P2G Minta Guru Honor Direkrut Jadi PNS

by -

METROPOLITAN – Perhim­punan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) mendesak pemerin­tah membuka rekrutmen guru PNS bagi tenaga honorer pada 2021. Permintaan ini disam­paikan di tengah rencana Ke­menterian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal mengangkat guru hono­rer menjadi Pegawai Pemerin­tah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) hingga satu juta orang pada 2021.Koordinator Nasio­nal P2G, Satriwan Salim, me­minta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dan Men­teri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Biro­krasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo jangan hanya fokus pada rekrutmen PPPK. Sebab, status PPPK berarti ada masa kontrak tertentu yang sewaktu-waktu bisa dihentikan, se­hingga mengganggu fokus guru untuk mengajar.

”Kami memberikan apresia­si atas kebijakan Mas Nadiem yang akan membuka rekrutmen 1 juta guru PPPK pada 2021 dari guru honorer. Ini kebijakan yang baik, mengingat lima ta­hun ke depan sampai 2024, secara nasional kita memang kekurangan 1.312.799 juta guru,” katanya.

Namun, Satriawan menyebut, pada 2021 ada kekurangan 1.090.678 juta guru di Indone­sia. Sementara saat ini jumlah guru PNS di sekolah negeri hanya 1.236.112 juta orang. Sedangkan guru honorer se­banyak 742.459 orang. Artinya, di kondisi sekarang pun seko­lah negeri masih kekurangan guru.

Untuk itu, pihaknya memin­ta pemerintah pusat agar lo­wongan 1 juta guru tersebut tak hanya untuk menempati posisi guru PPPK. Berikan juga kesempatan guru honorer un­tuk menjadi PNS. ”Membuka lowongan guru honorer men­jadi Aparatur Sipil Negara (ASN) baik PNS maupun PPPK impian yang selama ini mereka dam­bakan. Kebijakan ini salah satu strategi nasional untuk memenuhi kebutuhan guru kita secara nasional,” terangnya.

Apalagi, sambung dia, kebe­radaan guru honorer sangat membantu pelayanan pendi­dikan terhadap anak-anak didik, sehingga proses pembe­lajaran tetap berlangsung. Di­tambah keberadaan guru ho­norer sangat vital dan strategis saat ini, memiliki tugas dan beban yang relatif sama. ”Ba­hkan terkadang lebih berat dibanding guru PNS, tapi pen­ghargaan yang diterima sang­at minim. Padahal, mereka sama-sama berjuang demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” terangnya.

Atas dasar itu, mantan Wa­sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) ini menam­bahkan, alangkah bijak bila guru honorer yang usianya di bawah 35 tahun diberikan ke­sempatan ikut tes CPNS. Se­dangkan di atas 35 tahun ikut seleksi PPPK.(jpnn/rez/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *