Bima Arya Cari Hotel Lagi untuk Pasien OTG

by -
Wali Kota Bogor Bima Arya

METROPOLITAN – Kota Bogor resmi melakukan Penerapan Pemba­tasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per Senin (11/1) hingga Senin (25/1). Berbagai pembatasan kembali dip­erketat setelah kasus Covid-19 di Kota Bogor terus melonjak. Bahkan hingga Minggu (10/1) sudah menem­bus 6.136 kasus.

“Kasus Covid-19 di Kota Bogor ma­sih jauh dari aman terkendali. Per hari ini muncul 70 kasus, ICU 100 (bed) penuh, fasilitas isolasi sudah 82 persen penuh. Itu jauh dari standar WHO,” kata Wali Kota Bogor, Bima Arya, Senin (11/1).

Bima Arya menegaskan, saat ini Pemkot Bogor tengah memperkuat pembangunan dan pemanfaatan Ru­mah Sakit (RS) Lapangan di kawasan GOR Pajajaran. Ia bahkan menyebut banyak pasien Covid-19 yang meninggal lantaran hanya bisa dirawat mandiri di rumah masing-masing.

Selain RS Lapangan, pihaknya juga mengupayakan hotel di Kota Bogor untuk jadi fasilitas perawatan pasien Covid-19 berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG). Namun itu bukan perkara mudah. Sebab, Bima mengakui masih ada ketakutan hotel-hotel bila nanti jadi pusat isolasi pasien Covid-19.

Baca Juga  Resmi! Kota Bogor Terapkan Kebijakan Tanpa Kantong Plastik di Pasar Tradisional

“Kita upayakan satu hotel untuk OTG. Tapi kendalanya, hotel banyak yang mundur. Sudah ada tiga (hotel) mengaju­kan, tapi akhirnya mundur lagi. Pertimbangannya soal keamanan hingga soal imejnya. Takut imejnya jelek setelah nanti Covid-19 berakhir ka­rena pernah dipakai pasien Covid-19,” tegasnya.

Ia menegaskan, hal itu men­jadi kewajiban Pemkot Bogor dalam mengupayakan kebija­kan tersebut. Bahkan, ia tak segan-segan memberikan re­ward atau kompensasi pada hotel yang mau dijadikan fasi­litas untuk OTG.

“Itu tugas pemkot. Ya kalau perlu, kalau takut imej-nya turun, harusnya bisa lah nan­ti (kompensasinya) pemkot kalau ada rapat-rapat ya di hotel yang mau (jadi fasilitas OTG) itu,” ujar Bima Arya.

Rupanya tidak sembarang hotel bisa dijadikan sebagai pusat isolasi. Ketua Badan Him­punan Cabang (BPC) Persa­tuan Hotel Seluruh Indonesia (PHRI), dr Yuno Abeta Lahay, mengatakan, sejauh ini belum ada kepastian tentang kebijakan menggunakan satu hotel di Kota Bogor untuk pusat iso­lasi. “Hanya syaratnya seperti apa, kita belum dapat update-nya. Kita nanti akan ketemu pak wali dulu untuk memasti­kan semua teknisnya,” katanya kepada Metropolitan, belum lama ini.

Baca Juga  Sekjen PAN Buka Pintu buat Bima Arya Maju Pilkada DKI

Sehingga ia belum bisa mem­bayangkan hotel seperti apa yang bisa diproyeksikan jadi pusat isolasi, seperti berapa jumlah kamar yang dibutuhkan. Hanya saja syarat kamar hotel jadi pusat isolasi pasien Covid-19 sejatinya bakal punya syarat yang sama dengan syarat bagi ruang isolasi mandiri sesuai aturan yang ada. “Memang syaratnya seperti apa, kita belum dapat update. Termasuk jumlah (kamar)-nya berapa (yang di­butuhkan). Kalau anggaran dari yang kita baca, itu dari pemerintah pusat ya,” tuturnya.

Memang, sambung Yuno, tidak sembarang hotel bisa dijadikan pusat isolasi. Secara umum ada syarat untuk ruang isolasi mandiri yang harus di­sesuaikan dengan kamar hotel bila kebijakan ini diterapkan. Di antaranya beberapa syarat ruang isolasi mandiri misalnya kamar hotel tidak mengguna­kan AC central, lalu idealnya 1 kamar untuk 1 orang. “Tapi kalau kamar luas, bisa dua orang per kamar dengan jarak per bed itu dua meter,” jelasnya.

Baca Juga  Bima Arya hingga Bos Tirta Pakuan Ikut Donor Plasma Konvalesen

Selain itu, sambung dia, ven­tilasi dan air flow kamar harus baik, lalu pengolahan limbah infeksius, yakni bekas masker, APD dan lainnya, dimasukkan kantong dalam kuning dan pengolahan bekerja sama dengan pihak ketiga. “Selalu desinfeksi ruangan, makan menggunakan bok, laundry harus desinfeksi. Jadi, kurang lebih kudu memenuhi syarat itu,” ungkapnya. (ryn/mam/ py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.