Awas Pilkades Jadi Klaster Covid-19, Bogor Rawan Tinggi Penularan

by -

METROPOLITAN.id – Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum mewanti-wanti agar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak, khusunya di Kabupaten Bogor, tak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Pesan tersebut bukan tanpa alasa. Uu menyebut Kabupaten Bogor menjadi wilayah rawab tinggi penyebaran virus corona.

Untuk itu, Uu meminta pelaksanaan Pilkades Serentak tetap menerapkan protokol kesehatan ketat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Harapan kami pilkades dilaksanakan aman, damai dan sehat. Mudah-midahan bisa terlaksana sehingga saat pilkades selesai tidak ada klaster baru. Apalagi yg namanya Bogor menjadi langganan resiko tinggi dari awal sampai sekarang,” kata Uu saat meninjau Pilkades Kabupaten Bogor di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Minggu (20/12).

Baca Juga  Kisah Tragis Korban Tragedi Maut Di Cigudeg Tergencet Badan Truk, Anak dan Ibu Saling Berpelukan

Menurutnya, pelaksanaan pilkades menjadi tanggung jawab bersama. Semua elemen harus menjaga agar pelaksanaannya berjalan dengan baik dan sehat.

“Pilkades tanggung jawab bersama. Walaupun hierarki pemerintahannya menjadi tanggung jawab Bupati, tapi kita sebagai Pemprov Jabar ikut memiliki tanggung jawab. Karena Kabupaten Bogor masuk Jabar,” ungkapnya.

Sebelumnya, saat melakukan peninjauan, secara kasat mata Uu melihat protokol kesehatan sudah dilaksanakan dengan baik. Pemilih menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) saat masuk ke TPS.

“Aparat seperti TNI juga menekankan pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak, selalu disampaikan. Karena kalau tidak disampaikan kadang-kadang lupa,” terang Uu.

Masyarakat yang datang untuk menyalurkan hak pilihnya juga tak lagi bergerombol seperti Pilkades sebelumnya. Akibatnya, suasana TPS cenderung sepi. Bahkan, tak ada tukang dagang di area pencoblosan.

Baca Juga  Pilkades Serentak, Satu Desa Rata-rata Dijatah Rp80 Juta

“Yang datang juga tidak bergerombol seperti tahun-tahun sebelumnya. Di atur jadwalnya. Tetapi tidak ada tukang dagang, jadi ekonomi tidak bangkit kalau seperti ini, tidak ramai, tidak menjadi pesta demokrasi yang biasanya ramai. Biasanya banyak pedagang dan lainnya. Tetapi memang kali ini berbeda karena pandemi,” tandasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *