Pelajar Rentan Terpapar Virus Kesepian

by -

Delapan bulan sudah para pelajar dipaksa melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena adanya pandemi Covid-19. Ternyata tidak hanya virus corona yang menyerang para pelajar.

BERDASARKAN riset yang dilaku­kan Mental Health Foundation, pada dua pekan awal lockdown di­ketahui satu dari empat pelajar ter­papar ”Virus Kesepian” atau loneli­ness epidemic.

Doktor Psikologi Universitas IPB, Melly Latifah, mengungkapkan, me­rebaknya virus kesepian ini dikarena­kan adanya pembatasan interaksi sosial. Ini tentu saja bertolak belakang dengan sifat manusia yang selalu ingin melakukan interaksi sosial, ter­lebih di masa remaja yang sedang dalam masa senang-senangnya ber­teman.

Jika mengeneralisir riset yang dila­kukan Mental Health Foundation terhadap 162.493 pelajar di Kota Bo­gor, maka sekitar 40 ribuan pelajar mengalami gejala stres dan jenuh yang mendalam karena pandemi Covid-19.

Melly menjelaskan, jika virus kesepian dibiarkan, maka bisa menjadi penyakit mental yang cukup serius karena me­nyerang psikis para pelajar.

Baca Juga  Murid Sekolah Kita Lebih Tahu Atta Halilintar dan Fiki Naki Dibanding Tokoh Nasional

Menanggulangi virus kese­pian ini, peran serta orang tua sangat penting. Sebab, orang tua harus berupaya membangun hubungan dengan anak yang hangat, penuh cinta dan penerimaan. Hal ini akan akan membuat anak menjadi merasa nyaman be­rada di rumah, meskipun jauh dari teman.

”Mendukung anak mengembangkan minat dan bakatnya yang dapat dilakukan di rumah juga merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menghilangkan rasa kesepian anak,” kata Melly kepada Met­ropolitan, Senin (23/11).

Kabar akan diberlakukannya kembali sistem pembelajaran tatap muka, sambung Melly, juga bisa menjadi jawaban untuk menyudahi virus kese­pian di kalangan pelajar.

Namun, ia mengingatkan, jangan ada euforia berlebih dari pelajar dan itu harus dia­tasi para orang tua. ”Semua pihak harus tetap waspada dengan kondisi pandemi Co­vid-19 yang mungkin belum benar-benar hilang dari muka bumi ini. Perilaku normal baru perlu dibiasakan untuk mengantisipasi terpapar virus covid-19 ketika berinteraksi sosial secara langsung,” terang­nya.

Baca Juga  PRAMUKA MASIH JADI IDOLA DI SDN CIMANGGU KECIL

Terpisah, Dewan Pendidikan Kota Bogor, Deddy Djumiawan, menilai sudah banyak keluhan dari orang tua dan pelajar ter­kait kapan akan dimulainya kembali sekolah tatap muka, baik di media sosial ataupun secara langsung.

Untuk itu, dengan adanya surat edaran Menteri Pendi­dikan dan Kebudayaan yang memperbolehkan sekolah dibuka kembali awal tahun nanti, diharapkan bisa men­jadi jawaban dari keluhan-keluhan tersebut. ”Memang banyak orang tua dan pelajar yang mulai mengeluh karena jenuh ya. Beberapa tenaga pendidik pun begitu,” ungkap­nya.

Untuk memastikan diberla­kukannya protokol kesehatan di sekolah, Deddy mendorong Dinas Pendidikan Kota Bogor menyebar kuisioner yang be­risikan kelengkapan protokol kesehatan di sekolah.

Jika nanti ada sekolah yang tidak memiliki kelengkapan protokol kesehatan, Pemkot Bogor wajib membantu seko­lah tersebut.

Baca Juga  69.516 Pelajar Tangerang Sudah Divaksin

”Jumlah SD dan SMP kan banyak ya di Kota Bogor. Ka­rena waktu sudah mepet, ka­lau kita mau tinjau satu-satu pasti tidak cukup. Tapi kan kita tidak mungkin lepas tangan, jadi kita akan meminta disdik menyebar kuesioner untuk melaporkan kondisi terkini dan kesiapan mereka,” tegas­nya.

Selain itu, Deddy juga mendo­rong Satgas Pelajar, Satpol PP dan aparat terkait turut serta dalam pengawasan pasca pro­ses pembelajaran. Hal itu agar para pelajar yang sudah sele­sai belajar bisa langsung pulang. ”Jadi semua harus dipantau. Jangan ada yang nongkrong-nongkrong apalagi tawuran,” pungkasnya.(dil/b/mam/py)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *