farming kian booming. Bukan untuk membantu ke­tahanan pangan, tetapi dengan melakukan urban farming, orang bisa jadi lebih rileks dan menikmati bekerja bersama keluarga. Bukan hanya di In­donesia, tapi juga negara di Asean seperti Thailand dan Filipina.

Mereka yang hilang peker­jaan karena pandemi, kemu­dian mencari pekerjaan baru dan berkebun memiliki po­tensi yang besar. Di saat ini kondisi tanah pun makin se­dikit, sehingga sayuran makin mahal.

Jika diamati, sudah jelas ba­hwa pandemi menyebabkan penghasilan menurun, namun kebutuhan akan makanan malah makin meroket. Menga­pa demikian? Kebutuhan pro­duksi pangan pada 2050 dip­rediksi meningkat hingga 50 persen dibandingkan 2012, mengutip data Badan Pangan Dunia (FAO) pada 2018.

Baca Juga  RSUD CILEUNGSI BAKAL DIAKREDITASI

Saat itu akan ada 9,7 miliar mulut penduduk yang harus diberi makan. Sebanyak 68 persen di antaranya tinggal di perkotaan, sehingga diperlukan jumlah pangan yang sangat besar khususnya bagi masy­arakat konsumen perkotaan. Luasan lahan pertanian kon­vensional secara global terus tergerus. Ledakan jumlah pen­duduk membuat banyak lahan pertanian beralih fungsi men­jadi tempat permukiman. Hal ini jelas semakin menekan jumlah produksi pangan yang dihasilkan. Karena itu, perlu ada terobosan lain untuk pe­menuhan pangan masa depan.

Melihat dari hasil riset dalam sebuah jurnal Global Food Se­curity (September, 2019) menunjukkan, urban farming ini semakin menjanjikan, jika dilihat dari segi potensi pro­duksi global, pangan yang beragam, luasan lahan yang potensi dan jumlah praktisi yang terlibat.

Berbagai terobosan tekno­logi innovative urban farming seperti aeroponic, akuaponik, hidroponik, vertical farming, indoor farming dan precision farming semakin berkembang secara global. Gaya hidup baru berkebun urban skala hobi maupun rumahan untuk sub­sisten (pemenuhan kebutuhan sendiri) semakin marak. Apa­lagi di masa pandemi seperti saat ini.

Saat ini, bahkan di Kota Bogor, juga sedang dikembangkan Budi Daya Ikan Dalam Ember (Budikdamber), yang di atasnya dapat sekaligus dijadikan tem­pat untuk menanam kangkung. Teknik ini belakangan men­jadi populer di kalangan ma­syarakat. Dengan Budikdamber, seseorang dapat beternak lele dan menanam sayuran seka­ligus, meskipun di rumahnya tidak memiliki lahan yang luas. Dengan teknik ini, seseorang dapat beternak lele sekaligus menanam kangkong walaupun rumahnya tidak memiliki lahan yang luas. Tentu saja teknik ini pun dapat membantu men­jaga ketahanan pangan kelu­arga. Budikdamber ini meru­pakan sistem dalam teknologi pertanian akuaponik.

Baca Juga  Dinas Ketahanan Pangan Uji Hasil Poktan Pemuda Tani Naratas

Pada akhirnya, berbagai tan­tangan dan perkembangan yang dilakukan melalui program ketahanan pangan tentu ber­kaitan dengan upaya pemda dalam memberikan bantuan sosial dari segi pangan, khus­usnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kedua hal tersebut selain merupakan bentuk respons terhadap dampak pandemi, juga bertujuan melindungi masyarakat akibat kehilangan pekerjaan dan akibat kondisi ekonomi yang melemah. Salah satu hal yang penting untuk terus dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas dan sinkronisasi data yang efektif. Tujuannya agar bisa mewu­judkan jaring pengaman so­sial yang tepat sasaran dan berkeadilan, sehingga men­jaga daya beli masyarakat maupun membantu kebutuhan dasar masyarakat yang ter­kena dampak pandemi Co­vid-19.

BELAJAR DARI SELANDIA BARU

Dalam menjaga ketahanan pangan, Indonesia perlu belajar dengan Selandia Baru. Salah satu kunci kesuksesan keta­hanan pangan Selandia Baru adalah perhatian besar pe­merintahnya terhadap sistem pertanian, terutama untuk komoditas lokal. Indonesia dapat mengadopsi sistem ter­sebut dengan memberikan insentif bagi petani untuk me­ningkatkan produksi pangan serta memanfaatkan dana desa melalui program padat karya, juga menggencarkan gerakan beli hasil pangan pe­tani lokal.

Realokasi APBD pun dilaku­kan untuk memitigasi risiko penurunan ketahanan pangan. Selain itu, pemanfaatan lahan pekarangan dan strategi urban farming yang sedang marak dilakukan masyarakat sejak mereka harus stay at home, perlu lebih digencarkan kem­bali karena bisa menjadi salah satu solusi pangan mandiri keluarga.

Misalnya dengan membudi­dayakan sayuran dengan masa panen singkat seperti bayam merah dan kangkung yang bisa dipanen dalam kurun waktu tiga minggu.

Penulis merupakan Maha­siswa Program Doktoral IPB Program Studi Lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *