Waduh! Minat Siswa Belajar Daring Menurun

by -
Avrilia Dina Savira (15), murid kelas 11 SMA Negeri I Citeureup saat belajar secara daring di Pos ronda Kampung Babakan, Desa Tarikolot, Kecamatan Coteureup, Kabupaten Bogor, karena kesulitan mendapatkan jaringan internet. Selain masalah jaringan, Avrilia harus merogoh kocek lebih untuk membeli kuota internet demi mengikuti kelas daring. (Foto: Hendi Novian for Metropolitan.id)

METROPOLITAN – Fede­rasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai tingkat minat belajar siswa menurun pada pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) fase dua yang dimulai awal semester kema­rin. Berdasarkan laporan, FSGI menemukan sejumlah daerah mengalami hal terse­but.

“Baik bagi pendidik maupun peserta didik, meskipun ada bantuan kuota internet dari Kemendikbud, jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran daring melalui aplikasi zoom ataupun google meet dari hari ke hari semakin menurun,” terang Presedium FSGI, Fah­mi Hatib, dalam keterangan­nya, Rabu (18/11).

Seperti yang terjadi di kawa­san Nusa Tenggara Barat (NTB), pada fase pertama saat belum ada bantuan kuota, keikutser­taan siswa mencapai 60 persen. Akan tetapi pada fase dua keikutsertaan menurun 20 persen. Turunnya semangat belajar peserta didik ini di­keluhkan beberapa guru SMP di Jakarta Timur dan Bekasi. Sebab, kelas tidak selalu penuh saat PJJ digelar. “Kalau saya memulai pembelajaran jam 8 pagi dengan menggunakan aplikasi google meet atau zoom meeting, siswa yang ikut hanya sekitar 20 orang dari 32 siswa. Ketika saya telepon yang ang­kat orang tuanya dan orang tuanya hanya mengatakan bahwa anaknya masih tidur,” ungkap salah seorang guru ASN di Jakarta kepada pengu­rus FSGI. Guru di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat turut menuturkan keluhannya. Apalagi tidak ada dorongan orang tua dalam mendukung anak saat PJJ. “Peran orang tua sangat besar untuk membangkitkan semangat belajar anak-anaknya, namun ternyata semangat orang tua­nya sendiri juga mulai menu­run,” terangnya.

Baca Juga  Pemkot Bogor Batal Anggarkan Dana Bantuan Internet Gratis, Tapi...

Sementara itu, Wakil Sekjen FSGI, Mansur, menambahkan, di saat orang tua dan anak tidak memiliki semangat un­tuk PJJ, maka Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menjadi satu keniscayaan. PTM harus menjadi alternatif mengatasi kejenuhan dan masalah psi­kologis peserta didik, termasuk pendidik. “Oleh karena itu, FSGI mendorong pembelaja­ran campuran dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 dengan ca­tatan sekolah siap, guru dan para siswa juga siap mema­suki Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di satuan pendidikan dengan mematuhi protokol kesehatan atau AKB,” ujarnya. (jp/rez/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *