Kurangi Siswa Jadi Korban KDRT

by -

Keputusan pemerintah memperbolehkan kegiatan sekolah tatap muka pada 2021 mendapat apresiasi dari Ketua Fraksi Demokrat DPRD Provinsi Jawa Barat, Asep Wahyu Wijaya. Keputusan ini dinilai sebagai langkah tepat di tengah sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang menuai pro-kontra.

MENURUT pria yang akrab disapa Kang AW itu, banyak warga Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bogor yang mengeluhkan sistem PJJ ini. Keterbatasan fasilitas dalam menerapkan proses belajar hingga kemauan siswa untuk belajar saat di rumah, jadi persoalan yang menghiasi selama penerapan sistem PJJ.

Mirisnya, ia juga mendapat­kan laporan dampak dari Proses Kegiatan Belajar Menga­jar (PKBM) yang dilakukan secara dalam jaringan (daring). Ini memunculkan fenomena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami siswa (anak) oleh orang tua mereka.

Baca Juga  Istriku Kabur Dari Rumah Karena PIL (1)

”Saya dengar kejadian ini di salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Ini juga jadi kegelisahan pelajar. Ini feno­mena menarik. Pemerintah seharusnya bisa lebih cepat mengambil kebijakan terkait PJJ ini,” kata Kang AW.

Namun dengan keputusan pemerintah yang kembali mengizinkan proses PKBM dilakukan secara tatap muka tahun depan, ia mengapre­siasinya. Sebab, keputusan ini bisa mengurangi feno­mena KDRT yang dialami siswa.

Kang AW juga meyakini pro­ses PKBM dengan tatap mu­ka mampu menjawab kere­sahan wali murid selama penerapan PJJ. Sebab, kebu­tuhan kuota hingga gadget tak perlu dirisaukan lagi di tengah pandemi Covid-19 yang sudah menyulitkan masyara­kat banyak, khususnya bagi warga kalangan bawah.

Baca Juga  Ade Sarip Hidayat Kukuhkan Mabiran se-Kota Bogor

“Selama penerapan PJJ kan wali murid itu bukan hanya mikirin kuota. Mereka juga harus memikirkan gadgetnya. Setidaknya dengan proses belajar tatap muka, kedua hal ini tidak lagi memberatkan wali murid. Termasuk siswa yang malas belajar saat di rumah,” ujarnya.

“Soal keamanan siswa, kami yakin sekolah bisa menerap­kan protokol kesehatan dan siswa aman dari Covid-19. Bisa dengan cara kelas di­bagi dua, pagi misalkan 20 orang, siangnya 20 orang. Saya yakin itu bisa disiplin juga,” tandasnya.(yos/b/rez/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *