PR Anak Numpuk, Wali Murid Suntuk

by -

METROPOLITAN – Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sistem Luar Jaringan (Luring) yang selama ini dila­kukan Dinas Pendidikan (Dis­dik) Kota Bogor dalam mem­berikan pembelajaran ke­pada siswa nampaknya kem­bali dikeluhkan wali murid. Mereka mengeluhkan Peker­jaan Rumah (PR) yang dibe­rikan guru terus menumpuk.

“Tujuannya sih bagus supaya anak bisa belajar serius, tapi guru kan nggak tahu kalau PR itu kami juga yang menger­jakan,” keluh ibunda Bian, wali murid di SDN Sindangs­ari, Bogor Utara.

“Lebih parah lagi kalau su­dah ada PR bahasa Sunda. Waduh, terpaksa saya harus minta tolong dikerjakan nen­eknya anak saya. Nggak pe­duli mau siang, malam hujan angin, terpaksa saya ke sana, walau saya harus menempuh jarak lebih dari 10 KM dari rumah saya,” sambung warga Ciluar, Kabupaten Bogor itu.

Baca Juga  SMPN 19 Tetap Jawara Paskibraka Kota Hujan

Menurutnya, soal Luring itu sudah dikoordinir Koordina­tor Kelas (Koorlas). Orang tua tinggal mengambil soal Luring itu di koorlas-nya masing-masing. Kalau sudah kumpul lalu koorlas-nya yang meny­erahkan ke sekolah dan pro­ses itu terus berjalan selama pandemi.

Akan tetapi ia menilai proses pembelajaran seperti ini patut dikaji ulang, dengan mem­pertimbangkan keseharian anak yang sudah bosan di rumah. “Guru-guru kan ting­gal memerintahkan saja ker­jakan halaman sekian sampai sekian. Sementara anak yang diberikan tugasnya mungkin karena sudah jenuh makanya mereka cuek saja.

Kami lah orang tua yang harus mengerjakan tugas itu. Mending kalau tugasnya gam­pang dan sedikit. Ini tugasnya banyak dan susah pula. Akhir­nya saya suka sakit kepala,” bebernya.

Baca Juga  Pelajar SMPN 4 Gondol Emas di ITMO India

Menanggapi hal itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya, me­minta warga khususnya wali murid tetap bersabar selama penerapan PJJ. “Kepada orang tua siswa harus tetap bersabar. Insya Allah pada 11 Januari 2021 kita buka belajar tatap muka lagi. Dinas Pendidikan saat ini sedang merancang program dan strategi agar siswa di Kota Bogor bisa kem­bali belajar dengan sistem tatap muka,” terangnya.“Kita akan lakukan pembelajaran tatap muka ini secara bertahap. Mulai dari SD, SMP hingga SMA/SMK. Untuk itu, para kepala sekolah harus mem­persiapkan protokol keseha­tan serta segala sesuatunya menyambut pelaksanaan pembelajaran tatap muka,” tandasnya. (ber/ar/rez/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *