Warga Bogor Otaki Pembunuhan Sadis!!! Cinta Terhalang, Dua Nyawa Melayang

by -

Kasus pembunuhan sadis yang dilakukan Juanda terhadap kakak kandungnya, Dendi, menemui titik terang. Polisi berhasil mengamankan pelaku di tempat persembunyiannya di Gunung Pongkor, tepatnya di daerah Sidempok, Gunung Dahu, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, kemarin

Pelaku yang diketahui mer­upakan warga Bogor itu dia­mankan lantaran tega mem­bunuh dan mengubur mayat Dendi dalam rumah kontra­kannya di Sawangan, Depok. Pelaku melancarkan aksinya dibantu temannya, Hoer, warga Jakarta.

Tak hanya Dendi, kedua pelaku juga ternyata mem­bunuh MS (45) yang kebetu­lan sempat dilaporkan men­ghilang oleh warga sekitar, yang tak jauh dari lokasi penangkapan Juanda. Mayat MS yang juga dikubur pelaku di area hutan Gunung Pong­kor, tepatnya di wilayah RT 01/08, Desa Bantarkaret, itu diketahui masih kerabat pelaku dan Dendi.

Informasi yang dihimpun, saat ditangkap, Juanda tidak memberi perlawanan. Pria yang diketahui masih berumur belasan itu pun mengakui perbuatannya. Bahkan, dalam keadaan diborgol, pelaku menunjukkan lokasi tempat penguburan korban MS.

Kepala Desa Bantarkaret Khotib, yang ikut mendampingi penangkapan Juanda, mem­benarkan adanya kejadian tersebut. ”Kamis (19/11) sore pelaku berhasil diringkus, bekerja sama dengan Mus­pika Nanggung dan Tim Polda Jabar,” kata Khotib ke­pada Metropolitan.

Dari hasil interogasi pihak kepolisian, ia menyebut bahwa pelaku mengakui telah mem­bunuh kakak kandungnya, Dendi, dan kerabatnya, MS. ”Yang di Depok itu kakak kandungnya. Yang di sini (Nanggung, red) temannya. Informasi ini penuturan dari pelaku setelah ditangkap,” bebernya.

Sementara itu, jelas Khotib, pelaku Juanda ditangkap se­telah rekannya, Hoer, diring­kus terlebih dulu. ”Jadi Ju­anda ini melakukan aksi pembunuhan tidak sendiri tapi berdua dengan Hoer, te­mannya dari Jakarta,” terang­nya.

Dari hasil keterangan pela­ku, diketahui bahwa korban MS yang ditemukan di kebun Desa Bantarkaret itu sudah dikubur sejak dua bulan lalu. Namun, dengan adanya ke­jadian di Depok, informasi hilangnya MS berhasil terung­kap dari penjelasan Juanda. ”Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Adapun Juanda ini berkisar berusia 18 tahun,” ujarnya.

Soal motif pembunuhan tersebut, Khotib mengaku tidak mengetahui pasti. Namun, pelaku Juanda dike­tahui sempat meminjam mo­tor MS. “Untuk motif pem­bunuhannya saya belum tahu secara pasti. Ya mungkin karena faktor ekonomi. Ka­rena pelaku ini kesehariannya hanya berjualan cilok,”tuturnya.

Ia menjelaskan motif Ju­anda membunuh kakaknya kemungkinan besar lantaran pelaku tidak ingin aksinya membunuh di Nanggung di­ketahui kakaknya. ”Kemun­gkinan karena takut ketahuan saudaranya, akhirnya kakaknya dihabisi kedua pelaku di Kota Depok,”paparnya.

Terpisah, Kapolrestro Depok Kombes Pol Azis Andrian­syah menjelaskan pembunu­han yang terjadi di rumah kontrakan di Gang Kopral Daman, Sawangan, Depok, adalah pembunuhan beren­cana. Korban adalah Dendi. Sedangkan pelaku adalah Juan yang merupakan adik korban.

”Dari identitas yang dite­mukan di rumah kontrakan tadi, kita telusuri ternyata korban memang hidup bia­sanya bersama adiknya. Te­tapi pada saat korban dite­mukan dikubur atau dima­kamkan di dalam kontrakan, si adik tidak ada di tempat,”jelasnya, kemarin.

Polisi pun melakukan pen­dalaman atas kasus tersebut. Polisi mencurigai Juandaikut terlibat. Benar saja ketika di­dalami, Juanda pun mengakui perbuatannya. ”Kemudian kita fokus untuk mengejar adik korban. Benar saja setelah dilakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi kediamannya di daerah Bogor, Gunung Pongkor, si adik tersebut kita tangkap, kita amankan,” pa­parnya.

Juanda menghabisi nyawa kakaknya menggunakan ta­bung gas melon. Ia memukul kepala korban hingga terkapar. Tak hanya di kepala, Juanda juga memukul korban di dada. Pemicunya karena Ju­anda merasa kesal terhadap kakaknya. ”Adapun alasan dari si adik ini membunuh kakaknya karena cekcok atau pertengkaran berkaitan dengan rencana pernikahan,” beber­nya.

Juanda mengaku niatnya menikah terhalang kakaknya. Sebab, ia tidak ingin melang­kahi kakaknya. ”Tetapi si adiknya ingin segera nikah namun tidak bisa nikah se­belum kakaknya nikah. Ke­tika si adik ini mengejar ka­kaknya untuk segera menikah, kakaknya tersinggung dan sering marah semenjak dua bulan terakhir,” tambahnya.

Namun, keterangan itu ma­sih akan terus didalami. ”Te­tapi akan kita dalami lebih lanjut setelah melakukan pemeriksaan lebih dalam lagi,” pungkasnya. (mer/yos/ dil/d/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *